Hijria New Year 1439

Intelijen CIA Memprediksi Kehancuran Bangsa Israel.

Edited Jul 27,2016 07:26

Intelijen CIA Memprediksi Kehancuran Bangsa Israel.

New York – Suarapalestina - Sejumlah situs berita  online di Amerika Serikat melansir bocoran dari laporan badan intelijen Amerika (CIA) terkait dengan masa depan Israel.

Laporan  rahasia yang berhasil dibocorkan ke publik  tersebut memprediksi bahwa negara Israel  tidak akan survive (bertahan) lagi  setelah 20 tahun mendatang.

Laporan intelijen ini memprediksi bahwa upaya untuk menuju dua negara (Israel-Palestina) tidak akan bisa terwujud. Sebagai gantinya, akan lahir satu negara demokratis yang tidak memandang perbedaan suku dan ras.

Alasan lain sulitnya mewujudkan perdamaian Israel-Palestina, adalah pengungsi Palestina tahun 1947/1948 dan 1967 yang berjumlah jutaan itu tentu saja masih berkeinginan untuk kembali ke tanah air mereka.

Jika pengungsi Palestina kembali ke negeri asalnya, maka akan mempengaruhi stabilitas di kawasan, dan dengan sendirinya akan mendorong sekitar 2 juta warga Israel untuk kembali ke Amerika Serikat dalam rentang 15 tahun yang akan datang.

Menurut data, sekitar 500 ribu warga Israel yang masih memiliki kewarganegaraan Amerika. 300 ribu di antaranya berdomisili  di wilayah California Amerika. Sisanya akan berusaha untuk mendapatkan identitas kewarganegaraan ganda baik di Amerika ataupun di Rusia.

Tentu saja fakta ini akan menjadi masalah baru bagi kedua negara tersebut menurut analisa Dr. Franklin Lamb saat diwawancarai oleh stasiun  televisi Press.

Lamb menambahkan, tidak mudah bagi Amerika menerima kenyataan ini. Sebab Amerika tidak akan melawan sejarah dengan kembali mendukung rasisme seperti di masa lalu.

Selain ke Amerika, laporan CIA tersebut juga memprediksi bahwa sekitar 1,5 juta jiwa warga Israel akan berusaha  kembali ke Rusia dan negara-negara Eropa lainnya.

Prediksi CIA tentang kehancuran Israel tidak mengada-ada. Terbukti sebelumya CIA pernah memprediksi kehancuran Uni Soviet di awal tahun 1990-an,  dan pemerintah Afrika Selatan yang saat itu mendukung rasisme.

Laporan ini sudah diketahui sejumlah anggota kongres Amerika Serikat.

leave a reply