Zaitun Palestina terancam punah akibat penggusuran, pembakaran

BY Rizky SyahputraEdited Mon,31 Oct 2016,07:34 AM

Zaitun Palestina diambang kepunahan akibat penggusuran dan pembakaran

Gaza-SP-Palestina adalah sebuah wilayah yang terletak antara Laut Tengah dan Sungai Yordan. Terletak di lokasi yang strategis, di antara Mesir, Suriah dan Jazirah Arab, serta mengalami empat musm setiap tahunnya (musim dingin, musim panas, musimsemi dan musim gugur), menjadikan wilayah ini subur dan kaya akan sumber daya alam, khususnya dari sektor pertanian.

Foto-foto aktifitas petani Gaza panen Zaitun:

http://suarapalestina.com/in/?action=showalbum&aid=109

video panen hingga pengolahan minyak Zaitun: https://youtu.be/MIWtxTe-3Ps

Dan Gaza adalah sebuah wiayah penting di Palestina. Di dalamnya hidup berbagai elemen masyarakat dengan aktifitas yang berbeda. Diantara mereka ada yang berprofesi sebagai pegawai pemerintah, guru, pedagang (tijaroh), buruh bangunan, pejabat publik, petani dan nelayan.  Hal ini menjadikan banyak orang berpendapat bahwa kehidupan di Gaza sangat sejahtera. Sayangnya, pendapat ini sangatlah keliru.

Bulan Okrober 2016, populasi Gaza tepat mencapai 2 juta jiwa. Tergolong sebagai salah satu wilayah terpadat di dunia, karena luas wayahnya yang tidak sebanding dengan jumlah penduduknya. Dengan luas 367 Km persegi, Gaza dihuni oleh 2 juta jiwa penduduk, dimana 73% dari mereka adalah pengangguran akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan. Pusat Statistik Palestina menyebutkan bahwa 59% dari penduduk Gaza kehilangan tempat tinggal akibat perang 2014. Bahkan, hingga saat ini Gaza masih berada di bawah blokade Israel. Terlihat aman, namun kesengsaraan dan kemisknan laksana kanker yang menggergoti nadi dan darah.

Pembunuhan dan pengusiran masih terus dialami oleh rakyat Palestina setiap harinya. Namun dunia seolah cuek. Hal ini tidak lepas dari kenyataan bahwa media dikuasai oleh Yahudi dan antek-anteknya. Begitu beratnya penderitaan rakyat Palestina, hingga dalam urusan safar atau bepergian keluar dari Gaza saja mereka harus menunggu betahun-tahun, baik bepergian untuk urusan dagang, menunut ilmu atau berobat bagi pasien. Gaza pun menjadi penjara terbesar di dunia.

Dengan anugerah kesuburan tanah, Gaza menghasilkan berberbagai jenis buah-buahan dan sayur-mayur yang menjadi sumber mata pencaharian bagi para petani di wilayah Gaza. Kurma, strawberry, jagung, kacang-kancangan, dan zaitun adalah sebagian dari hasil pertanian di Gaza.

Bercocok tanam khususnya zaitun dan kurma adalah salah satu mata pencaharian para petani di Gaza. Tanaman ini istimewa, karena dapat bertahan lama hingga 100 tahun. Khusunya  zaitun, selain dapat bertahan hidup 100 tahun, kualitas dan kuantitas buahnya semakin meningkat seiring bertambahnya ketinggian pohon. Palestina adalah penghasil zaitun kualitas terbaik di Jazirah Arab.

Masyhur dikalangan penduduk Palestina menyebut minyak zaitun sebagai Emas Cair. Hal ini karena banyaknya fungsi dan manfaat yang terkandung di dalamnya. Selain dikonsumsi sebagai campuran dalam makanan seperti salad, minyak zatunpun juga dikonsumsi sebagai obat, bahan kosmetik, dll.

Sebagian besar tanah Palestina dipenuhi oleh pohon zaitun yang  tinggi dan rimbun dengan usia telah mencapai 100 tahun lebih. Sayangnya, sebagian besar dari tanaman zaitun di Palestina menjadi sasaran kebiadaban kaum Yahudi. Seringkali dengan tanpa sebab, mereka menggusur puluhan ribu hektar pohon zaitun milik petani Palestina, seperti di Tepi Barat, Jerusalem, Betlehem, Naqob dan wilayah Palestina yang terjajah sejak tahun 1948 serta tanah Perjanjian 1967.

Demikian pula di Gaza. Pada tahun 2000an, sepanjang wilayah Gaza dari Selatan hingga Utara berjajar jutaan pohon Zaitun besar dan rimbun yang menjadi sumber mata pencaharian petani Gaza. Dengan hasil dari minyak zaitun, para petani tersebut dapat menyekolahkan putra-putri mereka hingga kejenjang perguruan tinggi, menjadi modal usaha atau membangung rumah.

Tahun 2000an, ketika Israel menguasai wilayah Gaza dengan kekuatan militer, semua lahan pertanian zaitun digusur dengan buldozer dan habis tanpa sisa.  Walau sempat dihalau oleh petani Gaza, namun semuanya sia-sia. Kurang lebih enam tahun ladang mereka tidak boleh ditanami kembali karena dilarang oleh pihak Israel. Walau demikian aksi perlawan rakyat Palestina terus berlanjut, yang dkenal dengan Intifadha Pertama, yaitu bentuk perlawanan dengan menggunakan batu, ketapel dan bom molotov rakitan.

Meningkatnya intensitas perlawanan rakyat Palestina tidak mampu dibendung oleh militer Israel. Akhirnya ditahun 2005, warga Yahudi Israel dan militer Israel angkat kaki dari wilayah Jalur Gaza tepatnya di wilayahTimur Barat Palestina.

Sejak tahun 2005 hingga kini tidak ada satupun warga Yahudi Israel atau Militer Israel menetap di Jalur Gaza. Dengan perginya militer Israel dari Gaza, maka para petani kembali leluasa bercocok tanam khususnya menanam pohon zaitun. Walaupun militer Israel selalu mengganggu dan menembaki para petani Gaza yang memiliki lahan di perbatan antara Gaza dan Kuwait, namun para petani tetap bercocok tanam. Rakyat Palestina berprinsip : Palestina adalah tanah hak milik kami yang sah, wakaf dari para Nabi untuk kaum muslimin dunia. Sejak puluhan abad lalu telah ditempati oleh kaum muslimin, dan hingga kini tetap menjadi hak milik kami. Kalian hancurkan rumah kami, kami bangun kembali. Kalian gusur tanaman kami, kam tanam kembali. Kalian bunuh satu bayi Palestina, maka akan lahir 1.000 bayi di Palestina.

Bulan Mei adalah musim semi dimana awal tanaman zaitun berbuah. Mengawali musim dingin pada bulan Oktober, tanaman zaitun mulai dipanen. Keseharian para petani disibukkan dengan merawat tanaman Zaitun seperti membersihkan tanah, memotong ranting kering hingga melakukan penyemprotan pada daun untuk membasmi hama yang menyerang tanaman zaitun. Salah satu hama yang menyerang tanaman zaitun adalah keong hutan kecil berwarna putih. Ribuan keong kecil biasanya memadati ranting zaitun dan memakan daunnya. Penyemprotan rutin adalah cara termudah untuk mengatasi hama jenis ini.

Proses panen zaitun tidaklah sulit. Tidak sesulit panen cengkih di Indonesia. Hal ini karena pohon zaitun rindang dan tidak tinggi. Untuk 50 hingga 400 pohon zaitun jika dipanen (proses pemetikkan) membutuhkan waktu 3 hingga 4 hari saja,  dengan jumlah personel petani 10 orang. Biasanya lahan pertanian di Palestina adalah harta warisan bersama milik keluarga, maka mereka akan beramai-ramai melakukan panen.

Pemanenan zaitun dilakukan sekali setahun. Terdapat empat jenis zaitun di Palestina berdasarkan bentuk, warna serta fungsinya, yaitu Zaitun Qey 18, Zaitun Sirri, Syamlani, Nabali.

Zaitun Qey 18 dan Zaitun Nabali sangat digemari oleh warga Gaza dengan mengkonsumsinya dalam bentuk bijian. Sedangkan Zaitun Shamlani lebih afdhal jika diolah menjadi minyak zaitun, meski tetap saja boleh mengkonsumsinya secara langsung. Harga pasaran minyak zaitun di Gaza adalah 30 Sheqel / liternya atau setara Rp. 100,000,-.

 

Pasca panen, warga Gaza atau petani Gaza membawa hasil panen mereka ke Pabrik Pusat Pengolahan Zaitun untuk diolah menjadi minyak zaitun. Minyak zaitun tersebut akan dijual dan sebagian dikonsumsi masing-masing keluarga.

@bang.onim SPNA Gaza City

 

leave a reply