Peluncuran program Orang Tua Asuh OTA Palestina anak Yatim Palestina di Jalur Gaza Bag.1

Gaza, SPNA -  Anak yatim adalah komunitas penting dalam masyarakat Palestina. Semakin hari jumlah mereka terus meningkat, khususnya di wilayah Jalur Gaza. Sebuah wilayah yang menerima dampak terburuk dari agresi Israel di tahun 2014 silam. Setidaknya 2.200 jiwa warga Gaza

BY Ihsan ZainuddinEdited Tue,16 May 2017,11:39 AM

SPNA - Gaza City

Peluncuran program Orang Tua Asuh (OTA Palestina) anak Yatim Palestina di Jalur Gaza (Bag.1)

Gaza, SPNA -  Anak yatim adalah komunitas penting dalam masyarakat Palestina. Semakin hari jumlah mereka terus meningkat, khususnya di wilayah Jalur Gaza. Sebuah wilayah yang menerima dampak terburuk dari agresi Israel di tahun 2014 silam. Setidaknya 2.200 jiwa warga Gaza meregang nyawa dalam perang tersebut. Tidak sedikit dari mereka yang wafat meninggalkan banyak anak, yang kemudian tumbuh menjadi yatim, dan harus tetap bertahan hidup di tengah sulitnya kondisi kehidupan di Jalur Gaza, terblokade, terisolasi dan masih terjajah puluhan tahun.

Untuk bisa bertahan hidup di Jalur Gaza bukanlah hal yang mudah. Jalur Gaza dengan luas hanya 367 KM persegi seluas Ibu Kota Jakarta dengan jumlah penduduk 2,000,000 jiwa, prihatinnya 1,5 juta jiwa hidup dibawah garis kemiskinan. Jalur Gaza tidak hanya menjadi wilayah perang, namun blokade yang telah berlangsung lebih dari satu dekade, mengubahnya menjadi penjara terbesar di dunia. Sulitnya akses keluar-masuk ke wilayah ini, menyulitkan masyarakat Gaza untuk memenuhi kebutuhan hidup, dari arah pantai dihadang oleh angkatan laut penjajah, para nelayan pergi berlayar dan kembali tinggal nama bukan hasil tangkapan, mereka kerap ditembak, dibunuh dan perahu mereka dikaram hanguskan, sedangkan dari arah timur Jalur Gaza terbentang panjang kawat berduri dari utara hingga selatan Jalur Gaza, dengan tetancap pos-pos penembak jitu militer penjajah, hamper setiap hari para petani Jalur Gaza ditembak saat mereka berada dilahan perkebunan mereka.

Pintu perbatasan Rafah, perlintasan darat antara Jalur Gaza dan Mesir awalnya menjadi tumpuan dan harapan hidup bagi kaum tertindas ini, kini hanya menjadi mimpi nyata karena akses perlintasan seakan tidak bersahabat antara sesame jiran, pintu perbatasan Erez terletak di Jalur Gaza Utara berbatasan lansung dengan Israel, hanya menjadi jarring penjajah untuk menangkap, menahan dan menginterogasi khususnya mereka dituduh dan disangka dengan tanpa barang bukti oleh petugas imigrasi penjajah Yahudi.

Bagi anak-anak yatim dan fakir, yang telah kehilangan sosok yang selama ini bertanggung jawab dan peduli terhadap hidup mereka. Mimpi untuk mengenyam pendidikan yang layak, kesehatan yang terpelihara, dan seluruh kebutuhan hidup yang terpenuhi, seolah terkubur seiring terkuburnya jasad orang tua mereka.

Hari demi hari yang mereka lalui harus bertaruh dengan kondisi terjajah, tertindas, pengusiran merajalela, penggusuran rumah menjadi hal biasa dan misteri pembunuhan terhadap rakyat Palestina seolah hal lumrah, dilakukan oleh para penjajah tanah Palestina.

Hingga kini, berdasarkan data dari berbagai organisasi kemanusiaan di Palestina, jumlah anak yatim yang mendiami wilayah Jalur Gaza mencapai lebih dari 25.000 jiwa. Sebuah angka yang memerlukan perhatian lebih dari berbagai pihak. Terlebih dalam kenyatannya, anak yatim senantiasa memerlukan perhatian yang lebih luas dalam berbagai bidang kehidupan, seperti; pasokan makanan bergizi, pakaian, pendidikan, kesehatan dan lainnya.

Atas dasar hal di atas, relawan asal Indonesia, Abdillah Onim yang akrab disapa Bang Onim, seorang WNI yang sudah berkecimpung dunia kemanusiaan sejak tahun 2000 silam, kini beliau memutuskan untuk menetap di Jalur Gaza kembali meluncurkan sebuah program kemanusiaan bertajuk “SOSUYIT (Saya Sebagai Orang Tua Asuh Anak Yatim di Palestina).”

 

Bersambung......

leave a reply