Upaya mencetak generasi al-Qur’an di negeri jajahan Yahudi Bag.1

Jalur Gaza, SPNA- Untuk pertama kalinya, Darul Qur’an Indonesia di Jalur Gaza menggelar workshop manajemen pengelolaan lembaga, Rabu (17/05/2017). Kegiatan ini bertujuan untuk membahas aspek manajerial kelembagaan, termasuk  mengkaji  masalah atau tantangan yang dihadapi.

BY Rara Atto Edited Fri,19 May 2017,01:43 PM

SPNA - Gaza City

Workshop Darul Qur’an Indonesia di Jalur Gaza:

Upaya mencetak generasi al-Qur’an di negeri jajahan Yahudi (Bag.1)

Laporan wartawan SPNA, Reham Abu Ajwah

Jalur Gaza, SPNA- Untuk pertama kalinya, Darul Qur’an Indonesia di Jalur Gaza menggelar workshop manajemen pengelolaan lembaga, Rabu (17/05/2017). Kegiatan ini bertujuan untuk membahas aspek manajerial kelembagaan, termasuk  mengkaji  masalah atau tantangan yang dihadapi.

Workshop  ini diikuti oleh para pengelola/pembina, dan segenap guru penghapal di Darul Qur’an.

Darul  Qur’an  yang membina dan mencetak para penghapal Qur’an ini telah beroperasi sejak tiga tahun lalu dengan dukungan  dana dari rakyat Indonesia.

Kehadiran Darul Qur’an di Jalur Gaza, sebagai bentuk perhatian dan dukungan moril rakyat Indonesia terhadap penderitaan rakyat Palestina yang hidup dibawah pendudukan dan blokade Israel sejak belasan tahun lalu.

Dalam sambutannya, Bapak Abdillah Onim atau yang akrab disapa dengan “Bang Onim” selaku Ketua Cabang Darul Qur’an, mengatakan, “Workshop ini  diadakan dalam rangka meningkatkan kualitas kinerja para pembina, dan kualitas pembelajaraan bagi para siswa, sesuai rencana yang telah disusun.”

Bang Onim mengajak semua pihak untuk meningkatkan kinerja dan tetap mematuhi aturan dan mekanisme yang sudah ditetapkan. Dia menegaskan bahwa aktivitas di Darul-Qur’an ini semata-mata dalam rangka mencari ridha dan pahala dari Allah Swt.

Dalam pemaparannya terkait manajemen pengelolaan, Ir. Jum’ah El-Najjar menjelaskan, pentingya untuk menanamkan pemahaman tentang kecintaan belajar Al-Qur’an, demikian pula mengajarkannya. Dia juga menjelaskan urgensi kerja yang bersifat sukarela dalam bidang ini. Dia menekankan perlunya bagi semua pihak untuk belajar dari pengalaman negara-negara Islam lainnya, khususnya dalam masalah kedisiplinan, dan penerapan akhlak yang mulia.

Konsepsi  dan tujuan:

Salah seorang pembina puteri di Darul Qur’an , Ustadzah Maryam El-Barsy mengatakan, “Sesungguhnya tugas mencetak generasi penghapal adalah tugas yang sangat mulia, di tengah pengaruh negatif kemajuan teknologi seperti televisi, dan situs-situs jejaring sosial. Dan kita persembahkan jiwa raga kita ini untuk berkhidmat kepada Al-Qur’an.”

El-Barsy kemudian membahas mengenai konsep pembelajaran Al-Qur’an dan jenis-jenisnya, serta meminta pihak pengelola untuk membuka kelas khusus bagi mereka yang ingin mendapatkan sanad dalam ilmu Al-Qur’an.

Dia menjelaskan tujuan pembelajaran Al-Qur’an melalui sistem halaqah (Kelompok), untuk melahirkan generasi qur’ani yang berakhlak, memahami ilmu Al-Qur’an serta cara membacanya melalu ilmu qira’ah yang beragam.

Dia juga membahas   syarat-syarat yang harus dimiliki oleh para guru (penghapal Qur’an) baik dari aspek personality, kecakapan keilmuan dan keterampilan mengajar.

Bersambung...

 

leave a reply