Santri Daarul Qur'an Gaza muroja’ah Qur'an bil goib 30 Juz selama 2 hari

Gaza, SPNA – Lebih dari sepuluh tahun sudah masyarakat Palestina, khususnya di Gaza, hidup dalam kesulitan. Penjajahan, penindasan, okupasi dan isolasi Israel menjadi sebab utama penderitaan mereka. Kondisi ini semakin diperparah dengan penutupan pintu perbatasan oleh pihak pendudukan.

BY Abdelhamid Akkil Edited Sat,29 Jul 2017,02:03 PM
341A8271.JPG

SPNA - Gaza City

Gaza, SPNA – Lebih dari sepuluh tahun sudah masyarakat Palestina, khususnya di Gaza, hidup dalam kesulitan. Penjajahan, penindasan, okupasi dan isolasi Israel menjadi sebab utama penderitaan mereka. Kondisi ini semakin diperparah dengan penutupan pintu perbatasan oleh pihak pendudukan. Nyawa warga Gaza seolah tak ternilai dan aspirasi mereka laksana angin lalu.

Tidak hanya Gaza, kebiadaban Israel juga sangat jelas di Masjid Al-Aqsa, di kota Al-Quds. Meski terletak di wilayah mereka, namun bagi warga Palestina, tidaklah mudah untuk bisa melaksanakan ibadah di satu dari tiga situs suci umat Islam tersebut. Terlebih, pasca insiden baku tembak pada 14 Juli lalu, Israel menerapkan serangkaian prosedur keamanan yang tidak layak diterapkan di sebuah tempat ibadah, terlebih di Masjid Al-Aqsa. Bagaimana tidak, deretan barikade besi baja, pintu dengan detektor logam dan kamera super canggih, harus dilalui warga Palestina yang akan beribadah di masjid itu. Tentu saja tindakan ini mendapat kecaman dari dan penolakan keras dari warga Palestina, baik di Tepi Barat maupun Kota Tua Al-Quds (Yerusalem). Gelombang kecaman ini tidak saja terjadi di seantero Palestina, namun merambat hingga ke dunia Arab dan negeri muslim pada umumnya. Warga terus melakukan aksi protes yang memicu bentrokan dengan pihak Israel. Keberanian mereka, khususnya para pemuda Palestina, telah berhasil membuat pasukan Israek kewalahan. Akhirnya, Israel mencabut semua prosedur keamanan yang diterapkan di kawasan suci Al-Aqsa.

Jum'at 28 Juli 2017, puluhan ribu muslim Palestina berbondong-bondong mendatangi Masjid Al-Aqsa guna melaksanakan shalat Jum’at. Pihak Israel memberlakukan batasan usia bagi warga yang akan memasuki masjid. Hanya pria berusia 50 tahun ke atas yang boleh melaksanakan shalat Jum’at di dalamnya. Akibatnya, bentrokan kembali pecah. Pihak keamnan Israel terus mendesak warga, khususnya para pemuda yang hendak beribadah, dengan melakukan penghadangan, pemukulan, tembakan gas air mata dan bom suara. Namun, sedikitpun tidak menggoyahkan tekad warga Palestina untuk melawan, meskipun tidak sedikit dari mereka yang akhirnya cedera. Akhirnya pihak keamanan Israel membolahkan warga – semua usia – untuk melaksanakan shalat di masjid itu.

Apa yang terjadi di Masjid Al-Aqsa di kota Al-Quds memperlihatkan kepada kita bahwa Palestina memang tanah yang istimewa. Di sanalah jiwa-jiwa pemberani dilahirkan. Salah satu kekuatan yang dimiliki warganya adalah kedekatan mereka dengan Al-Qur’an. Hal ini pula yang mendorong Rumah Tahfidz PPPA Daarul Qur'an Nusantara melebarkan sayapnya hingga ke tanah para syuhada tersebut. Yayasan dibawah bimbingan Ust.Yusuf Mansur ini berdiri tahun 2013 lalu. Berawal dari beberapa halaqoh kecil, kini yayasan ini bisa memiliki gedung yang diberi nama Graha Tahfidz Daarul Qur'an Gaza Palestina. Di sinilah ratusan anak Palestina secara rutin mempelajari dan menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dengan semangat, mereka mendatangi bangunan tersebut guna menyetorkan hafalan Qur’an mereka.

Saat ini, Graha Tahfidz Daarul Qur'an Gaza Palestina memeiliki lebih dari 240 santri dengan 12 orang orang. Atas semangat dan komitmen pihak pembimbing di Gaza maka kini 50 anak Gaza, santri DAQU Gaza, berhasil menghafal 30 Juz Qur'an. Untuk bisa mencapai hasil tersebut, para santri harus melalui proses ujian yang sangat ketat. Tidak sedikit pula dari mereka yang menghafal 15 hingga 25 Juz Al-Qur’an.

Guna meningkatkan kualitas santri Graha Tahfidz Daarul Qur'an Gaza Palestina, untuk pertama kalinya diterapkan program khusus yaitu program baca Qur’an 30 Juz tanpa melihat. Program ini dilaksanakan selama dua hari. Santri yang mengambil bagian dalam program ini adalah Mohammed Ridwan (17 Th) dan Dhiya Hamada (16 Th). Mereka adalah dua dari anak-anak Gaza yang memiliki daya ingat yang sangat kuat dan sangat mudah dalam menghafal. Keduanya mengikuti program baca Al-Qur’an bil goib (tanpa melihat) dangan ahkam dan tajwid 30 Juz selama dua hari. Mereka mulai membaca sejak ba’da subuh hinggap pukul 16.00.

Graha Tahfidz Daarul Qur'an Gaza Palestina berharap bisa menghasilkan lebih banyak lagi generasi cinta Qur'an dari Palestina. Amin

leave a reply
Posting terakhir