Di Gaza, anak-anak wafat di hadapan orang tua mereka

Gaza, SPNA - Wisam, seorang bocah berusia 6 tahun, kini terkulai lemah di rumah sakit Gaza. Ia menderita cystic fibrosis,

BY adminEdited Wed,09 Aug 2017,11:17 AM
4.jpg

Day of Palestine - Gaza City

Gaza, SPNA - Wisam, seorang bocah berusia 6 tahun, kini terkulai lemah di rumah sakit Gaza. Ia menderita cystic fibrosis, sementara pihak rumah sakit tidak memiliki perawatan enzim yang ia butuhkan agar tetap bertahan hidup.

Ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi pada Wisam menyebabkan sang ayah, Bahjat Abu Rashid, sangat cemas. Dua tahun lalu, seorang putranya yang lain meninggal. Bahjat mengatakan bahwa Muhammad memiliki masalah jantung dan dicegah untuk melakukan operasi di Israel.

"Jika situasi ini berlanjut, saya akan kembali kehilangan putra," kata Bahjat. "Kami harus menangguung beban atas konflik politik yang terjadi."

Wisam dirawat di Rumah Sakit Anak Abdelaziz al-Rantisi di Gaza. Dokter mengatakan kepada Bahjat bahwa anaknya bisa meninggal kapan saja.

Biaya pengobatan cystic fibrosis sangatlah mahal. Menyediakan kebutuhan medis kepada pasien yang mengalami kelainan genetik seperti ini sangatlah sulit dalam kondisi apapun. Namun itu akan menjadi semakin sulit saat pasien tersebut berada di Gaza.

Otoritas Palestina, yang berbasis di Tepi Barat, telah mengalokasikan sekitar $ 4 juta per bulan ke rumah sakit Gaza hingga awal tahun ini. Jumlah itu dikurangi menjadi $ 2,3 juta pada bulan April dan hanya $ 500.000 pada bulan berikutnya.

Pil Kryon dibutuhkan oleh lebih dari 300 pasien penderita cystic fibrosis di Gaza. Sebagian dari mereka adalah anak-anak. Sayangnya saat ini pil tersebut tidak tersedia.

Pengurangan anggaran kesehatan telah melahirkan penderitaan besar bagi orang-orang Palestina di Gaza, yang telah berada di bawah pengepungan Israel selama satu dekade.

Bahkan bayi pun tidak bisa lepas dari penderitaan ini. Stok therapeutic milk yang dibutuhkan untuk sekitar 240 bayi dengan defisiensi enzim pun sudah habis. Anak-anak itu "akan menderita masalah pertumbuhanseumur hidupmereka" ungkap seorang dokter ahli untuk Hak Asasi Manusia.

Pada bulan April, PA mengumumkan bahwa mereka menghentikan pembayaran pasokan listrik untuk Gaza ke Israel. Sejak saat itu, pasokan energi terus turun ke titik terendah sepanjang sejarah Gaza. Pada beberapa hari, Gaza hanya menerima listrik tiga jam - atau kurang dari itu.

Rumah sakit sangat terpukul oleh langkah itu. Operasi yang membutuhkan pasokan energi terus menerus selama beberapa jam sering ditunda. Selain itu, mesin cuci ginjal belum bisa berfungsi.

Huda Abu Madlala (44) adalah satu dari 300 pasien yang mengandalkan 45 mesin cuci di RS. al-Shifa, rumah sakit terbesar di Gaza. Ia sangat khawatir ajalnya akan segera tiba ketika mesin pencuci darah tiba-tiba terhenti karena pemadaman listrik.

"Kami sekarat karena pasokan listrik yang sangat kurang," katanya. "Itu memalukan. Bagi para politisi, kami hanya angka. Saya tidak tahu bagaimana anak-anak saya bisa hidup tanpa saya di tempat yang sangat membuat sedih siapapun.”

Ashraf al-Qidra, juru bicara kementerian kesehatan Gaza, mengatakan bahwa Otoritas Palestina di Tepi Barat "mengurusi kami dengan cara yang sangat buruk."

Ketika pasien di Gaza memerlukan perawatan di luar Jalur Gaza, maka kasus mereka diajukan ke pusat PA di kota Ramallah di Tepi Barat guna memperoleh izin perawatan. Namun, menurut al-Qidra, PA telah menunda penandatanganan pada ratusan kasus tersebut selama beberapa bulan terakhir. Tidak ada alasan yang diberikan untuk penundaan tersebut, al-Qidra menambahkan.

Hingga kini, 22 pasien telah meninggal saat menunggu izin untuk perawatan di luar Gaza, menurut data kementerian kesehatan. Hampir setengah dari mereka adalah anak-anak.

Bahkan, menurut Physicians for Human Rights, lebih dari 90 persen pasien Gaza yang arsipnya diserahkan ke PA pada bulan Mei, tidak memperoleh jawaban. (T.RA/S: Day of Palestine)

leave a reply