Lahan pertanian berkurang, warga Gaza terapkan metode “rooftop farming”

Selama satu dekade Israel memberlakukan blokade atas Gaza, selama itu pula sektor pertanian di wilayah tersebut hancur secara dramatis. Tidak hanya itu, krisis listrik yang juga melanda, semakin menambah perlik persoalan tersebut.

BY Rara Atto Edited Thu,17 Aug 2017,12:28 PM
Lahan pertanian berkurang, warga Gaza terapkan metode “rooftop farming”

The Electronic Intifada - Jalur Gaza

Jalur Gaza, SPNA - Selama satu dekade Israel memberlakukan blokade atas Gaza, selama itu pula sektor pertanian di wilayah tersebut hancur secara dramatis. Tidak hanya itu, krisis listrik yang juga melanda, semakin menambah perlik persoalan tersebut. Listrik hanya bisa dinikmati warga Gaza selama tiga atau empat jam per hari. Sebagian besar sektor produktif di Gaza melemah bahkan sampai pada titik kelumpuhan.

Namun, sejak lama warga Palestina di Gaza mengandalkan kemampuan mereka sendiri untuk bertahan hidup. Mereka memiliki mobil berbahan bakar minyak goreng atau mendirikan rumah dari batu bata yang terbuat dari lumpur. Bahkan, hingga pada titik, di mana mereka mampu membuat industri terowongan –yang menurut PBB- telah menjadi jalur kehidupan bagi warga Palestina di Gaza sebelum Mesir menghancurkan kebanyakan dari sebagian besar tersebut pada tahun 2015.

Sumber daya serupa juga lahir di sektor pertanian. Di satu sisi, kepadatan menuntut adanya penyebaran penduduk, sementara di sisi lain, militer Israel menguasai sebagian besar lahan pertanian warga, khususnya lahan yang subur. Warga Palestina di Gaza pun berpikir keras agar bisa keluar dari sutuasi tersebut. Ketiadaan lahan, membuat mereka memanfaatkan atap rumah menjadi lahan pertanian.

Menanam di atap rumah

Memanfaatkan atap rumah sebagai lahan untuk menanam atau dikenal dengan rooftop farming adalah sebuah konsep baru bagi masyarakat Gaza. Konsep ini pertama kali diperkenalkan melalui sebuah proyek yang disponsori oleh Organisasi Pangan PBB pada tahun 2010.

Proyek ini melibatkan lebih dari 200 kaum permepuan, yang harus menjadi kepala rumah tangga akibat perang berkelanjutan di Gaza. Dalam proyek ini, mereka dibekali dengan tangki berisi ikan serta berbagai peralatan aquaponic. Aquaponic adalah kombinasi dari akuakultur (budidaya ikan) dan hidroponok. Dalam aquaponic, air yang mengandung nutrisi yang dihasilkan dari budidaya ikan akan dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk tanaman.

Bagi masyarakat Gaza, metode ini sangat sesuai dengan situasi yang sedang mereka hadapi, terlebih material yang mereka butuhkan dalam proyek tersebut juga tersedia.

Pekerjaan diawali dengan mendaur ulang bahan plastik dan kayu menjadi media tanam, sekaligus tempat memlihara ikan. Dengan membeli bibit dari petani lokal, para “petani’ tersebut pun menjalanakn proyek mereka. Hasilnya, permaslahan minimnya lahan pertanian bisa terpecahkan.

Menurut PBB, sekitar 47% warga Palestina di Gaza mengalami kerawanan pangan, angka ini meningkat 44% di tahun 2012. Hal tersebut tidak luput dari menurunnya hasil pertanian sebagai imbas dari blokade yang diberlakukan Israel atas wilayah Gaza. Sejak tahun 2000 sampai 2006, rata-rata perdagangan hasil pertanian pertahun mencapai $ 18 juta, dan pada tahun 2014 menurun hingga $2.2 juta. Pada tahun 2016 mencapai $13.3, namun belum bisa menyamai angka pada tahun 2000-2006.

Pertumbukan penduduk yang mencapai 3% pertahun dan blokade berkepanjangan Israel telah menyebabkan sektor pertanian di Gaza lumpuh. Pengangguran mencapai 42% dan kemiskinan menembus angka 40%. Gaza membutuhkan gagasan baru untuk menjamin ketersediaan pangan penduduknya.

Pemberdayaan

Dr. Ahmad Saleh, seorang konsultan pertanian dan mantan profesor di Fakultas Teknik Pertanian Universitas Al-Azhar, adalah sosok yang berperan dalam memfasilitasi pertanian metode rooftop farming. Untuk tujuan ini, pria yang bermukim di wilayah Tawam Kota Gaza ini, telah memanfaatkan atap rumahnya sebagai lahan untuk ditanami.

Bagi Saleh, selain menjadi solusi atas minimnya lahan pertanian, rooftop farming juga memiliki potensi yang lebih banyak. Di atap rumahnya yang berukuran 60 meter persegi, Saleh menyulap berbagai bagian mobil tua, wadah plastik atau botol menjadi wadah warna-warni yang dimanfaatkan sebagai media tanam. Ia membagi atap rumahnya menjadi dua sisi. Satu sisi dimanfaatkan sebagai area tanaman, seperti kaktus dan bunga, sementara di sisi yang lain dimanfaatkan sebagai ruang bersosialisasi, baik dengan keluarga mapun tetangga sekitar.

Selain kaktus dan bunga, Saleh memanfaatkan area tanaman tersebut untuk menanm berbagai produk, seperti; peterseli, seledri, sage (sejenis tanaman berdaun harum), thyme, tomat, cabai, bawang merah, terong, lobak, paprika manis, lemon musiman dan kacang-kacangan.

“Proyek ini memberikan banyak manfaat,” tuturnya. “Pertama, produk yang dihasilkan akan terbebas dari bahan kimia berbahaya dan terhindar dari dampak buruk penggunaan pupuk kimia. Kedua, rasa tanaman akan lebih terjaga dibanding produk yang dibeli di pasaran.”

Bahkan proyek ini tidak hanya memberikan manfaat kesehatan dan sosial saja. Namun, menurut Saleh, akan lebih luas dari itu, seperti manfaat komersial dan makanan akan lebih mudah diakses.

Rooftop farming memiliki peluang dan mampu memberdayakan manusia. Metode ini memungkinkan mereka menemukan cara efektif untuk memecahkan persoalan lingkungan dan membantu menciptakan populasi yang lebih sehat.”

Pertanian jenis ini juga, menurutnya, dapat dilakukan oleh semua kalangan. Meskipun metode aquaculture dan beternak ikan membutuhkan dan menambah biaya, namun benda-benda daur ulang bisa dimanfaatkan untuk menerapkan metode ini.

Justru komponen yang lebih mahal, ungkap Saleh, adalah tanah yang sudah dicampur dengan pupuk organik, di mana harganya mencapai $200 sampai $350 for 25 per meter kubik.

(T.RA/S: The Electronic Intifada)

leave a reply