Saksi mata: Tentara Myanmar pancung dan bakar hidup-hidup warga Rohingya

Kekerasan pecah di negara bagian Rakhine pada 25 Agustus lalu . Kelompok hak asasi manusia yang berpusat di Bangkok, Fortify Rights menerbitkan laporan saksi mata atas kondisi mengerikan melanda etnis Rohingya, yang berhasil lolos dari desa Chut Pyin di kota Rathedaung.

BY Rara Atto Edited Mon,04 Sep 2017,10:56 AM
Saksi mata: Tentara Myanmar pancung dan bakar hidup-hidup warga Rohingya

Telegraph - Yangon

Yangon, SPNA - Tidak sedikit saksi mata yang berhasil mengungkap kekejaman massal yang melanda warga Muslim Rohingya. Pemenggalan dan pembakaran terjadi tidak hanya pada warga sipil dewasa, namum juga anak-anak.

Seminggu setelah kejadian itu, duta besar Inggris untuk PBB mendesak Aung San Suu Kyi, , untuk "bertindak dengan benar".

Kecaman terhadap peraih Nobel Perdamaian itu pun bermunculan karena dianggap gagal menangani pelanggaran HAM terhadap minoritas Muslim, yang masih berlangsung hingga kini. Selain itu, sebuah pernyataan online oleh "komite informasinya" juga dianggap telah mengobarkan sentimen publik terhadap populasi Rohingya di negara itu.

"Aung San Suu Kyi berada pada titik terendah akibat propaganda mematikan tersebut. Ini sebuah kegagalan kepemimpinan," ungkap Phelim Kine, wakil direktur divisi Human Rights Watch Asia, melalui akun Twitternya.

Pemerintah Myanmar, yang sebelumnya dikenal dengan nama Burma, mengecam masyarakat internasional dan media asing karena memusatkan perhatian hanya pada kondisi orang-orang Rohingya dan mengabaikan dampak kekerasan terhadap etnis Rakhine Buddha dan non-Muslim lainnya di negara bagian tersebut.

Kekerasan pecah di negara bagian Rakhine pada 25 Agustus lalu . Kelompok hak asasi manusia yang berpusat di Bangkok, Fortify Rights menerbitkan laporan saksi mata atas kondisi mengerikan melanda etnis Rohingya, yang berhasil lolos dari desa Chut Pyin di kota Rathedaung.

Mereka mengklaim sekitar 200 pria Rohingya, wanita dan anak-anak telah dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar. Dilaporkan bahwa prajurit menangkap banyak pria Rohingya, membawa mereka ke gubuk bambu terdekat, dan membakarnya hingga mati, ungkap kelompok tersebut.

Mereka juga mengungkapkan kesaksian warga atas kekerasan yang mereka alami. Salah satunya adalah Abdul Rahman. Pria 41 tahun asal Chut Pyin ini mengungkapkan, "Saudara laki-laki saya dibunuh oleh tentara Myanmar. Mereka juga membakarnya tubuhnya."

"Kami menemukan keluarga saya yang lain di sawah. Di tubuh mereka terdapat bekas luka akibat peluru dan beberapa luka lainnya. Kedua keponakan saya, kepala mereka hilang. Yang satu berumur enam tahun dan yang lainnya sembilan tahun. Kakak iparku pun tertembak dengan pistol. "

Pada hari Jumat, militer Myanmar melaporkan bahwa sekitar 400 orang - sekitar 370 gerilyawan Rohingya, 13 pasukan keamanan, dua pejabat pemerintah dan 14 warga sipil telah tewas dalam kekerasan yang terjadi sejak 25 Agustus lalu.

Sebelumnya, militer dan pemerintah mengatakan bahwa pasukan keamanan merasa sulit membedakan antara pemberontak dan warga sipil. Pada tanggal 30 Agustus, sebuah permintaan dari Duta Besar Inggris Matthew Rycroft, mendorong dewan keamanan PBB untuk membahas situasi tersebut dalam sebuah pertemuan tertutup.

Rycroft mengatakan bahwa para anggota telah mengutuk kekerasan tersebut dan meminta semua pihak, termasuk Suu Kyi, untuk berusaha meredakan situasi di Rakhine.

"Kami melihat bahwa ia mampu mengambil langkah yang tepat dan menemukan kompromi serta meredakan ketegangan guna menyelesaikan konflik demi kebaikan semua pihak di Burma," kata Rycroft.

Sementara itu, Mark Farmaner, direktur LSM Burma Campaign UK yang berbasis di London, menyambut baik pembahasan dewan keamanan namun meminta Pemerintah Inggris untuk mengambil langkal lebih atas situasi yang terjadi di Rakhine saat ini.

"Mendukung Aung San Suu Kyi dan reformasi di Myanmar bukan berarti pemerintah Inggris harus mendukung dan melakukan pembantaian terhadap ratusan orang Rohingya seperti yang dilakukan oleh militer," katanya.

(T.RA/S: Telegraph)

leave a reply