Persekusi terhadap Muslim di Miyanmar meningkat

Yangon, SPNA - Persekusi terhadap Muslim yang terjadi secara sistemis sedang meningkat di seluruh wilayah Myanmar,....

BY adminEdited Wed,06 Sep 2017,12:42 PM

Yangon, SPNA - Persekusi terhadap Muslim yang terjadi secara sistemis sedang meningkat di seluruh wilayah Myanmar, tidak terbatas hanya di negara bagian Rakhine, wilayah di mana kekerasan terakhir terjadi dan menyebabkan sekitar 123.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Inggris.

Jaringan Hak Asasi Manusia Burma (BHRN), Selasa (06/09/2017), mengungkapkan bahwa penganiayaan tersebut memperoleh dukungan dari pemerintah, para biksu Buddha di negara tersebut dan kelompok sipil ultra-nasionalis.

"Transisi menuju demokrasi telah memungkinkan adanya opini publik terhadap peraturan pemerintah yang baru, dan memperkuat narasi bahwa kehadiran Muslim dianggap asing di Myanmar, yang dihuni oleh warga yang mayoritas Buddha (Myanmar)," ungkap kelompok tersebut dalam sebuah laporan.

Laporan tersebut berisi lebih dari 350 wawancara di lebih dari 46 kota dan desa selama periode delapan bulan sejak Maret 2016, yang tidak segera ditanggapi oleh Pemerintah Myanmar.

Pihak berwenang menolak tuduhan bahwa apa yang dilakukan oleh pihak keamanan Myanmar adalah diskriminasi, dan mengatakan bahwa yang terjadi di Rakhine adalah sebuah upaya yang sah untuk melawan "teroris.”

Pasukan keamanan Myanmar dan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi telah menghadapi kecaman internasional atas penderitaan kaum minoritas Rohingya akhir-akhir ini.

Muslim Rohingya telah dipaksa hidup di bawah sistem apartheid yang telah membatasi hak mereka, di anataranya mengenai kewarganegaraan.

Aung San Suu Kyi, mantan tahanan politik penguasa militer Myanmar, mendapat tekanan yang meningkat atas ketidakpeduliannya terhadap kekerasan yang melanda Muslim Rohingya. Setidaknya, ini dapat dilihat sejak pecahnya kekerasan pada 25 Agustus lalu.

Selain Muslim Rohingya, laporan BHRN juga menunjukkan pelanggaran terhadap Muslim dari berbagai etnis di seluruh wilayah Myanmar, menyusul gelombang kekerasan komunal yang terjadi pada tahun 2012 dan 2013.

Dikatakan bahwa banyak umat Islam dari semua etnis ditolak untuk memiliki kartu identitas nasional, sementara di beberapa tempat, akses ke tempat ibadah mereka diblokir.

Sedikitnya 21 desa di sekitar Myanmar telah menyatakan diri sebagai "zona terlarang" bagi umat Islam, yang mendapat dukungan dari pihak berwenang, ungkap laporan tersebut. (T.RA/ S: Aljazeera)

leave a reply