Jalur listrik Mesir untuk wilayah selatan Gaza kembali beroperasi

Gaza, SPNA – Perusahaan listrik Gaza mengungkapkan bahwa salah satu jalur listrik Mesir yang memasok listrik di Jalur Gaza kembali beroperasi pada hari Selasa (05/09/2017), setelah terputus sekitar dua bulan.

BY adminEdited Sat,09 Sep 2017,11:10 AM

Gaza, SPNA – Perusahaan listrik Gaza mengungkapkan bahwa salah satu jalur listrik Mesir yang memasok listrik di Jalur Gaza kembali beroperasi pada hari Selasa (05/09/2017), setelah terputus sekitar dua bulan.

Muhammad Thabet, Humas Perusahaan Distribusi Listrik Gaza, mengungkapkan bahwa jalur listrik ‘Gaza 2’ yang memasok listrik ke wilayah selatan Gaza dengan kekuatan 10 MW kembali beroperasi dan memasok listrik untuk wilayah itu.

Ditambahkannya bahwa pihak berwenang Mesir pun telah menetapkan pengoperasian jalur ‘Gaza 1‘ pada pekan lalu, setelah jalur ini mengalami kesusakan selama 50 hari.

Dengan beroperasinya kedua jalur tersebut, Thabet berharap distribusi listrik ke Jalur Gaza bisa meningkat.

Pejabat perusahaan listrik tersebut menegaskan bahwa kebanyakan warga Palestina di Gaza menerima pasokan listrik hanya empat jam per hari.

Selapa masa liburan Iduladha yang berakhir pada hari Senin, dalam beberapa hari, Gaza dilaporkan menerima antara enam hingga tujuh jam listrik per hari, karena liburnya berbagai kementerian dan instansi publik.

Penderitaan rakyat Palestina di Jalur Gaza semakin parah setelah Israel menyetujui permintaan Otoritas Palestina (PA) untuk mengurangi pasokan listrik di Gaza dalam bulan Mei lalu.

Pada hari Ahad, Thabet mengungkapkan bahwa sebelum jalur ‘Gaza 2’ kembali beroperasi, total penerimaan listrik Gaza adalah 148-149, dengan rincian; 13-14 MW dai Mesir, 65 MW dari stasiun listrik Gaza, 70 MW dari Israel. Sebelumnya, Israel memasok sebanyak 120 MW, sebelum akhirnya terjadi pengurangan.

Total kebutuhan listrik Gaza mencapai 400-500 MW, menurut LSM Israel Gisha, yang fokus pada situasi kemanusiaan di Gaza.

Berkurangnya pasokan listrik telah berdampak pada berbagai rumah sakit di Gaza dan fasilitas pengolahan limbah. Tingkap polusi ‘yang belum pernah terjadi sebelumnya’ di pesisir pantai Gaza, telah mengantarkan seorang anak Palestina pada kematian.

“Bahkan, ketika pasokan listrik belum dikurangi, 100 juta liter limbah yang tidak dapat dipompa dialirkan dari Jalur Gaza menuju Laut Mediterania setiap hari. Saat itu, penduduk menerima listrik tidak lebih dari empat jam per hari,” tulis Gisha pada bulan Juni lalu.

“Stasiun desalinasi air tidak bisa beroperasi; limbah tidak bisa dipompa dari area permukiman; generator bekerja terlalu berat; seluruh bagian rumah sakit lumpuh saat terjadi pemadaman listrik dan hanya mengandalkan peralatan sederhana yang mengandung resiko. Pengurangan pasokan listrik telah berkonsekuansi buruk bagi situasi di Gaza.”

Pada tahun 2012, PBB telah memperingatkan bahwa Gaza akan menjadi wilayah tidak layak huni pada tahun 2020 jika situasi saat ini tidak berubah. Bahkan laporan terakhir menyebutkan bahwa “kehidupan rata-rata warga Palestina di Gaza semakin parah.”

(T.RA/S: Ma’an News)

leave a reply