Inovasi mobil tenaga surya mahasiswa asal Gaza

Berbagai krisis yang terjadi di Jalur Gaza telah mendorong dua mahasiswa Universitas Islam Al Azhar di Gaza membuat sebuah kendaraan bertenaga surya dengan anggaran yang minim.

BY Rara Atto Edited Tue,12 Sep 2017,02:24 PM
Inovasi mobil tenaga surya mahasiswa asal Gaza

RT News - Gaza

Gaza, SPNA - Blokade Israel yang terus berlanjut di wilayah Jalur Gaza Palestina, tidak saja melanggar hak asasi manusia, tapi juga telah melemahkan sumber daya penting di wilayah tersebut, salah satunya adalah bahan bakar. Akibatnya, selama bertahun-tahun Gaza hidup dalam keterpurukan.

Di Yerusalem, satu dari kota yang diduduki Israel, pihak berwenang telah membatasi impor serta mengendalikan sebagian besar pasokan dan sumber energi Palestina melalui Israel Electric Corporation.

Melihat kenyataan tersebut, Khalid al-Bardawil dan Jamal al-Miqaty, dua mahasiswa Universitas Islam Al Azhar di Gaza mencetuskan sebuah inovasi berupa kendaraan bertenaga surya dengan anggaran yang minim.

Bekerja sama dengan Departemen Teknik Mekatronika institut tersebut, keduanya membuat sebuah kendaraan (mobil) berpenumpang tunggal yang menempatkan panel surya di bagian atapnya.

Prototipe mobil surya muncul saat warga Palestina terus mengalami krisis energi yang diperburuk oleh serangan udara Israel terhadap satu-satunya pembangkit listrik Gaza pada tahun 2006 silam.

Tahun lalu, menurut Koordinasi Hak Asasi Manusia PBB, Jalur Gaza hanya menerima 45% listrik dari seluruh kebutuhan masyarakatnya.

Pembangkit listrik di Nusairat juga terpaksa ditutup beberapa kali, yang terakhir pada bulan April tahun ini, setelah terjadi sengketa pajak dengan pihak berwenang Palestina.

Pada bulan Januari, separuh dari pasokan gas Israel ke wilayah yang dikuasai Palestina harus dihilangkan.

Mobil tenaga surya tersebut, oleh Khalid dan Jamal dirancang dengan dengan tiga roda dan hanya bisa mencapai kecepatan maksimal 18 KM/ jam. Meskipun demikian, proyek ini merupakan langkah inovatif untuk menanggulangi keterbatasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari di wilayah Palestina.

Terhadap temuan keduanya, Universitas Al Azhar mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan gagasan cemerlang yang terinspirasi oleh “defisit listrik kronis” dan “kekurangan bahan bakar” yang telah melumpuhkan kehidupan di Gaza.

Saat ditanya mengenai motor listrik, kepada wartawan Al-Miqaty menuturkan, "Motor bertenaga listrik belum tersedia di kota kami dan sayangnya belum ada seorang pun yang tahu cara membuatnya.” Ia menambahkan, “Oleh karena itu, kami harus melakukannya dan membuat banyak perubahan, meskipun perubahan tersebut tidaklah mudah.”

(T.RA/S: RT News)

leave a reply