Yordania kutuk penyerangan Israel di Masjid Al-Aqsa

Yordania mengutuk penyerangan yang dilakukan oleh pemukim Israel terhadapa Masjid Al-Aqsa, rilis Times of Israel. Seperti jamak diberitakan, para pemukim terus meningkatkan serangan terhadap situs suci umat Islam tersebut selama hari raya Yahudi, Sukkot.

BY Rara Atto Edited Sat,14 Oct 2017,11:59 AM
Yordania kutuk penyerangan Israel di Masjid Al-Aqsa

Middle East Monitor - Al-Quds

Al-Quds, SPNA - Yordania mengutuk penyerangan yang dilakukan oleh pemukim Israel terhadapa Masjid Al-Aqsa, rilis Times of Israel. Seperti jamak diberitakan, para pemukim terus meningkatkan serangan terhadap situs suci umat Islam tersebut selama hari raya Yahudi, Sukkot.

Menurut anggota parlemen Knesset, Yehudah Gkick, 2,265 pemukim telah memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa, selama perayaan tersebut. Jumlah ini meningkat 40%, dari jumlah pemukim yang melakukan hal serupa tahun lalu, yaitu 1,611 orang. Para pemukim dilindungi oleh militer, guna menyaksikan bahwa mereka akan memasuki kawasan tersebut tanpa insiden apapun.

Menteri Urusan Media Yordania, Mohammad Momani, menggambarkan serangan tersebut sebagai upaya provokasi Muslim Palestina. Seperti sebelumnya, ungkapnya, hal ini akan membahayakan hubungan kedua negara. “Apa yang dilakukan ini merongrong upaya untuk meredakan ketegangan dan melestarikan status legal Masjid Al-Aqsa dan Tempat Suci.” Membolehkan orang Yahudi menyerang situs suci tersebut akan merusak perundingan perdamaian Israel-Palestina, tambahnya.

Sejalan dengan Yordania, Qatar juga mengecam kehadiran warga Israel di Al-Aqsa dalam pekan ini, stelah 500 pemukim ilegal menyerbu kompleks tersebut dan berjanji akan membangun kembali kuil Yahudi di lokasi masjid tersebut.

Israel telah meningkatkan penyerangan terhadap masjid Al-Aqsa menjelang hari raya Yahudi, yang meningkatkan ketegangan di Yerusalem Tomur (Al-Quds). Orang-orang Israel diizinkan memasuko kompleks suci sesuka hati, di saat jama’ah Muslim dibatasi memasukinya, meski sekedar melakukan shalat, ibadah harian mereka.

(T.RA/S: Middle East Monitor)

leave a reply