Desa Qibya, saksi bisu kekejaman Israel

Ramallah, SPNA – Penduduk desa Qibya, dekat Ramallah menjadi saksi kekejaman Israel.  67 warga gugur dan sementara puluhan lainnya luka-luka dalam genosida yang dilakukan pasukan Israel di desa tersebut pada tanggal 14 Oktober 1953.

BY adminEdited Mon,16 Oct 2017,01:42 PM

Ramallah, SPNA – Penduduk desa Qibya, dekat Ramallah menjadi saksi kekejaman Israel.  67 warga gugur dan sementara puluhan lainnya luka-luka dalam genosida yang dilakukan pasukan Israel di desa tersebut pada tanggal 14 Oktober 1953.

Pasukan Israel saat itu dipimpin Ariel Sharon, yang kelak menjadi perdana Menteri, dilaporkan telah membantai penduduk desa, menghancurkan rumah warga , rumah ibadah dan sekolah serta sebuah waduk. Keluarga Abdul Mu’im Qadus yang berjumlah 12 orang gugur dalam pembantaian tersebut.

Situs berita resmi Wafanews, menyatakan bahwa pembantaian terjadi dalam rangka meningkatkan eskalasi operasi militer terhadap sejumlah desa-desa Palestina di Tepi Barat paska penandatangan perjanjian Arab dan Israel.

Qibya terletak di Palestina, 44 KM dari Ramallah namun saat pembantaian terjadi wilayah tersebut masuk dalam otoritas pemerintah Yordania.

Pada tanggal 14 Oktober Israel menembakkan roket ke seluruh wilayah desa disusul operasi unit 101  Israel di desa tersebut. Puluhan warga sipil gugur dan 40 rumah hancur dalam serangan tersebut.

Unit 101 yang dipimpin Ariel Sharon saat intu mengepung desa al-Qibya serta menanam ranjau untuk memblokir desa tersebut. ‘’Perintah telah dilaksanakan dengan sempurna, Qibya akan menjadi contoh untuk semua orang, ‘’ sebut Ariel Sharon.

Meski kekurangan personil dan senjata, penduduk desa Qibya yang dipimpin Mahmoud Abdul Aziz dengan gagah berani berusaha mempertahankan desa.

Sejumlah pihak yang kemudian datang ke lokasi melaporkan bahwa mereka  melihat pemandangan mengerikan, sebagian besar mayat mengalami luka tembak di kepada bahkan tanpa kepala. Anak-anak dan wanita tak bersalah dibunuh secara brutal.

Respon:

Pembantaian desa Qibyah menimbulkan reaksi luas baik dalam level nasional maupun internaisonal.

- Dr, Yoiusef Haikal, duta besar Yordania untuk PBB dalam laporannya menerangkan:

‘’Orang-orang Israel memasuki desa dan melakukan pembunuhan secara terencana. Mereka menggunakan senjata oromatis, granat dan bom, serta mendinamit rumah warga, sekolah dan sebuah waduk air. 20 ternak dibunuh dan enam toko dijarah. ‘’

-  Editor majalah Katolik The Sign mengatakan: ‘’Teror adalah senjata andalan Nazi, namun Nazi tidak pernah menggunakan teror yang lebih berdarah dingin dan  tanpa alasan dari apa yang dilakuan Israel di Qibya.’’

- Dewan Keamanan PBB mengutuk serangan tersebut serta menolak pengajuan Israel untuk mengutuk serangan yang dilancarkan orang-orang Arab.

-  Amerika Serikat menunda bantuannya ke Israel.

-  Pemerintah Inggris mengirimkan senjata ke Yordania  untuk memperkuat pasukan penjaga keamanan nasional.

-  Seluruh  jurnalis Israel mengutuk pembantaian di Qibya.

-  Pembanataian di Qibya membuat situasi antara Israel dan dan sejumlah negara-negara Arab memanas serta mengakibatkan perang antara Israel dan Mesir tahun 1956.

(T.RS/S: Wafa)

leave a reply