Laporan: Pelanggaran Israel terhadap anak di bawah umur di Al-Quds

Al-Quds, SPNA - Sebuah laporan terbaru yang dikeluarkan oleh berbagai kelompok hak asasi manusia Israel; HaMoked, Pusat Perlindungan Indivisu dan B'Tselem, dengan dukungan dari Uni Eropa,.....

BY adminEdited Sat,28 Oct 2017,10:28 AM

Al-Quds, SPNA - Sebuah laporan terbaru yang dikeluarkan oleh berbagai kelompok hak asasi manusia Israel; HaMoked, Pusat Perlindungan Indivisu dan B'Tselem, dengan dukungan dari Uni Eropa, mengungkapkan, "Pemerintah Israel melakukan kekerasan yang lebih luas," terhadap ratusan remaja Palestina yang ditahan di wilayah Yerusalem Timur (Al-Quds).

Laporan tersebut, yang diberi judul “Unprotected: The detention of Palestinian Teenagers in East Jerusalem” dirilis pada hari Rabu (25/10/2017), dan memaparkan hasil penyelidikan terhadap 60 pernyataan tertulis yang dikumpulkan antara Mei 2015 dan Oktober 2016.

Kelompok-kelompok tersebut menemukan berbagai kasus penganiayaan anak-anak di tahanan polisi Israel.

"Saat tengah malam, remaja-remaja Palestina di Yerusalem Timur ditarik keluar dari kamar mereka. Tidak seharusnya tangan mereka diborgol dan menjalani interogasi tanpa diberi kesempatan untuk berbicara dengan pengacara atau orang tua mereka. Sebelum diinterogasi, tidak ada pemberitahuan tentang hak mereka untuk tetap diam." Kelompok tersebut juga menemukan. "Mereka kemudian ditahan dalam kondisi yang keras, berhari-hari bahkan berminggu-minggu mereka ditahan, bahkan setelah interogasi dilakukan terhadap mereka berakhir. Dalam beberapa kasus, semua ini diantara mereka ada yang mengalami kekerasan verbal, ancaman dan penganiayaan fisik. "

Laporan tersebut juga merangkum kasus yang terjadi sejak tahun lalu, yaitu penangkapan remaja ini terus berlanjut. Misalnya, pada 23 Oktober, pasukan Israel menyerbu desa Issawiya di Yerusalem Timur, yang memicu bentrokan antara pemuda lokal dan pasukan Israel.

Bagi desa yang terletak di dekat Rumah Sakit Ibrani Israel dan Rumah Sakit Hadassah tersebut, bentrokan bukanlah hal baru. Bahkan beberapa diantaranya berakhir dengan penangkapan dan banyak korban terluka. Terhitung dari 51 orang Palestina yang ditahan oleh pasukan Israel, 27 di antaranya adalah remaja antara berusia 15 dan 18, menurut data Komite Tahanan Palestina.

Laporan yang dirilis pada hari Rabu tersebut memberi gambaran tentang apa yang saat dihadapi oleh para remaja tersebut.

"Para remaja tersebut berada dalam situasi yang mengancam dan membingungkan. Tidak ada yang menjelaskan mengapa mereka dicurigai, apa hak mereka, berapa lama proses yang akan mereka jalani dan kapan mereka akan kembali ke rumah dan keluarga mereka." Demikian ungkpa laporan tersebut.

"HIngga mereka dibebaskan, mereka dijauhkan dari orang tua dan tak satupun keluaga yang boleh mendampingi mereka. Praktik penangkapan dan interogasi ini membuat pihak berwenang bebas menekan mereka yang ditahan agar mengaku sebuah tuduhan.

Bertentangan dengan protokol

Menganalisis hukum dan protokol Israel, kelompok-kelompok tersebut menemukan bahwa dalam kasus ini, pasukan Israel sering melanggar peraturan mereka sendiri.

Misalnya, hukum Israel hanya memperbolehkan penangkap terhadap pemuda sebagai upaya terakhir, namun bukti persidangan oleh B'Tselem dan HaMoked menunjukkan bahwa hanya 13 persen kasus yang menunjukkan "polisi menahan diri dari penangkapan." Hal ini pun menunjukkan bahwa "tindakan yang lebih disukai polisi" adalah ketika berhadapan dengan anak-anak Palestina di Yerusalem Timur (Al-Quds).

Selain itu, menurut protokol Israel, secara fisik penahanan terhadap “anak di bawah umur hanya dilakukan pada kasus luar biasa." Namun laporan tersebut menunjukkan, dalam 60 kasus, setidaknya 81 % anak-anak diborgol sebelum ditempatkan di kendaraan polisi, sementara 70 % tetap berada dalam tahanan selama masa interogasi mereka.

"Bahkan, setidaknya dalam beberapa kasus, interogator menunggu sampai pagi untuk memulai interogasi. Akibatnya, anak-anak diinterogasi dalam keadaan lelah dan ketakutan setelah tidak tidur semalaman," catat laporan tersebut.

Di balik penangkapan

Menurut kelompok hak asasi manusia Addameer, ada beberapa alasan utama pasukan Israel memilih melakukan pengakapan terhadap anak di bawah umur di Yerusalem Timur.

Addameer percaya tentara Israel dan polisi menargetkan kaum muda sebagai upaya untuk menekan pihak keluarga dan masyarakat, mendorong mereka untuk "mengakhiri mobilisasi sosial" melawan pendudukan. Selain itu, Addameer menemukan bahwa penangkapan anak-anak saat usia mereka masih belia dapat mencegah partisipasi mereka dalam bentrokan dan lemparan batu, yang umumnya dilakukan pemuda untuk melawan pendudukan Israel. Terakhir, Addameer melaporkan bahwa mereka telah mengumpulkan kesaksian yang menyarankan agar anak-anak "secara rutin" ditangkap dan diminta untuk "menjadi informan" serta "memberikan informasi mengenai baik mengenai tokoh terkemuka yang terlibat dalam upaya advokasi, maupun anak-anak lain yang berpartisipasi dalam demonstrasi."

Laporan B'Tselem dan HaMoked menyimpulkan bahwa kebijakan Israel terhadap anak-anak Yerusalem Timur adalah sebuah kebijakan yang dibuat dengan sengaja, yang digunakan oleh negara untuk menekan warga Palestina agar pergi dari kota tersebut.

"Sistem penegakan hukum Israel memperlakukan warga Palestina dari Yerusalem Timur sebagai anggota populasi yang saling bermusuhan. Anak-anak di bawah umur dan orang dewasa dianggap bersalah. Kepada mereka diberlakukan tindakan ekstrem, yang belum pernah dikenakan pada kelompok masyarakat lainnya, "lanjut laporan tersebut."

Sistem peradilan Israel, telah menjadikan orang-orang Palestina sebagai sasaran ketidakadilan, baik oleh polisi, penjaga penjara, jaksa dan hakim maupun  warga Israel. Mereka kemudian diinterogasi, dan para pemudanya dianggap sebagai musuh yang dapat mengganggu kepentingan masyarakat Israel.

(T.RA/S: Mondoweiss)

leave a reply