Sekretaris luar negeri Inggris 'bangga' atas Deklarasi Balfour

"Saya bangga dengan peran Inggris dalam menciptakan Israel," tulis Johnson di surat kabar Telegraph, Ahad (30/10/2017). Ia menambahkan bahwa deklarasi tersebut "sangat diperlukan untuk menciptakan sebuah negara besar."

BY adminEdited Tue,31 Oct 2017,11:33 AM
Sekretaris luar negeri Inggris 'bangga' atas Deklarasi Balfour

Days of Palestine - London

London, SPNA – Boris Johnson, sekretaris luar negeri Inggris, mempertahankan peran pendahulunya satu abad lalu untuk membuka jalan bagi berdirinya ‘negara’ Israel, dengan mengatakan bahwa dua negara berdaulat untuk orang Israel dan Palestina tetap merupakan "solusi yang tepat" bagi perdamaian.

"Saya bangga dengan peran Inggris dalam menciptakan Israel," tulis Johnson di surat kabar Telegraph, Ahad (30/10/2017). Ia menambahkan bahwa deklarasi tersebut "sangat diperlukan untuk menciptakan sebuah negara besar."

Komentar Johnson tersebut diungkapkan menjelang peringatan 100 tahun Deklarasi Balfour yang akan digelar Kamis ini di Inggris.

Deklarasi Balfour, pada 2 November 1917, dipelopori oleh oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, yang menyatakan dukungan Inggris atas terbentuknya ‘nagara’ Israel di Palestina.

Orang-orang Palestina marah atas deklarasi tersebut dan selama berbulan-bulan mengadakan kampanye yang bertujuan memaksa Inggris untuk meminta maaf atas deklarasi tersebut.

Pemerintah Inggris pada bulan April menolak permintaan untuk meminta maaf, dengan mengatakan: "Deklarasi Balfour adalah pernyataan bersejarah yang oleh Pemerintah Yang Mulia tidak ingin meminta maaf. Kami bangga dengan peran kami dalam menciptakan Negara Israel. Tugas sekarang adalah mendorong lahirnya perdamaian. "

Johnson memuji deklarasi tersebut karena "tujuan moral yang tak terbayangkan: untuk memberikan tanah air yang aman dan aman untuk orang-orang yang teraniaya."
Pada saat yang sama, dia juga menekankan bahwa London tetap berkomitmen pada solusi dua negara.

"Saya tidak ragu bahwa satu-satunya solusi yang tepat untuk konflik tersebut sebagaimana yang pertama kali ditemukan pada dokumen orang Inggris lainnya, Lord Peel, dalam laporan Komisi Kerajaan di Palestina pada tahun 1937, dan itulah visi dua negara...," tulis Johnson dalam sebuah artikel.

Perbatasannya, lanjutnya, seharusnya seperti sebelum perang Enam Hari pada tahun 1967, dengan Yerusalem "sebuah ibu kota bersama" dan "pertukaran lahan yang setara untuk mencerminkan kepentingan nasional, keamanan, dan agama masyarakat Yahudi dan Palestina."

"Satu abad ke depan, Inggris akan memberikan dukungan apa pun yang bisa diberikan untuk menutup celah dan menyelesaikan urusan Deklarasi Balfour yang belum selesai," tulisnya.

(T.RA/S: Days of Palestine)

leave a reply
Posting terakhir