Tenaga medis darurat Palestina, pekerjaan vital berbahya

Yerusalem, SPNA - Adalah tenaga medis Palestina, orang-orang yang melakukan tugas vital dan sangat  berbahaya di wilayah pendudukan Palestina. Mereka, para teknisi medis darurat, akan hadir lebih awal setelah ....

BY adminEdited Mon,04 Dec 2017,11:35 AM

Yerusalem, SPNA - Adalah tenaga medis Palestina, orang-orang yang melakukan tugas vital dan sangat  berbahaya di wilayah pendudukan Palestina. Mereka, para teknisi medis darurat, akan hadir lebih awal setelah terjadinya sebuah serangan, dan sering berada di dekat demonstrasi atau bentrokan guna membantu orang-orang yang terluka.

Para staf di Pusat Kesehatan Darurat Palestina Bulan Sabit Palestina (PRCS) di Yerusalem menuturkan kisah mereka saat bertugas dan menghadapi ancaman ancaman dari militer Israel, menempatkan mereka dalam bahaya dan berdampak pada penyediaan layanan kesehatan yang berkelanjutan. Ibrahim dan Muhammad, dua dari para petugas tersebut, bertutur mengenai kisah mereka dalam menjalan tugas berat tersebut.

Mohammed menuturkan, "Kami bekerja untuk Pusat Medis Darurat PRCS di Yerusalem. Saya seorang tenaga medis, dan Ibrahim adalah kepala sukarelawan di Yerusalem. Kami adalah cabang khusus karena kami menghubungkan wilayah Palestina dengan wilayah Israel. "

"Misi kami adalah memberikan layanan medis darurat dan memindahkan pasien dari pos pemeriksaan ke rumah sakit," tutur Ibrahim.

Dalam menjalankan tugas, mereka kerap menghadapai kekerasan dari tentara Israel. Menurut Ibrahim, tentara Israel kadang menendang dan bahkan menembak relawan PRCS. Tentara berkata, “Anda tidak harus berada di sini, ini bukan pekerjaan Anda,' jadi jika ada kasus kritis, katakanlah seseorang telah tertembak, relawan PRCS tidak selalu diizinkan menjadi penanggap pertama di lokasi kejadian."

"Suatu kali seorang tentara Israel menodongkan pistol ke kepala saya dan mengatakan, ‘Mengapa Anda ingin datang ke sini?' Sangat sering kami menghadapi masalah seperti ini," lanjut Ibrahim.

Mohammed menjelaskan bahwa dalam situasi bentrokan, pihak berwenang Israel dapat menolak membiarkan ambulans RRCS memasuki daerah guna menangani korban terluka.

Selama bentrokan pada pertengahan Juli lalu di Yerusalem, mereka menghadapi pembatasan dalam memindahkan pasien ke rumah sakit. Tentara Israel memanggil Komite Internasional Palang Merah dan mengatakan bahwa di sana adalah daerah militer dan ambulans atau staf medis dilarang masuk."

Mereka mencatat enam kasus penganiayaan telah terjadi kepada para staf, di mana relawan RRCS atau petugas medis ditembak atau dipukul oleh tentara. Kasus lainnya adalah tentara kerap menghentikan ambulans lalu menahan pasien yang ada di dalamnya.

Mohammed menuturkan, ketika penduduk mendengar bahwa seseorang telah ditangkap saat berada dalam ambulans RRCS di Yerusalem, mereka pun berhenti mempercayai kami. Mereka lebih memilih membawa pasien dengan menggunakan mobil pribadi. "

(T.RA/S: MAP)

leave a reply