Ancaman berbahaya senjata nuklir Israel

London, SPNA - Secara pribadi, telah dipahami dengan baik oleh pejabat AS sejak tahun 1960 bahwa Israel memiliki kapasitas untuk membangun senjata nuklirnya sendiri. Secara umum, Israel memiliki kebijakan untuk tidak menegaskan atau menolak persediaan nuklirnya,...

BY adminEdited Tue,05 Dec 2017,11:52 AM

Oleh: Asa Winstanley

London, SPNA - Secara pribadi, telah dipahami dengan baik oleh pejabat AS sejak tahun 1960 bahwa Israel memiliki kapasitas untuk membangun senjata nuklirnya sendiri. Secara umum, Israel memiliki kebijakan untuk tidak menegaskan atau menolak persediaan nuklirnya, walaupun saat ini hal tersebut merupakan fakta yang jelas.

Sejak 1968, atau bahkan mungkin sebelumnya, Israel telah mengumpulkannya dalam sebuah gudang rahasia yang diperkirakan berjumlah 80 hulu ledak nuklir. Dalam email tahun 2015 yang di-hack, mantan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell menulis bahwa Israel memiliki "200 (bom nuklir), semuanya ditargetkan ke Teheran." Angka yang terakhir mungkin berlebihan, namun tidak ada keraguan bahwa Israel memiliki bom tersebut, dan dalam jumlah yang signifikan

Buku karya Seymour Hersh, The Sampson Option, adalah buku definitif yang merinci kisah tentang bagaimana Israel memperoleh bom tersebut. Di dalamnya, Hersh - seorang jurnalis investigasi terkenal - menceritakan bagaimana Israel bekerja dengan ilmuwan Prancis di tahun 1950an dan 1960an untuk membangun sebuah reaktor nuklir di Dimona di Gurun Negev selatan. Foto-foto oleh pesawat mata-mata AS menunjukkan bahwa Israel, meski memiliki pangkalan, memang sedang membangun reaktor tersebut. Namun, para politisi dan pejabat tinggi sepertinya tidak ingin tahu.

Sebenarnya, tampaknya ada kebijakan yang disengaja dari Presiden AS secara turun-temurun untuk menutup mata terhadap apa yang sedang terjadi, mengabaikan intelijen mereka sendiri. Seorang duta besar AS untuk Israel, Walworth Barbour, berada membukukan hal tersebut selama 12 tahun dan merupakan simbol dari semua ini. Tugasnya yang panjang, Hersh menulis, merupakan bukti atas "kesediaannya untuk mengoperasikan kedutaan Amerika sebagai anak perusahaan, jika perlu, dari kementerian luar negeri Israel." Menurut Hersh, Barbour bersedia untuk menyingkir saat diperintahkan untuk melakukannya dan " mengizinkan Gedung Putih dan duta besar Israel ke Washington untuk menjalankan kebijakan sebenarnya di belakangnya."

The Sampson Option, yang diterbitkan pada tahun 1991, adalah buku yang mengesankan, di mana sebagian besar didasarkan pada catatan resmi AS dan sumber resmi AS dan Israel, di mana beberapa di antaranya berbicara secara anonim. Ini adalah karakteristik Hersh yang mencampurkan sumber militer dan intelijen yang mengesankan, mendekatinya dengan skeptisisme yang mengagumkan dan kekakuan kritis. Tidak seperti kebanyakan jurnalis utama AS yang melaporkan urusan "intelijen" Israel, Hersh menolak menyerahkan bukunya ke sensor Israel.

Ini adalah skandal yang hampir tidak dilaporkan sama sekali, bahwa militer Israel memberlakukan penyensoran sederhana pada jurnalis domestik dan asing yang beroperasi di negara ini. Setiap rezim lain yang beroperasi dengan cara ini tidak akan dipresentasikan oleh media sebagai "demokrasi", seperti yang hampir selalu dilakukan Israel. Bagi orang-orang Palestina yang hidupnya dalam pendudukan yang brutal, Israel adalah sebuah kediktatoran militer.

Hersh bisa melewati penyensoran Israel meski tetap berada di luar negeri. Dia berbicara dengan sumber-sumber Israel baik melalui telepon atau saat mereka berada di AS.

Berdasarkan laporan pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya, dia menceritakan sebuah kisah tentang produksi bom atom Israel yang pertama. Dengan beberapa teman Israel terbaik dari Presiden AS Donald Trump, yang anti-Muslim, dan ini adalah cerita mengerikan yang relevansi dengan kondisi saat ini.

Pada tahun 1968, Menteri Pertahanan Israel dan mantan Jenderal Moshe Dayan menunjukkan kawasan di sekitar Dimona kepada Menteri Keuangan, Pinchas Sapir, sebagai usaha untuk meyakinkannya bahwa bom nuklir tersebut masuk akal secara finansial dan layak untuk didanai. Sapir skeptis, sehingga Dayan "menunjukkan semuanya, dari A sampai Z," kata sumber resmi Israel, Hersh.

"Sudahkah anda melihat semuanya?" Sapir kemudian bertanya kepada seorang rekan menterinya. "Saya sudah melihatnya dan Anda tidak tahu apa-apa. Tidak akan ada lagi Auschwitz."

Auschwitz merupakan referensi kamp kematian Nazi yang terkenal, dimana diperkirakan lebih dari 1,3 juta orang dibantai, sebagian besarnya adalah orang Yahudi. Referensi tersebut mencerminkan gagasan yang tidak sesuai, yang lazim dalam propaganda Israel, bahwa negara Israel didirikan untuk melindungi orang-orang Yahudi dari genosida Nazi. Tentu saja, dalam perencanaan setidaknya 50 tahun sebelum Holocaust diakui, yaitu genosida terhadap kira-kira enam juta penganut Yahudi Eropa selama Perang Dunia II, suatu program pembunuhan sistematis yang didukung oleh Nazi Jerman.

Selanjutnya, ideologi pendirian Israel, Zionisme, memiliki hubungan yang jauh lebih gelap dan lebih rumit dengan Nazisme dan anti-Semitisme. Kadang-kadang, individu dan kelompok dalam gerakan Zionis berkolaborasi secara aktif dengan Nazi Jerman, yang pertama kali muncul pada tahun 1930an dengan kesepakatan transfer. Dalam kasus Rudolf Katzner (seorang pejabat pemerintah Israel dan kandidat parlemen yang tidak berhasil untuk partai Mapai, partai yang kemudian bergabung dengan kelompok "Zionis kiri" lainnya untuk membentuk Partai Buruh), ini bahkan diperluas melalui kerja sama dengan rezim Nazi yang secara langsung menempati Hungaria menjelang akhir perang, memberi ruang bagi mereka untuk membantai orang-orang Yahudi Hungaria sambil menyelamatkan dirinya sendiri bersama lebih dari 1.600 lainnya.

Lalu, apakah bom nuklir Israel membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman bagi orang Yahudi, atau siapa pun dalam hal ini? Jawabannya adalah tidak.

Apakah ada "holocaust baru" hari ini, tidak diragukan lagi bahwa target utamanya adalah Muslim. Dengan Presiden AS sekarang yang secara terbuka mempromosikan kebijakan anti-Muslim, makan iklim yang semakin berbahaya sedang dihasilkan.

Tidak ada keraguan tentang di sisi mana Israel berada. Dengan adanyaTrump yang sangat pro-Israel, demikian sebaliknya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sangat pro-Trump, maka dalam konteks seperti ini, senjata nuklir Israel saat ini jauh lebih mungkin untuk menciptakan "Auschwitz baru" daripada menghentikannya.

 

Asa Winstanley adalah seorang jurnalis investigasi yang tinggal di London yang menulis tentang Palestina dan Timur Tengah. Ia telah mengunjungi Palestina sejak 2004 dan berasal dari Wales selatan. Ia menulis untuk situs berita Palestina, The Electronic Intifadah dan associate editor untuk Middle East Monitor.

(T.RA/S: The Palestinian Information Center)

leave a reply