Syaikh Al-Azhar tolak undangan pertemuan dengan wakil Presiden AS, ‘’Kami tidak sudi duduk dengan pemalsu sejarah’’

Cairo, SPNA - Grand Syaikh Lembaga Sunni terbesar di dunia, Al-Azhar AL-Syarif, Dr. Ahmad al-Tayeb, Jum’at (08/12/2017) menolak udangan pertemuan dengan Waklil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence 20 Desember mendatang.

BY adminEdited Sat,09 Dec 2017,10:25 AM

Cairo, SPNA - Grand Syaikh Lembaga Sunni terbesar di dunia, Al-Azhar AL-Syarif, Dr. Ahmad al-Tayeb, Jum’at (08/12/2017) menolak udangan pertemuan dengan Waklil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence 20 Desember mendatang.

Hal ini dilakukan untuk mempertegas penolakan Al-Azhar terhadap Deklarasi Donald Trump yang menyakiti umat Islam di seluruh dunia. 

Sebelumnya, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Cairo mengajukan undangan resmi minggu lalu untuk mengatur  pertemuan antara Grand Syaikh  dan Wakil Presiden AS  dalam kunjungannya ke Mesir 20 Desember mendatang.

Namun setelah Presiden AS mendeklarasikan keputusan yang deskriminatif dan sepihak,bahwa Al-Quds ibukota Israel maka beliau menolak keras undangan tersebut.

‘’Al-Azhar tidak dapat duduk dengan para pemalsu sejarah dan mereka yang merampas hak-hak umat Islam serta melecehkan situs suci mereka (AS dan Israel),  ‘’ tegasnya.

"Bagaimana saya bisa duduk dengan mereka yang memberikan yang tidak mereka miliki kepada mereka yang tidak berhak. Kami menuntut presiden AS untuk membatalkan keputusan yang ilegal secara hukum itu.‘’

Grand Syaikh juga menuntut Presiden AS bertanggung jawab penuh karena menanamkan kebencian di hati umat Islam dan semua orang yang mencintai perdamaian serta melanggar nilai dan prinsip demokrasi dan prinsip keadilan.

“Presiden Amerika harus menanggung konsekuensi penyebaran kebencian yang berupaya dibendung Al-Azhar siang dan malam dengan mengajarkan prinsip toleransi. ‘’

Usai sholat Jum'at, Syaikh Ahmad Tayyib menyampaikan seruan kepada warga Yerusalem,: ‘’Biarlah intifada ketigamu  sama kuatnya seperti imanmu dan cintamu kepada negaramu. Kami akan terus bersamamu dan kami tidak akan mengecewakanmu.’’

Al-Azhar Al-Sharif sejak awal telah menegaskan menolak keputusan pemerintah Amerika Serikat yang mengumumkan Yerusalem ibukota Zionis. Al-Azhar juga sudah berulang kali memperingatkan konsekuensi dari keputusan ini terhadap keamanan dan perdamaian dunia.

Sebelumnya, dalam pertemuan dengan mantan PM Inggris Tony Blair,   Syekh Ahmad Tayyib memperingatkan bahaya yang ditimbulkan jika AS merelokasi kedutaannya ke Yerusalem. Beliau mengatakan bahwa gerbang neraka akan terbuka di Barat sebelum di Timur jika Trump mendeklarasi Yerusalem sebagai kota Israel.

 ‘’Trump mengabaikan perasaan lebih dari 1,5 miliar Muslim  dan jutaan warga Kristen Arab,’’tegasnya.

Grand Syaikh juga meminta masyarakat internasional dan institusi terkait untuk menangani masalah ini dan membatalkan legitimasi resolusi Trump tersebut serta menegaskan hak rakyat Palestina di tanah yang diduduki, dengan Yerusalem sebagai ibukotanya.

Sebelumnya Kementerian wakaf Mesir mengumumkan pada hari Jumat akan menggelar konferensi mengenai bahaya yahudisasi kota Yerusalem menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump.

Pada hari Rabu, Trump mendeklarasikan bahwa Yerusalem Timur dan Yerusalem Barat adalah ibu kota Israel serta akan merelokasi kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem Timur yang diduduki, dimana keputusan tersebut memicu kemarahan Arab, Islam di seluruh dunia. (T.RS/S:Al-youm7)

leave a reply