Kuwait berencana buka kedutaan besar di Palestina

Kuwait, SPNA - Duta besar Palestina untuk Kuwait Rami Tahboub, Selasa (23/01/2018) mengatakan bahwa pemerintah Kuwait berencana membuka kedutaannya di Palestina.

BY adminEdited Wed,24 Jan 2018,09:42 AM

Kuwait, SPNA - Duta besar Palestina untuk Kuwait Rami Tahboub, Selasa (23/01/2018) mengatakan bahwa pemerintah Kuwait berencana membuka kedutaannya di Palestina.

Tahboub menambahkan, Kedutaaan Besar Kuwait untuk Palestina direncanakan akan dibuka di kota Ramallah, dimana langkah tersebut disambut baik pemerintah Palestina, seperti dilansir Skynews Arabia. 

Sebelumnya, Kuwait menyatakan penyesalannya atas keputusan AS 6 Desember lalu yang mendeklarasikan Al-Quds ibu kota Israel serta rencananya untuk merelokasi kedubesnya ke kota suci tersebut.

Keputusan Donald tersebut merupakan lampu hijau bagi zionis untuk terus memperluas pengaruhnya di Al-Quds serta membangun hunian ilegal di Al-Quds  yang telah dilarang Dewan Keamanan PBB dan mengurangi populasi warga Palestina di kota suci tersebut.

Deklarasi Trump juga menimbulkan gelombang demonstrasi di Palestina dan seluruh dunia serta mendapatkan respon negatif dari organisasi Yahudi ‘’Neturei Karta’’ yang menyatakan bahwa zionis bukan bagian dari Yahudi.

Sebelumnya 66 siswa Yahudi juga menuliskan sebuah petisi kepada pemerintah Netanyahu yang berisi menolak segala tindakan rasis dan penjajah terhadap Palestina.

Majelis Umum PBB, Kamis (21/12/2017) menetapkan sebuah resolusi menentang keputusan Donald Trump dengan dukungan 128 negara. PBB menyatakan bahwa status Al-Quds harus diselesaikan melalui perundingan langsung antara Palestina dan Israel, sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB terkait.

Senin lalu (15/1/2017)  Dewan Pusat Palestina mengumumkan, bahwa Palestina  akan menangguhkan pengakuan terhadap kedaulatan Israel sampai Israel mengakui kedaulatan Palestina di perbatasan 1967 serta menghentikan  pendudukan terhadap Yerusalem Timur dan permukiman ilegal.

Dalam sidang final Dewan Pusat Palestina di Ramallah, Komite Eksekutif PLO diberikan mandat untuk  menangguhkan pengakuan terhadap kedaulatan Israel, sebagai tanggapan atas pengakuan Presiden AS Donald Trump.

Koresponden AFP melansir bahwa 74 anggota sidang memilih resolusi tersebut, dua menentang, sementara 12 lainnya abstain.

Sidang Dewan Pusat Palestina berlangsung selama dua hari, Minggu dan Senin untuk membahas tanggapan terhadap inisiatif perdamaian Donald Trump yang menuntut Palestina menjadikan Abu Dis ibukota Israel, serta menyerahkan kedaulatan Al-Quds kepada Israel.

Abbas juga menolak menjadikan AS mediasi perundingan damai dengan Israel, serta menuduh Israel telah melanggar perjanjian perdamian Oslo tahun 1993.

(T.RS/S:SkynewsArabia)

leave a reply