“Doble Standard” kantor berita Amerika Serikat dalam pemberitaan konflik Israel-Palestina

Sebuah studi tentang laporan berita sepanjang 2018 mengindikasikan bahwa Associated Press telah mempresentasikan kematian orang Israel di tangan orang-orang Palestina, dan orang-orang Palestina di tangan orang Israel, dengan dua cara yang berbeda.

BY adminEdited Fri,09 Feb 2018,09:10 AM

Israel Palestine News - New York

News York, SPNA - Setiap hari, lebih dari separuh populasi dunia membaca konten yang disajikan oleh kantor berita Amerika Serikat, Associated Press (AP).

Namun sebuah studi tentang laporan berita sepanjang 2018 mengindikasikan bahwa sumber berita “terpercaya” ini telah mempresentasikan kematian orang Israel di tangan orang-orang Palestina, dan orang-orang Palestina di tangan orang Israel, dengan dua cara yang berbeda.

Pola ini yang akhirnya mempengaruhi bagaimana cara pandang pembaca terhadap konflik yang telah berlangsung puluhan tahun tersebut, termasuk cara pandang para editor di seluruh AS, yang membaca berita AP.

Di awal tahun 2018, sebelas orang Palestina dan dua orang Israel telah terbunuh. Sejak 6 Desember, ketika Presiden Trump mengumumkan bahwa AS akan mengakui Yerusalem sebagai "ibu kota Israel," membatalkan beberapa kebijakan AS yang telah ada selama beberapa dekade, 27 warga Palestina dan dua orang Israel telah meninggal.

Dalam laporan berita 2018 AP, kematian warga Palestina telah dilaporkan dalam artikel berita jauh lebih sedikit daripada kematian Israel, rata-rata panjangnya mencapai 181 kata, sementara laporan kematian warga Israel bisa menvapai 551 kata.

Selain jumlah kata, pilihan kata, konteks, dan fakta untuk dilaporkan dan mana yang harus dihindari tampaknya menceritakan dua jenis cerita yang berbeda untuk orang Israel dan Palestina.

Laporan tentang kematian warga Israel akan memuat pernyataan oleh pejabat tinggi yang mengecam serangan tersebut. Ini sering ditulis dengan keras, pernyataan bermuatan politis yang menyampaikan narasi Israel, misalnya, "Israel akan melakukan segala kemungkinan untuk menangkap pembunuh yang tercela itu"; "Tidak ada pembenaran untuk teror ... Ini bukan jalan menuju perdamaian!" Sementara kematian warga Palestina digambarkan dengan, "Hamas memuji pembunuh tersebut dan undang-undang Otoritas Palestina (PA) akan memberi mereka imbalan finansial. Maka jangan bertanya mengapa tidak ada perdamaian. "

Sebaliknya, laporan AP ini jarang menyertakan pernyataan oleh pejabat Palestina yang mengecam pembunuhan orang-orang Palestina, yang akan memberikan perspektif lain bagi para pembaca. Misalnya, juru bicara Fatah Osama Qawassmeh mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa Israel bersalah atas daftar panjang tindakan yang "bertentangan dengan hukum internasional."

Pejabat Palestina lainnya mengutuk "pembunuhan di luar hukum" Israel dan memperingatkan kecenderungan Israel untuk mengubah Tepi Barat menjadi "adegan yang meningkatkan eskalasi dan keamanan sehingga dapat menekan rakyat dan pemimpin kita, dan mengalihkan perhatian dari ekspansi penjajah di negara kita."

Sudut pandang Palestina semacam itu, yang sebagian besar akurat dan mudah didapat, tidak pernah dilaporkan dalam artikel AP.

AP menggambarkan dengan deskripsi yang berbeda antar korban dari kalangan Israel dan Palestina. Seorang korban Israel misalnya ditulis dengan, "Pria 29 tahun yang merupakan ayah dari empat orang anak." Dalam upaya penyelamatan, seorang korban Israel dituliskan, "Upaya besar untuk menyelamatkan nyawa manusia, namun lika-lukanya terlalu parah."

Adapun korban dari kalangan Palestina digambarkan dengan cara yang negatif, seperti, "pemrotes bersenjata," "penghasut," dan "pemrotes yang melemparkan sejumlah besar bebatuan."

Tidak ada satupun laporan AP yang menjelaskan mengenai upaya menyelamatkan nyawa korban dari pihak Palestina, walaupun tentu saja upaya tersebut dilakukan.

(T.RA/S: Israel Palestine News)

leave a reply