Warga Palestina yang terdampar di Mesir berangkat ke Rafah

Kairo, SPNA - Sekelompok warga Palestina yang terdiri dari sekitar 160 orang, dan terdampar di bandara Kairo selama hampir dua pekan setelah ditolak masuk ke Jalur Gaza, akhirnya diizinkan untuk kembali ke daerah darah tersebut.

BY adminEdited Tue,20 Feb 2018,11:05 AM

Kairo, SPNA - Sekelompok warga Palestina yang terdiri dari sekitar 160 orang, dan terdampar di bandara Kairo selama hampir dua pekan setelah ditolak masuk ke Jalur Gaza, akhirnya diizinkan untuk kembali ke daerah darah tersebut.

Kedutaan Palestina di Mesir mengumumkan pada hari Senin (19/02/2018), bahwa persimpangan Rafah akan dibuka pada hari Selasa itu untuk mengizinkan warga Palestina kembali ke Jalur Gaza.

Seseorang, yang tidak disebutkan namanya, memberi konfirmasi kepada Al Jazeera bahwa kelompok tersebut telah memakai bus dan dibawa keluar dari bandara.

Kelompok tersebut tertahan di bandara Kairo selama 13 hari setelah Mesir tiba-tiba menutup persimpangan, di mana sebelumnya sebelumnya mengatakan akan membuka sementara penyeberangan Rafah pada 7 Februari selama tiga hari, namun menutupnya dua hari kemudian, pada 9 Februari.

Menurut kelompok hak asasi manusia, kelompok tersebut mengalami kondisi yang "mengerikan" - tanpa akses makanan yang layak, air atau kasur untuk tidur - saat terjebak di bandara.

Kelompok tersebut kembali ke Jalur Gaza, yang berbatasan dengan Mesir, pekan lalu ketika pasukan keamanan Mesir mengatakan kepada mereka bahwa persimpangan perbatasan tiba-tiba ditutup dan menuntut agar mereka kembali ke negara tempat mereka berasal. Kepada Al Jazeera, salah seorang mengungkapkan, "Kami menolak karena ada orang-orang yang telah menyelesaikan studi mereka di luar negeri dan akan kembali ke rumah, dan yang lainnya berada di luar negeri untuk perawatan medis, namun harus kembali."

"Orang-orang baru saja kelelahan. Kami siap secara mental untuk kembali ke rumah," kata pria itu, menjelaskan bahwa mereka dihentikan di pos pemeriksaan Balouza di Sinai, beberapa kilometer dari Rafah yang melintasi antara Mesir dan Gaza.

Ia mengatakan bahwa kelompok tersebut menjalani "enam jam interogasi dan penghinaan" sebelum diminta untuk kembali ke bandara Kairo.

Jalur Gaza - yang menampung sekitar dua juta orang Palestina - tidak memiliki bandara dan berada di bawah blokade darat, laut dan udara Israel selama lebih dari satu dekade.

Israel menguasai wilayah udara Gaza dan perairan teritorial, serta dua dari tiga titik persimpangan perbatasan. Yang ketiga - Rafah - dikendalikan oleh Mesir dan jarang dibuka.

Bagi sebagian besar warga Palestina yang ingin melakukan perjalanan, belajar atau mencari perawatan medis di luar negeri, mereka harus menyeberang ke Mesir sebelum dapat terbang ke tempat tujuan mereka.

Ketika kelompok tersebut dipaksa kembali ke bandara Kairo, seorang utusan dari kedutaan Palestina mengancam mereka, menurut seorang pria yang berbicara dengan Al Jazeera.

"Dia mengatakan kepada kami bahwa kami rela ditahan secara damai di aula ini atau ia akan membawa pasukan keamanan untuk menahan kami dengan paksa," kata pria tersebut.

"Karena kami adalah orang yang lemah, kami sepakat untuk masuk ke aula ini sesuai kehendak kami sendiri. Lebih dari 70 persen di antara kami adalah wanita - banyak di antaranya hamil - begitu juga anak-anak, orang sakit dan lansia," tambahnya.

Pria tersebut juga mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kondisi di dalam aula itu "mengerikan", dan menjelaskan bahwa kelompok tersebut tidur di lantai dan kursi logam selama 12 hari terakhir. Aula itu, katanya, hanya memiliki dua kamar mandi.

"Seratus enam puluh orang tanpa pancuran tertahan selama 12 hari," katanya.

"Kamar mandi tidak memiliki sabun, itu bencana. Hewan pun tidak akan bisa tinggal di sini."

Banyak diantara mereka dilaporkan tertular penyakit kulit, dan satu orang tidak diobati setelah mengalami masalah jantung.

Beberapa kelompok hak asasi manusia mengecam situasi yang harus ditanggung oleh mereka yang terdampar.

Organisasi Arab untuk Hak Asasi Manusia di Inggris telah meminta kedutaan Palestina untuk "menjalankan tugasnya dan menekan pemerintah Mesir untuk mengizinkan (kelompok tersebut) kembali ke Jalur Gaza atau mendapatkan akomodasi sementara hingga persimpangan dibuka kembali."

"Organisasi tersebut meminta pihak berwenang Mesir untuk mematuhi hukum internasional dan mengizinkan mereka yang terjebak untuk kembali."

Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania mengatakan, "ratusan warga Palestina lainnya masih terdampar dan tertahan di sisi Mesir" di perbatasan Rafah - dan tidak dapat memasuki Gaza atau kembali ke Mesir.

Duta Besar Palestina di Kairo tidak segera memberi komentar terkait hal ini.

"Kami sangat lelah, saya menghubungi duta besar Palestina dan mengatakan kepadanya bahwa Anda memiliki dua pilihan: kami akan meminta orang-orang Israel melepaskan kami dari sini atau Anda melakukan sesuatu," kata salah seorang kepada Al Jazeera.

"Ini memalukan, memalukan bagi kami untuk mengatakan bahwa kami memiliki sebuah negara atau pemerintahan. Sungguh memalukan bagi kami untuk mengatakan bahwa kami memiliki sebuah negara namun mereka bahkan tidak dapat mengeluarkan 160 orang (dari sini)."

(T.RA/S: Al Jazeera)

leave a reply