Pemimpin oposisi Israel minta 'pemisahan' warga Palestina guna menjaga mayoritas Yahudi

Washington D.C, SPNA - Pemimpin oposisi Israel Avi Gabay menyerukan pembentukan negara Palestina "demiliterisasi" dengan maksud untuk "memisahkan" orang-orang Palestina dari Israel dan melestarikan "mayoritas Yahudi."

BY adminEdited Tue,06 Mar 2018,09:34 AM

Washington D.C, SPNA - Pemimpin oposisi Israel Avi Gabay menyerukan pembentukan negara Palestina "demiliterisasi" dengan maksud untuk "memisahkan" orang-orang Palestina dari Israel dan melestarikan "mayoritas Yahudi."

Gabay, pemimpin Partai Buruh Israel, menyampaikan hal tersebut pada konferensi tahunan Komite Urusan Publik Israel Amerika (AIPAC), yang diadakan pada hari Minggu malam di Washington D.C.

Ia juga mengkritik kebijakan Israel yang terus berlanjut untuk membangun permukiman Yahudi di wilayah Palestina yang diduduki di bawah pemerintahan sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Gabay, yang mengepalai koalisi oposisi Kamp Zionis, juga menyambut keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang baru-baru ini untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Mengacu pada rencana pemerintah A.S untuk memulai kembali perundingan perdamaian Palestina-Israel yang macet dengan mengatakan, "Saya harap rencana Presiden Trump akan mulai memulihkan kepercayaan diri. Kita seharusnya tidak menyerah pada mimpi ini."

"Kami harus memisahkan diri dari orang-orang Palestina," Gabay menambahkan, mengungkapkan keyakinannya bahwa pencapaian perdamaian akan menjamin keamanan Israel dalam jangka panjang.

Mengulangi posisi Israel yang telah berlangsung lama berhadapan dengan Iran, Gabay kemudian menyatakan bahwa Teheran seharusnya tidak diizinkan untuk menyelenggarakan program nuklir.

"Kami juga tidak akan mengizinkan (Hizbullah Libanon) untuk menyerang warga kami di Israel utara, dan kami tidak akan membiarkan Hamas (di Jalur Gaza) mengancam orang-orang yang tinggal di Israel selatan," katanya.

Konferensi AIPAC tahunan dihadiri oleh sejumlah besar pejabat Israel, termasuk PM Netanyahu.

Perundingan perdamaian Palestina-Israel pecah pada tahun 2014, karena sebagian besar penolakan Israel untuk mengakhiri kebijakan pembangunan permukiman lama di Tepi Barat yang diduduki.

(T.RA/S: Albawaba News)

leave a reply