Puluhan orang terluka akibat serangan zat klorin di Ghouta

Serangan klorin di kota Hamouriyah di Ghouta Timur telah melukai lebih dari 30 orang dalam semalam, sumber lokal di Suriah menuturkan.

BY adminEdited Wed,07 Mar 2018,11:20 AM

MEMO - Ghouta

Ghouta, SPNA - Serangan klorin di kota Hamouriyah di Ghouta Timur telah melukai lebih dari 30 orang dalam semalam, sumber lokal di Suriah menuturkan.

"Tim penyelamat pertahanan sipil telah berhasil mengevakuasi 30 warga sipil yang menderita sesak nafas, kebanyakan wanita dan anak-anak merasakan dampak dari serangan gas klorin oleh pasukan rezim Suriah di lingkungan di kota tersebut," Mahmoud Seraj, seorang anggota White Helm, mengatakan kepada MEMO. "Dua relawan juga menderita sesak napas saat melakukan tugas kemanusiaan mereka untuk membantu yang terluka."

Senin (05/03/2018) juga merupakan hari paling berdarah di Ghouta sejak gencatan senjata 30 hari, yang dengan suara bulat ditetapkan  di Dewan Keamanan PBB, di mana 80 orang gugur dan lebih dari 300 lainnya terluka akibat serangan udara Suriah yang terus berlanjut di daerah yang terkepung tersebut. Jumlah korban warga sipil yang meninggal mencapai 780, sejak serangan yang meningkat di distrik tersebut yang dimulai dua pekan lalu, menurut Observatorium untuk Hak Asasi Manusia Suriah.

Berita tentang serangan senjata kimia terjadi di tengah beberapa laporan bahwa konvoi bantuan tidak dapat menjangkau warga sipil, meskipun Rusia diduga mengizinkan bantuan, sebagai bagian dari rencana gencatan senjata, selama lima jam setiap hari.

Konvoi bantuan Komite Palang Merah Internasional mengkonfirmasi bahwa kendaraannya terpaksa mundur dari kota Douma setelah sembilan jam perjalanan akibat adanya penembakan. Sebanyak 14 truk bantuan yang dikirim oleh PBB, 70 persen merupakan bantuan medis yang telah dilucuti oleh oleh rezim Suriah sebelum diizinkan memasuki wilayah tersebut. Menurut Seraj, sekitar sembilan truk yang dikirim sebagai bagian dari konvoi antar kabupaten juga dipaksa keluar dari provinsi tersebut sebelum bisa menurunkan bantuan apapun.

Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan, PBB mengatakan bahwa mereka akan berusaha untuk memberikan bantuan lagi pada hari Kamis. Hanya satu konvoi kecil dengan persediaan untuk 7.200 orang telah diizinkan masuk Ghouta sejauh tahun ini, pada pertengahan Februari.

Pada hari Sabtu, Presiden Suriah Bashar al-Assad berjanji untuk melanjutkan serangan terhadap Ghouta timur, yang menyebut operasi tersebut sebagai "kelanjutan memerangi terorisme." Pasukan pemerintah telah menguasai seperempat wilayah yang dipegang oleh kelompok oposisi dan hanya perlu beberapa kilometer lagi untuk membagi daerah tersebut menjadi dua, kata seorang komandan dalam aliansi militer yang mendukung Assad, yang meningkatkan tuduhan bahwa rezim tersebut berusaha untuk menyekat provinsi tersebut.

Pada hari Jumat, Koordinator Kemanusiaan PBB Panos Moumtzis mengecam serangan yang terus berlanjut sebagai hukuman kolektif yang "tidak dapat diterima" oleh warga sipil, dan pemboman yang terus berlanjut mungkin merupakan kejahatan perang.

Pekan lalu, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert menyebut usulan Rusia untuk gencatan senjata lima jam "sebuah lelucon", yang mengecam pemboman yang terus berlanjut yang melanggar keputusan PBB tersebut.

"Apa yang perlu terjadi adalah gencatan senjata nasional yang memberikan suara dengan suara bulat di Perserikatan Bangsa-Bangsa Sabtu lalu," kata Nauert kepada wartawan pada sebuah konferensi pers. "Lima belas negara mendukungnya, izinkan saya mengingatkan Anda. Begitu pula Rusia."

(T.RA/S: MEMO)

leave a reply