Rencana penjualan sistem pertahanan S-300 ke Suriah resahkan Israel

Jalur Gaza, SPNA - Channel 2 Israel, Sabtu (14/04/2018) melaporkan bahwa militer Israel khawatir jika Rusia memasok sistem pertahanan rudal S-300 ...

BY adminEdited Sun,15 Apr 2018,09:56 AM

Jalur Gaza, SPNA - Channel 2 Israel, Sabtu (14/04/2018) melaporkan bahwa militer Israel khawatir jika Rusia memasok sistem pertahanan rudal S-300 setelah serangan militer Amerika, Inggris dan Perancis di Suriah, Sabtu kemarin.

Menurut Channel tersebut, sejumlah pejabat militer Israel khawatir bahwa serangan AS tersebut mendorong Rusia untuk mempercepat penjualan sistem pertahanan rudal S-300 yang sangat canggih  ke Bashar Asad dimana hal ini akan menyulitkan pasukan Israel untuk beroperasi di wilayah tersebut.

“Pejabat keamanan dan militer Israel percaya bahwa Moskow akan mengabaikan tuntutan Tel Aviv, dan akan mempercepat suplai sistem pertahanan rudal S-300 ke Suriah. ‘’

Sistem S-300 adalah sistem yang paling canggih jika dibandigkan dengan  sistem pertahanan rudal Suriah lainnya.  Sistem ini tidak hanya dapat menjatuhkan pesawat tetapi juga rudal balistik dengan jarak lebih dari 150 km.

Menurut laporan Yediot Ahronot, Suriah telah meminta Rusia untuk menyuplai S-300 sejak beberapa tahun terakhir, namun akibat tekanan AS,  Moskow menolak permintaan tersebut.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Operasional Rusia Angkatan Darat Rusia , Letnan Sergei Rodsqui, mengatakan bahwa Rusia akan mempertimbangkan kembali suplai S-300 setelah serangan yang dilakukan Amerika Serikat, Inggris dan Perancis kemarin.

Sebelumnya Presiden AS, Donald Trump, Sabtu (14/04/2018)  mengkampanyekan serangan ke Damaskus setelah setelah menuduh rezim Suriah menggunakan  senjata kimia terhadap warga sipil di Duma pekan lalu.

Sementara itu Kementerian Luar Negeri Suriah menolak tuduhan yang dilontarkan AS tersebut. “Tuduhan itu adalah skenario untuk memperlama keberadaan kelompok teroris, ‘’ tambahnya.

Menlu Suriah menyatakan bahwa kelompok bersenjata di Suriah adalah pihak dibalik serangan senjata kimia di Duma. ‘’Kami memiliki informasi yang dapat dipercayai dan sebelumnya pemerintah Suriah sudah memperingatkan hal ini, ‘’ tambahnya.

Duta besar Rusia untuk Washington dalam komentarnya terhadap serangan tersebut mengatakan Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris harus bertanggung jawab atas tindakannya.

“Washington tidak punya alasan logis untuk menyerang rezim Suriah, terutama AS adalah negara yang memiliki senjata kimia terbesar.’’

(T.RS/S:AnadoluAgency)

leave a reply
Posting terakhir