Kisah Syeikh Mujahidin Mesir Hassan Khalaf, pahlawan pembebasan Sinai ketika ditangkap militer Israel

Cairo, SPNA - Syeikh Mujahidin Mesir di Sinai, Hassan Khalaf meriwayatkan kisahnya dalam perang pembebasan Sinai antara Mesir dan Israel.

BY adminEdited Sun,29 Apr 2018,10:10 AM

Cairo, SPNA - Syeikh Mujahidin Mesir di Sinai, Hassan Khalaf meriwayatkan kisahnya dalam perang pembebasan Sinai antara Mesir dan Israel.

Syeikh Hassan adalah pemimpin para Mujahidin Sinai yang berperang untuk membebaskan tanah tersebut dari jajahan Israel. Ia dan rekannya sempat tertangkap oleh pasukan Israel dan divonis 150 tahun penjara oleh pengadilan militer.

Beliau bersama sejumlah mujahidin Sinai akhirnya dibebaskan dalam perjanjian tukar tawanan antara Mesir dan Israel. Mesir yang saat itu telah menangkap mata-mata Mossad Baruch Mizrahi berjanji akan membebaskan Mizrahi jika Israel membebaskan seluruh mujahidin Sinai yang ditangkap termasuk Syeikh Khalaf.

Salam pidato seminar pendidikan angkatan bersenjata Mesir ke 28, yang di hadiri Presiden Abdul Fattah Al-Sisi, di Cairo, Syeikh Hassan mengatakan:  “Saya belajar bagaimana merendahkan rasa takut, karena bagi saya kematian tidak akan merendahkan seseorang. ‘’

‘’Saya ditangkap oleh pasukan Israel di dekat pangkalan Militer Israel di Arish, Sinai Utara ketika menyeberangi Kanal Suez untuk melakukan operasi jihad.’’

Ketika kami ditangkap, seorang intelejen Israel yang menyamar di Bulan Sabit Merah meminta kepada militer agar memperlakukan kami sebagai tahanan perang. Namun  militer Israel menolak, mereka mengatakan bahwa kami adalah warga Israel yang tinggal di Sinai dan  harus menjalani sidang di Pengadilan Militer . ‘’

Beliau melanjutkan: “Dalam ruang sidang tertutup, jaksa penuntut umum menuduh kami membawa senjata untuk membunuh anak-anak dan orang-orang yang tidak berdosa.’’

‘’Tuduhan Kedua kami dituduh menyeberangi Suez tanpa izin dari militer Israel, ketiga kami dituduh berlatih menggunakan senjata di negara musuh yaitu, Mesir.’’

‘’Saat itu pengacara pembela meminta pengadilan untuk meringankan hukuman terhadap kami. Karena kami dinilai melakukan operasi tersebut karena dipaksa militer Mesir. ‘’

“Namun ketika saya diberikan kesempatan berbicara oleh hakim, saya membantah pernyataan pengacara pembela dan berkata: Kami tidak menyeberangi kanal tersebut atas paksaan dari militer Mesir. Kami menyeberanginya atas keinginan kami untuk membebaskan Sinai dari jajahan Israel. Dan kami akan terus melakukannya jika ada kesempatan. ‘’

Ia menambahkan: ‘’Jaksa penuntut umum menuduh kami membawa senjata  untuk membunuh wanita dan  anak-anak tak berdosa. Sejauh pengetahuan saya, Tidak ada wanita dan anak-anak Israel yang tinggal di Sinai, kecuali prajurit wanita. Lalu apakah militer Israel telah mendapatkan izin sebelumnya ketika menyeberangi kanal Suez lalu menghancurkan sekolah dan membunuh wanita dan anak-anak Sinai yang tidak berdosa? ’’ tegasnya. 

“Mendengar kalimat pedas saat saya, Hakim itu pun berang dan memaki kami dengan bahasa Ibrani yang tidak saya pahami lalu kami divonis hukuman 150 tahun penjara. ‘’

“Pemerintah Mesir lalu menangkap seorang mata-mata Israel bernama Baruch Koheini, yang masuk ke Mesir dengan paspor Maroko.

“Sejak penangkapan tersebut, militer Israel menjadi gila, lalu memaksa pengadilan Internasional untuk menekan Mesir membebaskan mata-mata tersebut. Lalu Mesir berkata kepada Israel: ‘’Bebaskan anak-anak kami, para Mujahidin Sinai, maka kami akan bebaskan Baruch,’’ tutupnya di iringi tepuk tangan para pejabat militer yang mendengarkan kisah perjuangannya.

Kisah Baruch

Baruch lahir pada tahun 1926 di Cairo dari keluarga Yahudi Mesir yang berada. Ayahnya adalah pedagang  sementara ibunya adalah penjahit terampil.

Setelah ayahnya meninggal pada tahun 1926, sang ibu menyelesaikan tanggung jawab membesarkan anak-anaknya.

Baruch menyelesaikan pendidikannya dan lulus dari Fakultas Perdagangan pada tahun 1944 lalu bekerja sebagai akuntan.

Baruch lalu memutuskan pindah ke Israel, dan memaksa ibunya meninggalkan Alexandria untuk tinggal di Tel Aviv bersamanya.

Setelah tiba di Israel, Baruch terkejut dengan perlakuan buruk pemerintah dan rakyat Israel terhadapnya karena Ia adalah Yahudi Timur.

Baruch lalu dipilih oleh Mossad untuk menjadi salah satu agennya lalu ditugaskan ke Belanda dengan kedok bekerja sebagai karyawan kantor bisnis, dan berhasil membangun hubungan dengan sejumlah warga Mesir yang tinggal di Amsterdam.

Baruch lalu ditugaskan ke Yaman dengan paspor  Maroko atas nama Ahmed Sabbagh. Kedoknya berhasil diketahui personel intelijen Mesir. Ia kemudian ditangkap dan dibawa ke Cairo.

Baruch kemudian di jebloskan ke penjara hingga tahun  1974, dimana Ia dibebaskan dalam perjanjian tukar tawanan antara dirinya dan mujahidin Sinai yang ditangkap Tel Aviv.

Kisah Baruch sempat diabadikan dalam drama Mesir berjudul ‘’Al-Saf’at’’ yang dibintangi Sharif Mounir, Haytham Ahmed Zaki dan Sherine Reza dan disutradarai oleh Majdi Abu Amira.

(T.RS/S:RtArabic/Youm7)

leave a reply
Posting terakhir