Laporan: Jerman jadi mediator Israel-Hamas dalam pembicaraan mengenai tawanan

Gaza, SPNA - Jerman sedang memediasi kesepakatan pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas, harian Al Hayat melaporkan Kamis pagi (05/07/2018)....

BY adminEdited Thu,05 Jul 2018,11:22 AM

Gaza, SPNA - Jerman sedang memediasi kesepakatan pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas, harian Al Hayat melaporkan Kamis pagi (05/07/2018). Menurut laporan tersebut, berdasarkan sumber-sumber Barat, Jerman memulai melakukan kontak dengan kedua belah pihak dan menekankan bahwa Israel dan Hamas menganggap Jerman sebagai entitas yang adil yang dapat membantu dalam pembicaraan, seperti ketika Israel menerima proposal Jerman untuk menjamin pembebasan tentara Israel Gilad Shalit pada 2011.

Jerman telah mulai bernegosiasi dengan Israel dan Hamas sejak tiga tahun lalu, kata laporan itu.

Menurut laporan tersebut, dua utusan Jerman telah mengunjungi Gaza beberapa kali secara rahasia dan bertemu dengan pejabat senior Hamas yang bertanggung jawab atas negosiasi tersebut. Mediasi dilakukan melalui dua saluran, laporan itu mengatakan, antara perwakilan Jerman Israel dan Otoritas Palestina, dan dengan mediator ketiga yang berlokasi di Berlin.

Laporan tersebut tidak mencantumkan rincian tentang kemajuan dalam negosiasi dan bahwa keterlibatan Jerman tidak membatalkan peran mediator Mesir saat ini mengenai isu pertukaran tahanan, sebab Mesir akan menjadi mitra penuh dalam kesepakatan jika dan ketika kesepakatan tersebut dilaksanakan seperti yang dilakukan pada Shalit.

Hamas menahan dua warga sipil Israel, Avera Mengistu dan Hisham al-Sayed, yang menyeberangi perbatasan menuju Jalur Gaza, serta jasad tentara Sersan Staf Oron Shaul dan Letnan Hadar Goldin, yang tewas dalam Operation Protective Edge pada  2014. Tahun lalu, Yaron Blum, mantan anggota dinas keamanan Shin Bet dan anggota tim negosiasi dalam kesepakatan Shalit, ditunjuk sebagai koordinator tahanan perang dan MIA.

Hamas, termasuk sayap militernya, belum lama ini menyatakan dengan jelas bahwa pihaknya tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun yang tidak menjamin pembebasan (anggotanya) yang ditahan di Israel, termasuk yang didefinisikan sebagai tahanan "berat", yang merupakan tahanan yang dituduh melakukan pelanggaran serius. Kelompok tersebut juga telah menetapkan bahwa negosiasi hanya dapat terjadi jika Israel membebaskan tahanan yang dibebaskan dalam perjanjian Shalit 2011 yang kemudian ditangkap kembali pasca penculikan remaja Israel pada 2014.

(T.RA/S: Haaretz)

leave a reply