Media Perancis: Deal of Century AS hanya menguntungkan Israel

Bethlehem, SPNA -  Media online Perancis, Mediapart, dalam laporannya mengungkapkan rincian dari inisiatif perdamaian  Presiden AS, ......

BY adminEdited Wed,11 Jul 2018,09:46 AM

Bethlehem, SPNA -  Media online Perancis, Mediapart, dalam laporannya mengungkapkan rincian dari inisiatif perdamaian  Presiden AS, Donald Trump dan menantunya Jared Kushner yang dikenal dengan Deal of Century.

Surat kabar yang berbasis di Perancis tersebut mengambarkan bahwa inisatif AS tersebut ‘’mengejutkan’’ karena hanya menguntungkan sebelah pihak serta mengabaikan perundingan yang telah dibuat selama dua dekade terakhir.

Dalam laporan yang dilansir Maannews, Rabu (11/07/2018) Mediapart menulis: ‘’Deal of Century ini dirancang oleh tiga orang, Jared Kushner, Jason Greenblatt dan Duta Besar AS untuk Israel, David Friedman. Ketiganya tidak memiliki pengalaman diplomasi atau informasi lengkap untuk wilayah Arab dan hanya fokus kepada agenda yang menguntungkan Israel. ‘’

Mereka tidak menyinggung sama sekali solusi dua negara, sebaliknya, justru mengusulkan agar pemerintah Palestina menjadikan Tepi Barat wilayah ‘’setengah negara’’ dengan kedaulatan terbatas dan tidak memiliki kekuatan militer.

Inisiatif tersebut juga tidak menyinggung perjanjian tahun 1967 yang menetapkan Yerusalem ibukota Palestina. Mereka justru menuntut agar Palestina menjadikan Abu Dis sebagai ibukota negara serta menyerahkan Yerusalem ke pihak Israel.

Terkait kasus pengungsi, AS menolak pemulangan pengungsi Palestina ke tanah air mereka dan hanya memberikan subsidi untuk mereka yang tinggal di pengasingan atau berimigrasi ke negara lain, dengan dukungan dana dari negara-negara Teluk.

Terkait penyelesaian krisis di Gaza, AS menyerukan agar negara-negara teluk membantu proyek pembangunan zona bebas yang terletak antara kota Arish, di Sinai utara dan perbatasan Gaza yang masih belum jelas status hukumnya.

Zona bebas tersebut akan menjadi pusat penyulingan air, pembangkit listrik tenaga surya, pelabuhan, ditambah dengan pembangunan 5 lokasi industri yang akan mempekerjakan ribuan buruh, dengan dana yang  bersumber dari negara teluk.

Rencana tersebut mendapatkan respon negatif bahkan dari pemerintah Arab yang memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat.

Menurut laporan tersebut, Mesir dan Yordania menuntut pemerintah AS untuk meninjau kembali rencana mereka.

Adapaun Raja Saudi Salman bin Abdul Aziz menolak rencana AS serta dukungan yang diberikan oleh putranya, Muhammad Bin Salman terhadap proyek tersebut dimana hal ini sepenuhnya bertentangan dengan prakarsa Arab, tahun 2002 atas nama Raja Saudi.

(T.RS/S:Maannews)

leave a reply