Kolomnis Israel: Pemerintah harus menghormati Gaza

Jalur Gaza SPNA - Kolomnis Israel Gideon Levy menulis di surat kabar Haaretz bahwa pemerintah Israel harus menghormati Gaza.

BY adminEdited Mon,16 Jul 2018,01:33 PM

Opini: Gideon Levy

Jalur Gaza SPNA - Kolomnis Israel Gideon Levy menulis di surat kabar Haaretz bahwa pemerintah Israel harus menghormati Gaza.

Dalam kolom opini yang dirilis Haaretz, Minggu (15/07/2018), Levy menulis: “Jika tanpa Gaza pendudukan terhadap Palestina mungkin akan terlupakan sejak lama,  jika bukan Gaza, maka Israel akan menghapus isu-isu Palestina dari daftar agenda mereka dan melanjutkan tindakan kriminal serta aneksasi terhadap wilayah palestina.’’

Mungkin, jika bukan karena Gaza, dunia juga akan terlupa. Inilah sebabnya kenapa kita harus memberikan ‘’salut’’ kepada Gaza  terutama semangat juang mereka, yang satu-satunya masih bernafas dalam meraih kebebasan.

Perjuangan warga Gaza juga harus dikagumi bahkan bagi Yahudi. Segelintir warga Israel yang masih memiliki hati nurani disini harus berterima kasih kepada spirit Jalur Gaza yang tak pernah putus.

Semangat juang warga Palestina di Tepi Barat sudah merosot setelah kegagalan intifada kedua, begitu pula yang  terjadi di kamp perdamaian Israel yang sebagian besar telah hancur sejak dulu. Hanya Jalur Gaza yang masih teguh berdiri dalam perjuangannya.

Maka, siapa saja yang tidak ingin selamanya hidup di negara ‘’setan’’ ini, harus menghormati bara api yang dikobarkan pemuda-pemuda Gaza.Semangat juang Gaza tak runtuh dengan blokade Israel.

Orang-orang jahat di Israel menutup  terminal Karm Abu Salem lalu diam-diam menembaki warga Gaza. Mereka juga melarang pasien-pasien Gaza menuju Tepi Barat guna mendapatkan perawatan medis agar kaki mereka yang ditembak peluru Israel tidak diamputasi. Bahkan diantara pasien tersebut adalah penderita kanker, wanita dan anak-anak. 

31 ahli Onkologi Israel, Juni lalu menandatangi petisi menyerukan pemerintah untuk mengakhiri perlakuan buruk terhadap pasien kanker di Gaza yang baru diizinkan berobat ke luar Gaza setelah menunggu selama berbulan-bulan.

200 roket yang ditembakkan Hamas ke permukiman Israel Jumat dan Sabtu lalu adalah respon atas perlakukan buruk tersebut.

Gaza tidak punya pilihan, begitu juga dengan Hamas. Setiap langkah untuk menyalahkan Hamas adalah pelarian dari pelaku kejahatan sesungguhnya.  Bukanlah Hamas yang memblokade Gaza, juga bukan warga Gaza yang menutup diri mereka sendiri, tapi Israel  dan Mesir yang melakukannya.

Setiap upaya ragu-ragu Hamas untuk membuat kemajuan dengan Israel ditolak oleh pemerintah Israel secara langsung.

Hanya layang-layang pembakar yang tersisa meskipun harus layangan ini memancing serangan udara Israel berikutnya yang tanpa ampun. Apa yang harus dilakukan Gaza ? mengangkat Bendera putih? seperti yang telah dikibarkan di Tepi Barat?

Apakah ini pulau hijau yang diimpikan Menteri Yisrael Katz?

Yang tersisa di Gaza hanyalah perjuangan, yang tidak dapat dianggap remeh, bahkan jika anda sebagai warga Israel merasa menjadi korbannya, tutupnya, seperti dilansir Samanews.

Gideon Levy adalah seorang kolumnis senior surat  kabar Ha'aretz dan aktivis kemanusiaan.

Sejak tahun 1982 Levy sudah bergabung dengan Haaretz. Lalu Tahun 2008 Ia mendapatkan penghargaan sebagai jurnalis Eropa – Timur Tengah terbaik.

Ia juga di anugerahi penghargaan Leipzig Freedom tahun 2001, lalu tahun 1996 mendapat penghargaan dari Asosiasi HAM Israel.

Bukunya terbaru berjudul  ‘’The Punishment of Gaza’’, baru saja diterbitkan oleh Verso Books, di London dan New York.

 (T.RS/S:Haaretz)

leave a reply