Petinggi Hamas: Kami telah memberikan pelajaran kepada Israel

Al-Jazair, SPNA - Sami Abu Zuhair, mengatakan bahwa gerakan perlawanan Palestina di Gaza ...

BY adminEdited Wed,14 Nov 2018,11:31 AM

Al-Jazair, SPNA - Sami Abu Zuhair, mengatakan bahwa gerakan perlawanan Palestina di Gaza telah memberikan pelajaran keras kepada Israel.

“Balasan kami masih permulaan dan tergantung bagaimana cara mereka memperlakukan kami, ‘’ ujar petinggi Hamas tersebut dalam aksi solidaritas untuk Gaza di depan Gedung ‘’Peace Society’ di Aljazair, Selasa (13/11/2018).

“Para penjajah Israel kebingungan menghadapi pahlawan Palestina. Walaupun mereka membombardir Gaza namun mereka ragu menghadapi serangan balasan yang dilancarkan faksi pejuang Gaza yang mengejutkan.’’

“Selain itu, Brigade Izuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, mengatakan bahwa serangan balasan ini masih permulaan. Al-Qassam memiliki kekuatan yang berkali lipat daripada saat ini, ‘’ tambahnya.

“Ini adalah pesan untuk Israel, dan langkah para pejuang Gaza setelah ini ditentukan  dengan sikap mereka terhadap Gaza.”

Sayap militer faksi Palestina, Selasa malam mengumumkan gencatan senjata dengan Israel yang dimediasi Mesir.

Berdasarkan keterangan youm7, langkah Mesir tersebut adalah tindak lanjut terhadap upaya yang dilakukan Cairo selama beberapa bulan terakhir dalam mendukung rakyat Palestina di Jalur Gaza serta menghentikan operasi militer Israel terhadap faksi Palestina.

Langkah-langkah jitu Mesir juga mendapatkan respon positif dan apresiasi dari rakyat Palestina.

Sementara itu,  Gerakan Jihad Islam  menyatakan mendukung langkah Mesir dengan syarat Israel harus menghentikan seluruh operasi militernya terhadap Gaza.

Hingga saat ini, sebanyak  14 warga Palestina dilaporkan gugur  sementara  31 lainnya luka-luka. Sementara dari pihak Israel, 3 orang dilaporkan tewas, salah satunya adalah perwira militer.

Sejumlah surat kabar Palestina melaporkan bahwa serangan terhadap Jalur Gaza adalah yang terbesar sejak berakhirnya perang 2014 silam.

Serangan tersebut membuat situasi di Gaza mencekam. Hal ini karena Israel mengunakan senjata berat, bahan peledak berkekuatan tinggi yang menggoncangkan sejumlah wilayah di sektor tersebut.

Menteri Kesehatan Palestina Jawad Awad menyatakan pihaknya akan mengutus tim medis yang membawa obat-obatan dari gudang Menkes Palestina di Nablus menuju Gaza.

Hal ini dilakukan atas instruksi Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Rami Hamdallah.

“Saat ini kami mempersiapkan tim medis yang membawa obat-obatan menuju  Jalur Gaza sesegera mungkin. Mereka akan membawa obat-obatan khusus, ruang operasi, serta bank darah, ‘’ ujarnya.

Gencatan senjata itu menuai protes dari demonstran Israel yang tinggal di permukiman ilegal sekitar Gaza.   

Demonstran juga membakar ban serta meneriakkan slogan mengutuk pemerintahan Netanyahu, ‘’Kami bukan warga kelas dua, ‘’ teriak mereka,

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Maliki menuntut anggota Liga Arab untuk menggelar pertemuan darurat  dalam rangka  membahas agresi militer Israel terhadap Gaza yang melumpuhkan total sektor tersebut.

Maliki juga meminta delegasi Palestina di PBB menuntut Dewan Keamanan menggelar pertemuan darurat membahas agresi militer di Gaza.

Selain itu, Delegasi Palestina di Belanda juga dituntut untuk melaporkan kejahatan yang dilakukan Israel dalam operasi militer tersebut kepada Mahkamah Internasional, khususnya karena lembaga tersebut masih mempelajari pelanggaran hukum yang dilakukan Israel terhadap Palestina sebelumnya.

Selain itu Delegasi Palestina di Majelis HAM Internasional diminta untuk mengambil langkah yang dibutuhkan untuk mengecam tindakan Israel yang menargetkan warga sipil di Gaza.

Jalur Gaza adalah wilayah yang terisoliasi akibat blokade yang telah berlangsung selama lebih dari 11 tahun.

Di masa itu, Gaza hancur lebur akibat 3 perang besar tahun 2009, 2012 serta 2014 yang melumpuhkan seluruh sektor kehidupan di Gaza termasuk pertanian. 

Situasi ini diperparah setelah Pemerintah AS bulan lalu menghentikan donasinya terhadap Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina UNRWA yang merupakan tulang punggung sebagian besar rakyat Gaza.

Hal ini memaksa warga Gaza menggelar aski masal “Great March of Return”, menuntut Israel untuk menghapus blokade yang membuat warga Gaza sengsara serta memulangkan pengungsi Palestina ke tanah air.

Serangan dan tindak kekerasan pasukan pertahanan Israel (IDF) terhadap warga Gaza sejak 30 Maret silam hingga saat ini diperkirakan menelan lebih dari 200 lebih korban jiwa.

Sebelumnya, pemerintah Mesir berupaya membujuk Israel dan Gaza untuk melakukan negosiasi damai. Namun upaya ini gagal setelah Israel melakukan operasi pembunuhan terhadap petinggi Hamas, Senin lalu.

(T.RS/S:AnadoluAgency)

leave a reply