Posting konten anti-Muslim, Facebook blokir akun putra Netanyahu

Pemblokiran ini dimulai pada hari Kamis setelah Yair Netanyahu menulis di Facebook bahwa, “Tidak akan ada perdamaian di sini (di Israel-Palestina) hingga: 1. Semua orang Yahudi meninggalkan tanah Israel. 2. Semua Muslim meninggalkan tanah Israel. Saya lebih suka opsi kedua.”

BY adminEdited Tue,18 Dec 2018,05:37 PM

MEMO - Yerusalem

Yerusalem, SPNA - Facebook memblokir akun Yair Netanyahu, putra Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Minggu (16/12/2018) karena memposting konten anti-Muslim.

Pemblokiran ini dimulai pada hari Kamis setelah Yair Netanyahu menulis di Facebook bahwa, “Tidak akan ada perdamaian di sini (di Israel-Palestina) hingga: 1. Semua orang Yahudi meninggalkan tanah Israel. 2. Semua Muslim meninggalkan tanah Israel. Saya lebih suka opsi kedua.”

Tulisan tersebut segera mendapat respon dari pengguna Facebook di Israel. Times of Israel melaporkan bahwa postinga itu "mengumpulkan lebih dari 750 respon pada Jumat malam, ... kebanyakan dari mereka setuju".

Yair kemudian melanjutkan "omelan" anti-Muslimnya, dengan menulis di postingan terpisah, “Apakah Anda tahu di mana tidak ada serangan teror? Di Islandia dan Jepang. Kebetulan juga tidak ada penduduk Muslim di sana.”

Menurut Haaretz, Yair juga menulis posting ketiga di mana ia menyerukan "pembalasan dendam" atas tewasnya dua tentara Israel pada pekan lalu dan terkait pengusiran orang Palestina. Meskipun Facebook telah menghapus posting ini dengan alasan "melanggar aturan komunitasnya", Yair berbagi screenshot dari posting tersebut, yang mendorong raksasa media sosial itu untuk memblokir akunnya selama 24 jam.

Beralih ke Twitter, Yair mengklaim dia telah diblokir oleh Facebook dan mengatakan, "Luar biasa. Facebook memblokir saya selama 24 jam hanya karena mengkritiknya!"

Keluhan Yair Netanyahu akan dipandang ironis mengingat hukuman Israel yang berulang-ulang terhadap orang Palestina atas konten Facebook mereka. Sebelumnya, Pengadilan Jerusalem menjatuhkan hukuman kepada Suzanne Abu Ghannam - ibu dari seorang Palestina yang dibunuh oleh tentara Israel tahun lalu - hingga 11 bulan penjara karena “hasutan” di Facebook. Pada bulan September, penyair Palestina Dareen Tartour dibebaskan setelah ditahan selama tiga tahun karena menerbitkan puisinya yang berjudul "Resist, my people, resist" di media sosial. Dia pertama kali ditangkap pada tahun 2015 dan menjalani 97 hari di penjara, sebelum dimasukkan ke tahanan rumah. Pada bulan Mei ia dihukum karena "hasutan untuk melakukan kekerasan" dan "mendukung organisasi teroris", dan kembali dipaksa menjalani hukuman selama 42 hari di penjara.

Israel juga berkolaborasi dengan Facebook untuk memantau konten. Pada bulan Oktober, Israel telah berusaha untuk mendapatkan sistem mata-mata yang memantau pesan pribadi pengguna media sosial di Facebook, Twitter, Instagram dan YouTube, menargetkan kata kunci seperti "teror", "perlawanan", "kebangsaan" dan "agama".

Pada bulan Juli, Knesset Israel mengesahkan pembacaan pertama atas RUU yang disebut "Facebook Bill", yang akan mengijinkan pengadilan Israel untuk mengeluarkan perintah untuk menghapus konten internet "jika itu merusak keselamatan manusia, publik, ekonomi, negara atau keselamatan infrastruktur penting lainnya."

Ini bukan pertama kalinya Yair Netanyahu memicu kontroversi dengan aktivitas media sosialnya. Baru minggu lalu, Yair beraksi di Facebook dengan mengecam LSM dan media sayap kiri, dengan menulis menulis, “Asosiasi sayap kiri didanai oleh pemerintah asing dan bermusuhan, politisi sayap kiri dan media yang selalu memihak musuh dan melawan kepentingan Yahudi …. pengkhianat! ”Benjamin Netanyahu dipaksa untuk mengeluarkan pernyataan yang menjauhkan dirinya dari tindak putranya itu. Di lama Facebook resminya ia menulis, “Perdana Menteri Netanyahu menolak penggunaan istilah 'pengkhianatan' oleh setiap sisi dari wacana politik.”

Pada bulan Mei, Yair Netanyahu menjadi bahan olok-olok karena memposting gambar anti-Turki di Instagram dengan latar belakang pertikaian diplomatik yang terjadi antara Tel Aviv dan Ankara pada saat itu.

(T.RA/S: MEMO)

leave a reply