Aktivis Uighur Ilshat Hassan ungkap penganiayaan yang terjadi di Xinjiang

Dalam wawancara dengan Aljazeera baru-baru ini , aktivis Uighur, Ilshat Hassan, berbicara tentang penganiayaan yang sedang berlangsung oleh pemerintah Cina terhadap minoritas Uighur di wilayah Xinjiang. Departemen Luar Negeri AS meyakini bahwa ada "jutaan" orang dari etnis tersebut ditahan di kamp-kamp konsentrasi.

BY adminEdited Fri,21 Dec 2018,12:58 PM

Muftah - Virginia

Virginia, SPNA - Dalam wawancara dengan Aljazeera baru-baru ini , aktivis Uighur, Ilshat Hassan, berbicara tentang penganiayaan yang sedang berlangsung oleh pemerintah Cina terhadap minoritas Uighur di wilayah Xinjiang. Departemen Luar Negeri AS meyakini bahwa ada "jutaan" orang dari etnis tersebut ditahan di kamp-kamp konsentrasi. Hassan percaya bahwa perkiraan Departemen Luar Negeri AS tentang berapa banyak orang Uighur yang ditahan bersifat konservatif, dan kemungkinan terdapat "lebih dari dua juta" tahanan terkunci di kamp-kamp konsentrasi, yang oleh pemerintah Cina dianggap "pusat pendidikan" kejuruan.

Hassan, yang merupakan Presiden Asosiasi Amerika Uighur, melarikan diri dari Xinjiang pada 2003 dan, seperti banyak Uighur yang dipaksa meninggalkan Cina karena takut akan kehidupan mereka, telah hidup di pengasingan sejak saat itu. Dia mengatakan bahwa praktik represif pemerintah Cina baru-baru ini meraih perhatian global, kenyataannya adalah bahwa Uighur di Xinjiang telah menghadapi penganiayaan selama beberapa dekade.

Sebagai seorang aktivis dan guru di Xinjiang, Hassan mengatakan bahwa ia mengalami dan menyaksikan "diskriminasi kuat" oleh pemerintah China terhadap dirinya dan Uighur lainnya, yang termasuk upaya untuk melarang bahasa Uighur, dan pengawasan konstan terhadap sekolah, universitas, dan institusi Uighur.

Pada sejumlah kesempatan, Hassan mengklaim dia ditangkap, diinterogasi, dan disiksa oleh pihak berwenang China, yang menyetrumnya dan memukulinya sampai giginya rontok.

Setelah Hassan meninggalkan Xinjiang pada tahun 2003, pihak berwenang Tiongkok mulai menangkap dan menyiksa keluarganya. Hassan mengklaim bahwa saudaranya tewas satu tahun setelah ia pergi, pada tahun 2004, dan saudara perempuannya ditangkap pada tahun 2014 sebagai hukuman atas aktivismenya. Seperti Ughur lainnya kala itu, Hassan tidak memiliki cara berkomunikasi dengan keluarganya di Xinjiang, atau mengetahui bagaimana kondisi mereka. Dia tidak tahu apakah saudara perempuan, ibu, paman, keponakan, dan anggota keluarganya yang lain masih hidup, dan mengklaim ini adalah "pengalaman umum" bagi orang-orang Uighur di mana pun.

Hassan tidak terlalu optimis tentang masa depan Xinjiang. Meskipun keinginannya untuk melihat Amerika Serikat memainkan peran "etis" (dengan menempatkan sanksi pada Cina atas pelanggarannya).

(T.RA/S: Muftah)

leave a reply