Demi menopang hidup keluarga dan mengobati suami, Fayrouz terpaksa menjual remah roti kering

Jalur Gaza, SPNA - Kehidupan yang dihadapi ibu Palestina bernama Fayrouz ini tidak....

BY adminEdited Sun,23 Dec 2018,10:59 AM

Jalur Gaza, SPNA - Kehidupan yang dihadapi ibu Palestina bernama Fayrouz ini tidak seindah namanya.

Jejak hidupnya dipenuhi dengan luka dan duka. Fayrouz tidak merasakan gembira kecuali saat remah roti kering yang dijualnya mau dibeli peternak burung di pasar Khan Younis, Jalur Gaza Selatan.

Setelah hidup selama 45 tahun, Fayrouz masih bersabar menantang kerasnya hidup yang menggiringnya menjadi penjual remah roti kering.

Wanita Palestina ini kesulitan mencari sesuap nasi untuk anak-anaknya apalagi mengobati suaminya yang sakit.

Fayrouz dan sembilan anggota keluarganya (suami, tujuh anak dan saudara laki-laki suami) tinggal di rumah bobrok milik saudara suaminya.

Rumah yang berdindingkan lumut dan beratapkan seng tersebut, tak mampu melindungi mereka dari perubahan cuaca.

Suami Fayrouz menderita gagal ginjal selama bertahun-tahun dan tidak mampu bekerja. Situasi ini memaksa sang istri banting tulang dengan menjual remah roti kering yang Ia kutip dari   tetangga, sekolah dan pinggiran jalan kota Khan Younis.

Fayrouz dibantu anak-anaknya kemudian mengeringkan roti kering tersebut dibawah sinar matahari selama seminggu agar tidak membusuk.

Setiap hari Rabu, roti yang sudah kering dibawa ke pasar lalu dijual kepada peternak burung dengan harga 4 atau 5 Dolar saja.

Harga tersebut hanya cukup memenuhi kebutuhan makanan selama sehari, tidak cukup untuk membeli obat untuk suaminya.

Sementara di sisa hari yang lain, keluarga Fayrouz menggantungkan hidup dari bantuan tetangga, kerabat serta  bantuan pangan bulanan Kementerian Pembangunan Sosial sebesar 54 Dolar.

Sayap ayam, hidangan terbaik

Hidangan terbaik keluarga Fayrouz adalah potongan sayap ayam, namun seringkali santapan mereka hanya roti ditambah garam atau bahkan ceker ayam yang didapat dari toko unggas secara gratis.

Fayrouz juga tidak memiliki persediaan air minum di rumahnya. Hal ini membuat anak-anaknya terpaksa mencari bantuan air bersih dari tetangga.

Pasokan air pemerintah ke  rumah-rumah warga Gaza tidak dapat digunakan untuk minum karena memiliki tingkat keasinan yang tinggi.

“Saya tak mampu membeli obat-obatan untuk suami karena harganya yang tinggi. Akibatnya kondisi suami saya semakin memburuk, ‘’ ujarnya kepada Anadolu Agency.

Di saat yang sama, saudara laki-laki suami Fayrouz yang tinggal bersama juga menderita penyakit jiwa. Hal ini menambah beban keluarga miskin tersebut.

Anak-anak Fayrouz termasuk empat perempuan  terpaksa tidur di halaman rumah yang beratap genteng di atas tikar plastik dengan selimut tipis yang tidak dapat menghangatkan mereka di musim dingin.

Wanita Palestina yang juga menghadapi tekanan jiwa ini berharap dapat menemukan pekerjaan walaupun sulit, demi menopang hidupnya dan anak-anak serta merawat suami.

Berdasarkan laporan PBB, hampir 80 persen warga Palestina di Jalur Gaza hidup dengan bantuan kemanusiaan.

Tingkat kemiskinan di Jalur Gaza naik menjadi 53 persen pada kuartal pertama tahun ini,  sementara pengangguran di Gaza juga melebihi 80 persen, seperti dilansir Biro Statistik Pusat Palestina dan Komite Rakyat anti Blokade Gaza.

Program Pangan Dunia PBB (WFP) 19 Desember lalu lalu melaporkan bahwa 70 persen populasi Gaza menghadapi ancaman ‘’rawan pangan’’.

(T.RS/S:AnadoluAgency)

leave a reply