Opini: Fakta dibalik eksodus warga Yahudi dari negara Arab, Israel bohongi dunia

Jalur Gaza, SPNA - Sejak beberapa tahun terakhir pemerintah Israel menuntut negara Arab untuk membayar 250 Juta Dolar sebagai kompensasi atas ...

BY adminEdited Thu,10 Jan 2019,10:50 AM

Bilal Dhahir

Jalur Gaza, SPNA - Sejak beberapa tahun terakhir pemerintah Israel menuntut negara Arab untuk membayar 250 Juta Dolar sebagai kompensasi atas properti warga Yahudi yang ditinggalkan di negara-negara Arab.

Kompensasi tersebut sebagai syarat  negosiasi damai untuk menyelesaikan konflik Israel dan Arab. Negara-negara yang dituntut untuk membayar kompensasi tersebut mencakup Mesir, Maroko, Irak, Suriah, Yaman, Iran dan Libya.

2010 lalu, Parlemen Israel, Knesset menetapkan bahwa seluruh negosiasi damai dengan Arab harus menjamin pembayaran kompensasi atas properti warga Yahudi yang ditinggalkan.

Tuntutan tersebut disampaikan pemerintah Israel bersamaan dengan rencana pemerintah Amerika Serikat mengumumkan perjanjian damai permanen yang dikenal dengan ‘’Deal of Century,’’.

Menteri Kedilan Sosial Israel, Gila Gamliel menuntut negara Arab dan muslim mengaku seluruh pelanggaran hukum yang dilakukan terhadap Yahudi yang diusir paksa, khususnya dari Iran.

Namun jika kita kembali kepada data dan terkait fakta populasi Yahudi di lapangan yang bersumber dari pemerintah serta lembaga Israel sendiri, kita akan menemukan bahwa pemerintah Israel telah berbohong.

Data tak sesuai fakta

Pertama, kita harus memperhatikan  laporan statistik terkait populasi Yahudi di negara Arab yang dilansir pemerintah Israel. Tercatat ada dua lembaga besar yang melansir data-data tersebut. Pertama, dari Menteri Keadilan Sosial, sebagai perwakilan resmi Pemerintah Israel. Mereka fokus terhadap data terkait “properti warga Yahudi” di negara-negara Arab dan Iran.

Yang kedua adalah Lembaga Diaspora Israel yang fokus terhadap data dan statistik terkait populasi Yahudi di dunia, termasuk Yahudi Timur. Lembaga ini dikelola oleh para peneliti.

Pemerintah Israel menuntut agar 7 negara Arab membayar kompensasi atas properti warga Yahudi yang dieksodus dari negara Arab sebesar 250 Juta Dolar. Berdasarkan laporan statistik Kementerian Keadilan Sosial Israel, jumlah warga Yahudi di seluruh Arab dan Iran mencapai 994.000 jiwa tahun 1948.

Namun data ini bertentangan dengan laporan Lembaga Diaspora Israel sendiri yang mengatakan bahwa populasi mereka mencapai 951.000 jiwa.

Jika kita bagikan total tuntutan Israel sebesar 250 Juta Dolar dengan jumlah populasi Yahudi yang dilansir pemerintan Israel, maka satu warga Yahudi di negara Arab baik anak-anak maupun dewasa memiliki kekayaaan sebesar 251,500 Dolar.

Jumlah ini tidak realistis, hal ini karena  tidak semua keluarga Yahudi Arab tercatat  memiliki kekayaan hingga puluhan atau ratusan juta. Karena itu angka yang dituntut tersebut tidak sesuai fakta di lapangan.

Yahudi di Negara-negara Arab: Data dan Statistik

Kedua, Tidak semua warga Yahudi memilih berimigrasi ke Israel namun juga ke negara-negara lain di seluruh dunia. Artinya tuntutan kompensasi Israel tersebut adalah tututan terhadap seluruh negara. Disaat yang sama sebagian warga Yahudi, khususnya yang berimigrasi ke Eropa, telah menjual properti mereka serta membawa harta benda mereka sebelum berimigrasi, seperti dilaporkan Lembaga Diaspora Israel.

Menurut data pemerintah Israel, jumlah warga Yahudi di Mesir pada tahun 1948 mencapai 80.000 jiwa, namun laporan Lembaga Diaspora mengatakan populasi mereka mencapai 75.000 jiwa. Dari jumlah tersebut,  warga Yahudi yang berimigrasi ke Israel dari tahun 1948 hingga 2016  mencapai 37.980 jiwa, sementara 150.000 lainnya berimigrasi di Amerika Latin.

Sementara jumlah warga Yahudi Aljazair yang berimigrasi ke Israel mencapai 30.000 jiwa  dan 130.000 lainnya memilih untuk berimigrasi ke Prancis.

Untuk Yahudi Suriah, Menurut Data Pemerintah Israel, jumlah mereka mencapai 35.000 jiwa, sementara menurut Lembaga Diaspora mencapai 30.000 jiwa. 10.246 berimigrasi ke Israel sejak 1948 hingga 2016.

Populasi Yahudi Irak tahun 1948 mencapai 140.000 jiwa  menurut pemerintah Israel, dan 135.000 menurut Lembaga Diaspora. 131.000 dari mereka telah berimigrasi ke Israel.

Sementara populasi Yahudi Maroko yang merupakan populasi Yahudi terbesar di =negara Arab, mencapai 300.000 jiwa berdasarkan laporan pemerintah Israel dan 265.000 jiwa berdasarkan laporan Lembaga Diaspora Israel. Dari jumlah tersebut 274.000 dari mereka telah berimigrasi ke Israel dari tahun 1948 hingga 2016.

Sementara jumlah populasi Yahudi di Lebanon menurut Lembaga Diaspora mencapai 10.000 jiwa tahun 1948, sementara menurut pemerintah Israel mencapai 6000 jiwa. 4125 dari mereka telah berimigrasi ke Israel.

Untuk populasi Yahudi di Yaman berdasarkan Lembaga Diaspora mencapai 63.000 jiwa dan 60.000 jiwa menurut pemerintah Israel dimana 51.538 jiwa telah berimigrasi ke Israel hingga hari ini.

Populasi Yahudi di Tunisia pada tahun 1948, mencapai 105.000 jiwa tahun 1948. Dari jumlah tersebut,  58.486 diantaranya telah  berimigrasi ke Israel dari tahun 1948 hingga 2016.

Sementara jumlah warga Yahudi tahun 1948 di Libya mencapai 38.000 dimana 36.106 diantaranya telah berimigarasi ke Israel.

Sementara Yahudi Iran mencapai angka 90.000 jiwa, menurut laporan Lembaga Diaspora, dimana 90.914 diantaranya telah berimigrasi ke Israel dari tahun 1948 hingga 2016.

Perjanjian Israel - Arab terkait imigrasi Yahudi

Ketiga, terkait langkah cara yang digunakan warga Yahudi saat berimigrasi dan meninggalkan tanah air mereka di negara Arab.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pakar sejarah dan politisi Israel, imigrasi warga Yahudi dari negara Arab ke Israel,  tidak selamanya dilakukan berdasarkan keinginan mereka. Imgirasi tersebut dilakukan atas rencana pemerintah Israel sendiri dan dilaksanakan oleh Mossad untuk mengukuhkan negara Yahudi ‘’Israel’’ diatas tanah warga Palestina yang diduduki pasca Tragedi Kemanusiaan 1948.

Mantan Kepala Parlemen Israel dan Kepala Jews Agency,  Avraham Burg dalam bukunya ‘’Kemenangan atas Hitler’’ menjelaskan bahwa pemimpin Israel memandang bahwa sebagian besar warga Yahudi di Israel adalah Yahudi Ashkenazic.

Sebagian besar dari mereka baru selamat dari tragedi Holocaust yang masih trauma dengan perlakukan rezim Nazi dalam Perang dunia II. Situasi ini membuat pemimpin Israel memutuskan untuk memasok warga Yahudi dari negara-negara Arab dan Timur Tengah agar dapat membangun negara baru.

Sementara itu, Mantan Ketua Parlemen Israel, Knesset, Shlomo Halil dalam bukunya ‘’Wind of East” mengatakan bahwa dirinya berperan aktif bersama Mossad untuk memasok warga Yahudi dari Irak ke Israel.

Halil menceritakan bahwa dia dan sejumlah utusan Mossad berhasil masuk ke Irak serta melakukan negosiasi dengan Presiden Irak saat itu, Taufik Suwaidi.  Lalu Ketika kembali ke Israel Halil meminta Presdien Israel Ben Gurion untuk menyediakan pesawat terbang guna mengangkut warga Yahudi dari Irak. Ia menambahkan dalam rentang waktu dua tahun 1949 – 1950, Halil berhasil memasok ribuan Yahudi dari Irak.

Terkait imigrasi Yahudi Maroko ke Israel, sejarawan Israel Yegal Bin Nun dalam artikelnya yang dilansir Majalah Universitas Ben Gurion mengatakan bahwa Imigrasi Yahudi dari Maroko bukan imigrasi kebebasan seperti yang dialami Yahudi Mesir yang lari kejaran Fir’aun.

“Fenomena ini tak lebih dari evakuasi dan pemindahan warga Yahudi dari satu negara ke negara lain, ‘’ tulisnya.

Sementara itu Samuel Segev, kolomnis Israel dalam bukunya mengatakan bahwa Pemerintah Maroko tak ingin warga Yahudi diangkut ke Israel. Hal ini karena mereka pekerja profesional yang membantu memajukan negara.

Karena itu pengangkutan warga Yahudi dari Maroko disertai pembayaran kompensasi atas kehilangan pegawai profesional di Maroko.

Kesimpulan yang bisa diambil bahwa tuntutan kompensasi Pemerintah Israel atas propesti warga Yahudi yang ditinggalkan di negara Arab adalah ‘’penipuan’’. Hal ini karena pemerintah Israel sendiri yang menarik warga Yahudi yang berdomisili di negara Arab untuk tinggal di Israel demi membentuk negara Yahudi diatas tanah warga Palestina.

Padahal sebagian dari mereka tidak berniat pindah ke Israel dan hingga saat ini mereka juga diperlakukan secara rasis.

Jika Israel menggunakan tuntutan tersebut sebagai bagian dari kesepakatan damai dengan negara Arab, maka disaat yang sama pemerintah Israel telah melanggar perjanjian damai yang diusung Donald Trump yang mati-matian mendukung Israel.

(T.RS/S:Arab48)

leave a reply
Posting terakhir