PEMERINTAH PALESTINA GELAR SEMINAR”Tahun kebudayaan Islam 2019” menghadirkan narasumber asal Indonesia

Jalur Gaza, SPNA - Kementerian Kebudayaan Palestina, Selasa (15/01/2018), menggelar seminar bertajuk “Deklarasi ISESCO 2019 ....

BY adminEdited Thu,17 Jan 2019,01:32 PM

Jalur Gaza, SPNA - Kementerian Kebudayaan Palestina, Selasa (15/01/2018), menggelar seminar bertajuk “Deklarasi ISESCO 2019 sebagai Tahun Kebudayaan di Negara Islam”.

Digelar di kantor pusat Menteri Kebudayaan Palestina di Gaza, acara ini dihadiri perwakilan Indonesia di Palestina, Bapak Abdillah Onim, yang tampil sebagai pemicara Kementerian Kebudayaan Palestina dan Perwakilan Indonesia di Palestina. Selain itu, hadir pula sejumlah akademisi dan delegasi yayasan kebudayaan di Jalur Gaza.

Meski terpisah secara geografis, namun Indonesia dan Palestina memiliki ikatan erat dalam agama dan persaudaraan. Bagi rakyat Indonesia, kemelut yang terjadi di Palestina merupakan prioritas utama yang harus diselesaikan.

Wakil Mentri Kebudayaan Palestina, Dr. Anwar Al-Bar’awi, dalam pidatonya mengatakan bahwa negara-negara Arab tidak memainkan peran mereka secara penuh dalam membela Palestina, khususnya terkait perlindungan warisan  kebudayaan di Palestina. “Kita harus menggunakan warisan budaya untuk menyuarakan krisis yang mendera Palestina,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Kementerian Kebudayaan Palestina telah berupaya mempromosikan kebudayaan Palestina melalui sejumlah program kegiatan dan seminar.

“Program sentral kami melalui pelatihan menggambar karikatur, lomba penulisan cerpen bertema Great March of Return, serta  kerjasama dengan menteri pendidikan untuk menggelar  seminar dalam rangka meningkatkan kesadaran guna melestarikan kebudayaan Palestina,” tambahnya.

Di akhir pidatonya, Al-Bar’awi juga menyampaikan apresiasi atas peran pemerintah dan masyarakat Indonesia yang selalu mendukung Palestina dalam menghadapi pendudukan Israel.

Al-Bar’awi juga menghadiahkan Kaffiyeh yang merupakan simbol warisan budaya Palestina,  kepada perwakilan Indonesia, Bapak Abdillah Onim.

Dalam seminar ini pula, sebuah video ditampilkan, yang memberikan informasi penting terkait budaya Palestina dan Indonesia, seperti; makanan, produk lokal, bahasa nasional dan nama-nama wilayah di Indonesia serta hubungan erat antar kedua negara.

Dalam pidatonya, Bapak Abdillah Onim menjelaskan bahwa mengatasi persoalan di Palestina bukan hanya tanggung jawab bangsa Arab, namun merupakan kewajiban bagi umat Islam dan umat manusia di seluruh dunia. “Masyarakat Indonesia sendiri mengetahui persis apa yang terjadi di Palestina.  Mereka bahkan berharap dapat mengunjungi Palestina,” terangnya.

Aktivis kemanusiaan Palestina yang berasal dari Halmahera utara ini menjelaskan bahwa dirinya meninggalkan Indonesia dan terbang ke Jalur Gaza tahun 2009.

Beliau berperan aktif dalam berbagai program bantuan rutin di Jalur Gaza atas nama Indonesia, bahkan menikah dengan gadis Palestina pada 2011 silam.

Pria yang akrab disapa Bang Onim ini menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 27.000 pulau namun hanya 17.000 yang dihuni, dengan masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia dan juga bahasa Melayu.

“Jumlah populasi Indonesia mencapai 280 juta jiwa, di mana 80 persen di nataranya adalah Muslim. Sebagian besar dari mereka mengetahui persis perkembangan situasi di Palestina,” lanjutnya.

“Persoalan Palestina adalah poros utama bagi bangsa Indonesia, baik ditinjau dari sisi  kemanusiaan maupun agama. Tidak hanya umat Islam, umat Kristiani di Indonesia juga berharap dapat berkunjung ke Gaza demi memberikan uluran tangan mereka.”

Menurutnya, persoalan Palestina adalah persoalan terbesar yang harus diselesaikan. “Kita harus membangun relasi dengan pihak-pihak yang turut berpartisipasi membantu Palestina di seluruh dunia,  khususnya Indonesia. Hubungan tersebut tidak hanya terbatas dalam situasi perang, namun persahabatan abadi antara Palestina, Indonesia, negara-negara Islam dan dunia internasional.’’

Pada 2017, Bang Onim berkunjung ke Indonesia. Dalam kunjungan tersebut, Bang Onim membawa produk kebudayaan Palestina, di antaranya syal bordir. Syal ini kemudian diserahkan kepada pejabat, ulama dan NGO di Indonesia, terutama Ibu Menlu RI dan bapak Wamenlu RI.

Ibu Menlu RI dan bapak Wamenlu RI dengan bangga kerap memakai syal Palestina dalam setiap kesempatan, baik di dalam maupun luar negera. “Secara nyata saya beri dukungan atas kemerdekaan Palestina. Syal yang saya kalungkan ini, yang didatangkan dari Gaza, adalah buktinya,” tutur Menlu RI, Ibu Retno Marsudi, seperti dikisahkan Bang Onim.

Bang Onim juga menyampaikan salam dari Pemerintah Indonesia kepada pemerintah dan rakyat Palestina. “Pemerintah Indonesia menyampaikan dukungannya terhadap seminar Kementerian Kebudayaan Palestina serta menegaskan bahwa program seperti ini sangat krusial,” tutupnya.

“Saya berharap Galery atau pusat Kebudayaan Palestina bisa hadir di Indonesia untuk memperkenalkan kepada publik bahwa Palestina memiliki sejuta budaya. Saya pun berharap, semoga di Palestina bisa hadir pusat Bahasa Indonesia, kebuayaan Indonesia di Palestina atau pertukaran budaya melalui pelatihan dan pembinaan. Hal ini tentu akan sangat bermanfaat bagi akademisi dan generasi Palestina,” tegas Onim.

Pada gilirannya, Kepala Bidang Sejarah dan Kebudayaan Universitas Islam Gaza, Dr. Ghassan Wasyah, menjelaskan peran penting ISESCO dalam menyorot situasi di Palestina serta bagaimana warisan budaya menjadi senjata dalam menghadapi pendudukan Israel.

Selain itu, organisasi tersebut  juga mengajak umat Islam untuk melestarikan kebudayaan Islam melalui program-program kebudayaan serta mempromosikan situs peninggalan Islam agar ditetapkan sebagai warisan kebudayaan dunia.

Dr. Ghassan juga menjelaskan berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan Israel terhadap situs sejarah Palestina. “Israel telah mengubah sejumlah  nama jalan, kota, dan situs sejarah ke dalam nama Yahudi untuk kemudian diklaim menjadi milik Israel.”

Beliau menutup pidatonya dengan menyeru ISESCO untuk menggelar konferensi terkait kota Al-Quds serta warisan kebudayaan di kota suci tersebut.

Para hadirin juga menyerukan agar ISESCO mendirikan lembaga induk yang berperan aktif melestarikan kebudayaan Palestina serta bekerjasama dengan organisasi internasional.

Mereka juga mendorong yayasan lokal dan lembaga kebudayaan untuk menciptakan proyek yang menghidupkan adat Palestina serta memberikan bantuan teknis dan logistik yang dibutuhkan. Hal ini dalam rangka melestarikan kebudayaan Palestina serta melindunginya dari distorsi pihak Israel.

Para hadirin juga menyerukan untuk dibuat program kerja tahunan serta menjadikan warisan budaya di kota suci Al-Quds sebagai prioritas utama. ISESCO juga diminta menggelar ‘’Pekan Budaya” bertepatan dengan deklarasi Al-Quds ibukota kebudayaan Islam tahun 2019.

Mereka juga menekankan perlunya bersikap terbuka serta membangun kerjasama dengan berbagai yayasan kebudayaan untuk mempromosikan kebudayaan Palestina melalui media kepada masyarakat, lembaga lokal serta internasional.

Bersamaan dengan deklarasi “Al-Quds Al-Syarif” ibukota kebudayan Islam tahun 2019, ISESCO juga mengajak dunia internasional untuk mengakui warisan kebudayaan di kota suci umat Islam tersebut.

Pelanggaran hukum yang dilakukan pemerintah Israel terhadap situs dan warisan budaya Palestina bertujuan untuk memutarbalikan fakta. Dengan cara ini pemerintah Israel dapat mengklaim peninggalan sejarah di Palestina. Karena itu, pelestarian situs sejarah merupakan tindakan krusial untuk membendung penjajahan atas kebudayaan Palestina.

ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization) atau  Organisasi Islam untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan merupakan sebuah organisasi internasional yang didirikan oleh Organisasi Kerja Sama Islam pada bulan Mei 1979. Organisasi yang bermarkas di Rabat, Maroko ini mendeklarasikan 2019 sebagai ‘’Tahun Warisan Kebudayaan Islam”. Lembaga ini juga mengajak negara-negara Islam mendukung lembaga kebudayaan Islam yang berafiliasi kepada ISESCO.

leave a reply
Posting terakhir