Akibat blokade dan tindak semena-mena Israel, 4705 penderita kanker di Gaza terancam meninggal dunia

Lembaga HAM Palestina, Al-Mizan dalam peringatan Hari Kanker Sedunia,   melaporkan bahwa jumlah pasien kanker di Jalur Gaza mencapai 8515 jiwa. Dari jumlah tersebut, 4705 dari mereka adalah perempuan dan 608 anak-anak dibawah umur. Nyawa mereka terancam akibat krisis obat-obatan di Jalur Gaza dan dilarang berobat ke rumah sakit di luar Gaza oleh pihak Israel.

BY adminEdited Tue,05 Feb 2019,03:37 PM

Jalur Gaza, SPNA - Lembaga Hak Asasi Manusia Palestina Al-Mizan melaporkan bahwa jumlah pasien kanker di Jalur Gaza mencapai 8515 jiwa. Dari jumlah tersebut, 4705 dari mereka adalah perempuan dan 608 anak-anak dibawah umur.

Dalam peringatan Hari Kanker Sedunia,  Al-Mizan menambahkan bahwa krisis peralatan medis dan obat-obatan mencapai 58% tahun 2018 silam lalu. Disaat yang sama para pasien juga dilarang untuk berobat ke rumah sakit di luar Gaza oleh pihak Israel.

Setidaknya 38% pasien Gaza yang dirujuk ke rumah sakit di luar Gaza tidak diizinkan oleh pihak Israel meninggalkan sektor tersebut untuk berobat.

2018 lalu, pihak keamanan Israel juga tercatat 5 kali menangkap pasien yang dirujuk ke Tepi Barat serta keluarga mereka di pos pemeriksaan. Akibat tindakan semena-mena tersebut, 45 penderita kanker Gaza meninggal dunia, seperti dilansir Maannews, Selasa (05/02/2019).

“Berdasarkan hukum internasional terkait ekonomi, sosial dan budaya, pemerintah pendudukan Israel diwajibkan menghormati hak-hak pasien, wanita dan lansia, serta menfasilitasi pelayanan kesehatan dan rumah sakit dan pencegahan penyakit menular, ‘’ ujar lembaga kemanusiaan Palestina tersebut.

Selain itu, Al-Mizan juga menuntut lembaga internasional agar mendukung operasional rumah sakit Gaza melalui suplai bahan bakar untuk menghidupkan generator listrik serta obat-obatan dan peralatan medis yang dibutuhkan untuk menyelamatkan pasien.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Gaza dalam konferensi pers di Rumah Sakit al-Rantisi, Minggu (20/01/2018) memperingatkan bahwa sejumlah rumah sakit Gaza terancam berhenti beroperasi akibat krisis listrik.

Direktur Rumah Sakit Abdul Aziz al-Rantisi, Dr. Mahmoud Abu Salmiah menjelaskan bahwa berhentinya operasional 5 rumah sakit di Gaza dapat membahayakan nyawa terhadap ribuan pasien Gaza. 

Jalur Gaza adalah wilayah Palestina yang terisoliasi akibat blokade Israel selama lebih dari 12 tahun.

Di masa itu, wilayah dengan luas 365 Km persegi dan populasi 2 juta jiwa tersebut hancur lebur akibat 3 perang besar tahun 2008, 2012 serta 2014 ditambah agresi 48 jam, November 2019 lalu. Akibatnya seluruh sektor kehidupan Gaza lumpuh total salah satunya adalah sektor medis.

Situasi ini diperparah setelah Pemerintah AS bulan lalu menghentikan donasinya terhadap Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina UNRWA yang merupakan tulang punggung sebagian besar rakyat Gaza.

Sejak pemerintah Israel mengisolasi Gaza, tingkat kemiskinan di sektor tersebut bertambah pesat. Tercatat 53% warga Gaza hidup di bawah garis kemiskinan.

Awal 2018 lalu, Sekjen PBB, Antonio Guterres telah menegaskan bahwa Gaza yang memiliki populasi dua juta jiwa tersebut akan menjadi wilayah tak layak huni pada tahun 2020.

Sementara itu, Profesor Hubungan Internasional Universitas Oxford, Avi Shlaim mengatakan bahwa Israel telah mengubah Jalur Gaza menjadi penjara terbesar di dunia. 

Dalam sebuah artikel yang dirilis The Guardian dalam peringatan 10 tahun operasi “Cast Leads”, sejarawan Yahudi tersebut mengatakan bahwa sampai saat ini pemerintah Israel masih menggunakan cara-cara brutal dalam menghadapi warga Gaza.

(T.RS/S:Maannews)

leave a reply
Posting terakhir