Meski melakukan pelanggaran HAM, Israel tetap jalin hubungan dengan Myanmar

Terlepas dari bukti kuat genosida terhadap minoritas Muslimnya, Israel terus mengizinkan penjualan senjata kepada militer Myanmar.

BY adminEdited Fri,08 Feb 2019,11:04 AM

PIC - Yerusalem

Yerusalem, SPNA - Terlepas dari bukti kuat genosida terhadap minoritas Muslimnya, Israel terus mengizinkan penjualan senjata kepada militer Myanmar, harian Haaretz mewartakan.

Perlakuan Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya telah membuat negara itu mendapat kecaman luas dalam beberapa tahun terakhir. Seorang penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat telah memperingatkan bahwa kekerasan militer Myanmar terhadap kelompok tersebut baru-baru ini merupakan genosida.

Agustus lalu, Departemen Luar Negeri AS menghitung kekejaman di Negara Bagian Rakhine utara yang mayoritas penduduknya beragama Budha, menyimpulkan bahwa kekerasan di sana "ekstrem, berskala besar, tersebar luas, dan tampaknya diarahkan untuk meneror penduduk dan mengusir penduduk Rohingya." Sebanyak 1,1 juta penduduk Rohingya telah meninggalkan Myanmar.

Terlepas dari kecaman yang meluas, bagaimanapun, Israel tetap bersahabat dengan Myanmar dan tetap relatif diam pada apa yang bahkan Museum Memorial Holocaust AS disebut sebagai "bukti kuat" genosida di negara itu.

Menurut Haaretz, Israel juga mengizinkan perusahaan-perusahaan senjatanya untuk menjual senjata kepada militer Myanmar pada musim gugur 2017, lama setelah sebagian besar negara-negara Barat telah melarang penjualan semacam itu oleh perusahaan-perusahaannya.

Masih belum jelas apakah perusahaan-perusahaan Israel masih memasok bantuan militer Myanmar selain senjata, termasuk teknologi pengawasan, pelatihan dan intelijen.

Sebagian besar perusahaan menolak untuk mengklarifikasi penjualan mereka saat ini. Satu firma, TAR Ideal Concepts, membantah laporan bahwa mereka telah menjual senjata ke Myanmar.

Para pengamat mengatakan kerjasama Israel dan keheningan selektif mencerminkan kedekatan Israel dengan Myanmar dan preferensi kebijakan luar negerinya yang ditunjukkan untuk diplomasi biasa atas hak asasi manusia.

"Kecenderungan umum kebijakan luar negeri Israel adalah untuk memberikan prioritas pada kepentingan di atas nilai-nilai," David Tal, seorang sejarawan Israel yang mengepalai program Studi Israel Modern di Universitas Sussex, mengatakan.

"Memiliki hubungan yang baik dengan Myanmar ... Saya anggap bernilai harga moral apa pun yang diterima Israel."

Pada 2011, Yaron Mayer, yang saat itu menjadi duta besar Israel untuk Myanmar, mengatakan kepada majalah Moment bahwa Myanmar adalah "salah satu dari sedikit teman sejati Israel."

Pada bulan Desember 2017, duta besar Myanmar untuk Israel, U Maung Maung Lynn, mengatakan bahwa Israel masih menjual senjata ke negaranya. Israel segera "menegur" sang duta besar, yang segera meminta maaf dan mencabut pernyataannya.

(T.RA/S: PIC)

leave a reply
Posting terakhir