Lembaga Hak Asasi Manusia Palestina: 97 persen air bersih Gaza terkena polusi

Lembaga Hak Asasi Manusia Palestina (PCHR) mengadakan workshop seputar pencemaran air di Gaza. Para ahli menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap angka polusi yang begitu tinggi.

BY adminEdited Sat,09 Feb 2019,04:34 PM

Gaza, SPNA - Lembaga Hak Asasi Palestina (PCHR), Kamis (07/02/2019), mengadakan workshop seputar keberadaan air bersih di Gaza. Acara yang berlangsung di pusat kota Gaza tersebut diisi oleh masing-masing dari Direktur Jenderal Utilitas Air Kotamadya Pesisir, Munzir Syablaq, dan Wakil Ketua Otoritas Air, Mazin Al-Banna. Serta sejumlah tokoh dari beberapa lembaga penting di Gaza.

Gaza merupakan salah satu wilayah dengan intensitas penduduk yang padat. Pasalnya terdapat dua juta jiwa yang tinggal di wilayah seluas 375km2 tersebut. Kondisi negara yang tidak stabil, memaksa warga menghadapi berbagai macam tantangan. Salah satunya, terkait jaminan pengadaan air bersih.

Masing-masing pembicara memberikan penjelasan dan peringatan tentang polusi dan ancaman air bersih yang sedang di hadapi warga Gaza. Juga tantangan dalam bidang kesehatan secara umum.

Khalil Syahin, yang berbicara atas nama Lembaga Hak Asasi Manusia Palestina, ia mengatakan bahwa air bersih yang tersedia di Gaza mengalami penurunan berarti dalam segi kualitas dan kuantitas. Penyediaan air bawah tanah tidak cukup untuk memenuhi keperluan masyarakat yang mengalami pertumbuhan pesat.

Direktur Jenderal Utilitas Air Kotamadya Pesisir, Munzir Syablaq, menyampaikan bahwa jumlah klorida dalam air normalnya tidak boleh melebihi 250mg dalam setiap liternya. Namun, konsentrasi zat tersebut saat ini sudah mencapai 1500mg per liter. Ini merupakan angka yang sangat tinggi.

Penyodotan air dalam jumlah besar dan kurangnya curah hujan, membuat stok air berkurang dan meninggalkan ruang kosong yang kemudian diisi oleh air laut.

Untuk saat ini, waduk bawah tanah tersebut dipaksa menghasilkan 190 sampai 200 juta meter kubik air. Padahal normalnya hanya boleh disedot sebanyak 55 juta meter kubik.  Hal tersebut menyebabkan penurunan jumlah air hingga 12 meter dari permukaan air laut.

Standar internasional, jumlah nitrat dalam air minum tidak boleh melebihi 50mg per liter. Sedangkan di Gaza, kontaminsai zat ini telah berkisar antara 120 sampai 150 mg per liter.

Disebutkan, masyarakat Gaza per jiwanya hanya mendapatkan pasokan air sebanyak 80 liter setiap hari. Jumlah ini tidak sesuai dengan standar minimum yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia, yaitu 100 sampai 150 liter.

Selain itu, angka polusi air di Gaza juga sangat tinggi yang mencapai 97 persen. Sumur-sumur yang menjadi sumber kehidupan warga tidak mampu menghasikan air dengan kualitas yang memadai. Akibatnya penyakit dengan sangat mudah menyerang masyarakat.

(T.HN)

Nuruddin Jamal Al-Harrazin

leave a reply