Rumah Yatim Indonesia luncurkan “Program Orang Tua Asuh Tahap I”

Rumah Yatim Indonesia luncurkan program Orang Tua Asuh Yatim Palestina (ORTA YATIM PALESTINA). Pada tahap ini, 150 anak yatim telah memiliki orangtua asuh di Indonesia.

BY adminEdited Wed,20 Feb 2019,04:29 PM

Jalur Gaza, SPNA - Yayasan Rumah Yatim Indonesia meluncurkan program “Orang Tua Asuh” untuk 400 anak yatim di Jalur Gaza, Jum’at (25/01/2019).

Program ini menyediakan bantuan, baik bersifat moril atau materil, kepada anak-anak yatim di seluruh wilayah Gaza hingga mereka menyelesaikan pendidikan hingga ke perguruan tinggi.

Pembina Yayasan Nusantara Palestina Center (NPC), Bapak Abdillah Onim (Bang Onim) mengatakan bahwa di tahap awal program ini menargetkan 150 anak yatim. Sebagian besar dari mereka menjadi yatim karena kehilangan orang tua akibat perang.

Aktivis kemanusiaan Indonesia yang telah bermukim di Gaza tersebut menambahkan, tiga bulan terakhir tahun 2018 lalu, setipa orang tua asuh memberikan santunan yatim program ORTA senilai Rp.600.000. Jumlah anak Yatim di jalur Gaza tercatat lebih dari 23.000 orang. Jumlah ini terus bertambah seiring meningkatnya aksi pembunuhan yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap para Ayah di Palestina. Selain itu, tak sedikit dari mereka meninggal dunia karena menjadi korban perang atau agres Israel atas Gaza pada tahun 2012, 2014 hingga akhir tahun 2018 silam.

Dengan kehadiran program ini, tidak sedikit dari peserta bertanya, “Apa mungkin anak-anak Yatim itu dibawa ke Indonesia untuk menuntut ilmu di Indonesia lalu kembali ke Palestina?”

Menanggapi hal itu, Bang Onim, yang merupakan pendiri lembaga kemanusiaan Yayasan Nusantara Palestina Center, menegaskan, “Sebetulnya ide ini sudah saya sosialisasikan ke keluarga anak Yatim di Gaza sejak tahun 2010. Namun, akibat blokade Israel, akses dari dan menuju Gaza menjadi sangat sulit. Sehingga, setiap orang asing tidak mudah untuk bisa memasuki Gaza. Ini sudah kebijakan Israel. Sedangkan Pemerintah Palestina tidak bisa berbuat banyak akibat penjajahan dan blokade ini.”

Program OTA Yatim Palestina, yang telah direalisasikan pada bulan Mei 2017 dan hingga kini masih berjalan, tidak serta-merta berjalan mulus. Awalnya, 700 orang telah berkomitmen untuk menjadi orang tua asuh. Bulan pertama berjalan lancar. Namun memasuki bulan kedua, beberapa peserta sudah ada yang mengabaikan komitmen dan tidak memberi informasi apapun. Bulan ketiga, beberapa yang lain juga melepaskan komitmen mereka sebagai peserta OTA YATIM PALESTINA/ Pada bulan keenam, jumlah ini menurun menjadi 600 orang. Dan hingga kini, hanya tersisa 240 orang yang masih berkomitmen untuk mnejadi orang tua Asuh Yatim Palestina.

Terkait hal tersebut, Bang Onim berharap, “Sekiranya para orang tua asuh tidak lagi menyanggupi komitmen mereka, mohon sekiranya berterus terang. Jangan keluar tanpa memberi kabar. Kasihan nasib anak Yatim Palestina.”

Seiring meningkatnya permintaan untuk pembukaan pendaftaran OTA YATIM PALESTINA, Yayasan Rumah Yatim bersedia untuk kembali membuka pendaftaran bagi peserta baru, dengan tajuk program ORTA YATIM PALESTINA.

“Alhamdulilla programnya sudah diluncurkan pada 14 Februari 2019,” tutur Bang Onim. Pada tahap awal jumlah peserta sebanyak 250 orang. Sebanyak 150 anak Yatim Gaza telah memiliki orang tua asuh di Indonesia. Ini adalah program jangka panjang untuk membantu dan menata kehidupan serta masa depan anak Yatim Palestina.

Diharapkan dengan santunan bulanan yang diberikan oleh para orang tua asuh, maka anak Yatim di Gaza bisa memenuhi kebutuhan mereka seperti: baju, buku, tas, perlengkapan sekolah, transportasi ke sekolah, biaya berobata dan biaya kuliah bagi yatim yang sudah memasuki jenjang perguruan tinggi.

“Tidak dipungkiri, jika anak asuh ini memiliki nilai predikat yang tinggi, baik di SMA maupun diperguruan tinggi, maka mereka bisa lanjutkan kuliah di Indonesia dan dapat bertemu dengan sang orang tua asuhnya di sana, insya ALLAH,” tambah Bang Onim

Melalui tulisan, anak-anak tersebut menyampaikan apresiasi  kepada Yayasan Rumah Yatim serta pihak-pihak yang memberikan mereka sumbangsih dan uluran tangan dari Indonesia.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mendukung perjuangan rakyat Palestina baik di bidang politik maupun kemanusiaan, khususnya di Jalur Gaza.

Setiap empat atau lima bulan sekali para orang tua asuh akan menerima dokumentasi yaitu foto serah terima santunan, laporan kerkembangan anak asuh baik hafalan, kesehatan, nilai ujian dan kabar anak yatim. Bahkan, anak yatim menulis surat cinta bagi orang tua asuh mereka, yang ditulis dalam bahasa Arab diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

“Tentu tidak mudah menjalankan program ini sebab butuh tim, waktu, tenaga, ide dan talenta dalam mengelolanya. Alhamdulillah kami memiliki tim khusus di Gaza yang tugasnya mengelola dan memonitoring jalannya program. Bagi kami, ini program luar biasa dan program besar sebab kita ikut mendidik generasi Palestina yaitu anak Yatim untuk mandiri dan memiliki masa depan layaknya anak-anak di Indonesia,” jelas Bang Onim.

 

Gaza selayang pandang

Jalur Gaza adalah wilayah yang terisoliasi akibat blokade Israel sejak  12 tahun silam.  Di masa itu, tanah kelahiran Imam Syafi’i tersebut hancur lebur akibat tiga perang besar tahun 2009, 2012 serta 2014. Seluruh lini kehidupan baik di bidang ekonomi, sosial atau medis lumpuh.

Awal 2018 lalu, Sekjen PBB, Antonio Guterres bahkan telah menegaskan bahwa Gaza yang memiliki populasi dua juta jiwa tersebut akan menjadi wilayah tak layak huni pada tahun 2020.

Sementara itu Profesor Hubungan Internasional Universitas Oxford, Avi Shlaim mengatakan bahwa Israel telah mengubah Jalur Gaza menjadi penjara terbesar di dunia.

Dalam sebuah artikel yang dirilis The Guardian dalam peringatan 10 tahun operasi “Cast Leads”, sejarawan Yahudi tersebut mengatakan bahwa sampai saat ini pemerintah Israel masih menggunakan cara-cara brutal dalam menghadapi warga Gaza.

Salah satu krisis yang mendera Gaza adalah di bidang medis dan kesehatan terutama terkait krisis listrik dan obat-obatan serta peralatan medis.

Dr. Ashraf Qaddoura, dalam konferensi pers yang dilansir di akun Facebook-nya, Selasa (15/01/2018), menjelaskan bahwa krisis bahan bakar yang terus berlanjut di Gaza akan menghentikan generator yang menyuplai listrik ke rumah sakit Gaza. Situasi ini akan berdampak langsung terhadap pasien.

Juru Bicara Menteri Kesehatan Gaza tersebut juga menambahkan bahwa krisis listrik akan membahayakan nyawa 800 pasien gagal ginjal dan 30 anak-anak.

(SPNA)

leave a reply
Posting terakhir
42315338_1151081441712393_8849937360750641152_n.jpg

Rumah Yatim gandeng Bang Onim luncurkan program OTA Palestina

Anak di Gaza telah kehilangan masa kanak-kanak, yang seharusnya bisa mereka nikmati dengan keriangan dan kehangatan. Pola kekerasan yang dialami anak-anak Palestina mengakibatkan dampak psikologis yang sangat serius dan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya.

Hari pemilihan Anak Asuh Yatim Palestina...

Jalur Gaza, SPNA – Kantor Berita Suara Palestina (SPNA) pimpinan Bapak Abdillah Onim atau akrab disapa dengan  “Bang Onim,” telah merampungkan kegiatan Pemilihan Anak Asuh Yatim Palestina,