Opini: Musala Al-Rahma dan kekuatan perlawanan rakyat Palestina

Melakukan sholat di dalam dan halaman Musalah Ar-Rahma merupakan simbol perlawanan yang dapat mencegah rencana kolonisasi Israel.

BY adminEdited Wed,06 Mar 2019,11:51 AM

Oleh: Mustafa Barghouti

Jumat lalu, kami berhasil, terlepas dari hambatan dan pencegahan, untuk mencapai Yerusalem dan melaksanakan sholat Jumat di Masjid Al-Aqsa, yang dibuka kembali dan tetap dibuka atas kehendak dan ketekunan warga Yerusalem. Mereka sekali lagi, setelah pemberontakan pada Juli 2017, menghadirkan model perlawanan rakyat yang terpuji yang mampu menantang langkah-langkah pendudukan yang tidak adil dan memaksakan fetakompli rakyat Palestina.

Musala Al-Rahma bukan hanya sebuah gerbang, namun juga meruakan bagian yang besar dan komponen Masjid Al-Aqsa. Di dalamnya ada pilar sejarah kuno, dan dinding luarnya terhubung ke Gerbang Al-Rahma dan Tawbah.

Melakukan sholat di masjid dan halamannya merupakan tindakan patriotik murni sebab bisa mencegah rencana kolonisasi kolonial berbahaya untuk merebut masjid dan mengubahnya menjadi ruang untuk pembangunan sebuah kuil, sebagaimana dugaan orang-orang Yahudi. Peristiwa di sekitar Musala dan Gerbang Al-Rahma telah membuktikan, sekali lagi, bahwa orang-orang Yerusalem (Palestina) terus berdiri menentang pendudukan dan penindasannya. Mereka menang setiap saat, mengingat kemampuan mereka untuk bersatu, bekerja bersama, dan tanpa henti memberi secara sukarela tanpa menunggu imbalan dari siapa pun.

Mereka membuat kita bangga sebagai orang Palestina dengan kemampuan mereka untuk melindungi Masjid Al Aqsa, dan semua situs suci Islam dan Kristen, meskipun banyak pihak yang memiliki tentara, dana, dan kemampuan telah lalai melakukannya.

Rakyat Yerusalem telah menunjukkan, melalui tindakan mereka, kekuatan konsep dan kinerja perlawanan rakyat yang sejati.

Keberanian tanpa batas

Saya tidak mengerti arti kata dalam bahasa Ibrani "chutzpah", sampai seseorang menjelaskannya kepada saya. Ia menceritakan kisah tentang seorang pria yang membunuh orang tuanya karena uang, dan akhirnya ia dijatuhi hukuman mati. Ketika hakim bertanya apakah dia memiliki kata-kata terakhir, sang pelaku mengatakan bahwa ia ingin meminta belas kasihan. Hakim bertanya kepadanya berdasarkan apa (permintaan tersebut), lalu dijawab, karena ia adalah seorang yatim piatu yang kehilangan kedua orang tuanya.

Beginilah cara saya memahami makna chutzpah, yang berlaku pada perilaku pembunuh ini. Itu berarti penghinaan dan keberanian yang berlebihan.

Saya memahami istilah chutzpah dengan lebih baik ketika para pemimpin Israel dan para pendukung mereka memulai kampanye propaganda mereka yang terburu-buru. Kampanye yang kemudian diikuti oleh langkah-langkah pembajakan finansial terhadap para tahanan yang berani dan keluarga para martir, yang menjadi korban pembunuhan dan penindasan Israel.

Para tahanan yang gigih dan para martir yang terhormat ini adalah korban dari pendudukan ilegal. Beberapa dari mereka dibakar hidup-hidup atau dibunuh dengan darah dingin oleh pemukim, sementara peluru tentara Israel membunuh yang lain. Beberapa warga Palestina, seperti Razan al-Najjar, dibunuh oleh penembak jitu Israel disaat mereka mengobati yang terluka atau menjalankan tugas mereka sebagai wartawan.

Sejumlah besar tahanan ditangkap dan ditahan tanpa dakwaan dan persidangan dengan dalih apa yang disebut "penahanan administratif".

Mereka yang telah berjuang membela hak-hak mereka dan rakyat mereka dikenal dalam kamus hak asasi manusia modern sebagai "pejuang kemerdekaan". Mereka dimuliakan di mana-mana, kecuali di Palestina. Para pemimpin Israel dan mereka yang berada di Senat AS, yang tanpa malu-malu mendukung Israel, tidak ragu untuk menggambarkan setiap perlawanan yang dilakukan rakyat Palestina, bahkan yang paling damai sekalipun, sebagai terorisme, hasutan, dan anti-Semitisme.

Chutzpah adalah ketika penjajah dan pembunuh dipandang tidak bersalah dan dilindungi, sementara mereka yang membela diri menjadi tersangka dan dianiaya. Ini adalah tingkat kesombongan yang tertinggi.

Namun, pembajakan dan pencurian oleh pemerintah Israel, dengan menyita uang yang dibayarkan oleh orang-orang kami yang menderita akibat pendudukan, dengan dalih memotong tunjangan yang diberikan kepada para tahanan dan keluarga para martir, adalah suatu bentuk “keberanian” yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Apa yang pendudukan lakukan, seperti yang tidak dilakukan oleh semua penjajah di sepanjang sejarah, adalah bahwa tidak ada tindakan represif atau tindakan pembalasan yang dapat atau dapat mencegah suatu bangsa untuk merangkul dan merawat para tahanan dan keluarga para martirnya.

leave a reply
Posting terakhir