Hari Perempuan dunia dalam pandangan wanita Suriah

Hari Perempuan Internasional memiliki makna yang berbeda bagi para wanita Suriah. Krisis ekonomi pasca perang memaksa mereka untuk bekerja keras demi menghidupkan keluarga.

BY adminEdited Sat,09 Mar 2019,11:00 AM

Damaskus, SPNA - Di sebuah pabrik permotongan kayu di Damaskus Timur, seorang perempuan Suriah, Ummu Ahmad, sedang sibuk melakukan aktivitasnya. Bau kayu basah akibat hujan deras melengkapi pemandangan pabrik yang telah tergenang lumpur.

Untuk melindungi wajah dari pecahan kayu, Ummu Ahmad, tidak lupa memakaikan masker yang membalut wajah dan kepala. Ia juga memakai kain pajang yang menutupi seluruh tubuhnya dan sarung tangan sebagai perlengkapan pekerjaannya.

Pasca perang yang telah berlangsung lama, Ummu Ahmad mendapati dirinya harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia bahkan rela melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan oleh perempuan.

Pekerjaan terbarunya adalah bekerja di pabrik pemotongan kayu. Penghasilan bulanan yang didapatkan suaminya sebagai satpam tidak cukup untuk membayar sewa rumah dan kebutuhan lainnya.

Aktivitas sehari-hari Ummu Ahmad adalah mengangkat satu persatu kayu-kayu besar untuk dipotong menjadi bagian yang kecil-kecil. Ini merupakan bulan kedua ia bekerja di pabrik tersebut. Tidak hanya dirinya, terdapat tiga perempuan lainnya dan 15 laki-laki yang bekerja di tempat tersebut.

“Keterpaksaan satu satunya alasan saya bekerja di tempat ini. Kami harus tetap hidup. Kami harus tetap makan.” Kata Ummu Ahmad sambil sibuk dengan kayu-kayunya.

Dari pekerjaannya tersebut, Ummu Ahmad mendapatkan 60 ribu lira (1,5 juta) perbulan. Ia sedikit beruntung, karena dapat membawa pulang kayu-kayu kecil yang tidak dipakai, untuk memasak. Atau menghidupkan api unggun demi mengusir hawa dingin yang sedang memuncak.

“Musin dingin merupakan tantangan yang sulit bagi kami. Kami tidak bermimpi membeli minyak tanah atau gas. Listrik padam sepanjang hari. Bagi kami, kayu adalah harta paling berharga.”

Tiga tahun lalu, Ummu Ahmad, suami dan anaknya yang belum berumur 10 tahun, terpaksa meninggalkan kampung halamannya, Manbij, dan mengungsi ke pinggiran kota Damaskus. Keluarga Ummu Ahmad merupakan satu dari ribuan keluarga lainnya yang terpaksa mengungsi akibat perang. Data yang dikeluarkan PBB, terdapat 6 juta jiwa warga yang berstatus pengungsi di Suriah.

Musin dingin yang mencekam

Warga Suriah mengakui bahwa musim dingin tahun ini merupakan yang paling parah sejak beberapa tahun terakhir. Di beberapa daerah, suhu udara bahkan berada di bawah nol derajat. Kondisi tersebut bertambah buruk dengan mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk menghidupkan pemanas ruangan.

Perang saudara yang berlangsung selama delapan tahun telah merusak ekonomi dan infrastruktur. Sepertiga dari warga Suriah bahkan hidup di bawah garis kemiskinan.

Setiap keluarga setidaknya membutuhkan 325 ribu lira sebulan atau 9 juta rupiah. Sedangkan rata-rata pemasukan mereka per keluarga hanya 103 ribu lira, atau 3 juta rupiah.

Krisis ekonomi juga membuat harga bahan bakar melangit. Mereka bahkan susah medapatkan pasokan BBM yang langka akibat beberapa sumber energi Suriah hancur selama perang berlangsung.

Kondisi tersebut mengharuskan Ummu Ahmad dan ribuan perempuan Suriah lainnya, untuk bekerja tambahan demi memperjuangkan kehidupan mereka.

Di pabrik yang sama, juga bekerja Ummu Husain, seorang ibu yang berumur sekitar tiga puluhan tahun. Sama seperti Ummu Ahmad, Ia juga berusaha mendapatkan penghasilan tambahan dan kayu yang dapat dibawa pulang ke rumahnya. Sedang suaminya jatuh sakit sejak beberapa tahun terakhir.

“Saya tidak punya pilihan lain. Saya harus bekerja layaknya kaum pria untuk menghidupkan diri  dan suami. Saya hanya berharap dapat membeli makanan dan membawa kayu ke rumah pada sore hari.” Kata Ummu Husein.

Berjuang demi satu tabung gas

Di sudut lain dari Kota Damaskus, Mays, perempuan Suriah 27 tahun berusaha mendapatkan satu tabung gas yang harus ia bawa pulang ke rumahnya. Suaminya yang berkerja dari pagi sampai sore, membuatnya terpaksa mengantri selama seminggu terakhir untuk mendapatkan gas.

“Setiap hari saya mengantri bersama dengan wanita lainnya untuk mendapatkan satu tabung gas. Namun sayangnya, gas sudah habis sebelum giliran kami tiba. Kadang-kadang kami mendapatkan info bahwa mobil gas tidak datang, atau hanya mengangkut beberapa tabung gas saja.” Kata Mays.

Meski demikian, tidak ada pilihan bagi Mays kecuali kembali mengantri keesokan harinya. Tanpa gas, mereka tidak dapat menghidupkan pemanas ruangan. Apalagi ia mempunyai dua orang anak yang masih duduk di bangku sekolah.

Mays menjelaskan, “Membeli gas dengan harga normal memang harus rela mengantri panjang. Atau anda harus membayar berkali lipat jika ingin mendaptkan gas di pasar ilegal. Sedangkan listirk, sama sekali tidak bisa diandalkan, karena hanya hidup beberapa saat saja.”

Harapan masa depan yang lebih baik       

Mays yakin bahwa apa yang dirasakannya juga dihadapi oleh ribuan perempuan Suriah lainnya. Ia hanya berharap dapat memberikan kehidupan bagi kedua anaknya. Ia juga berharap anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan tinggi agar dapat merasakan kehidupan yang lebih baik.

Sedangkan Ummu Ahmad, ketika ditanya apa yang ia ketahui tentang Hari Perempuan dunia yang diperingati setiap tanggal delapan Maret. Dengan setengah tertawa ia menjawab, “Hari perempuan? Saya belum pernah dengar. Saya hanya berharap kehidupan kami dapat lebih baik sedikit saja dari apa yang kami rasakan dari hari ini.”

(T.HN/S: BBC)

leave a reply
Posting terakhir