Penasehat Presiden AS: Pemerintah Palestina berhasil gagalkan Konferensi Bahrain

Kami mengadakan pertemuan untuk mengumpulkan pengusaha dan delegasi perusahaan internasional. Ada banyak pihak yang ingin berpartisipasi namun kami tidak mengundang mereka. Rencana ekonomi bisa terealisasi namun hal ini tidak akan terjadi tanpa persetujuan Pemerintah Palestina

BY adminEdited Mon,08 Jul 2019,11:16 AM

 

 

Washington, SPNA - Jared Kushner mengaku bahwa  Palestina berhasil gagalkan Konferensi Manama di Bahrain, yang merupakan aspek ekonomi “Kesepakatan Abada Ini’’ yang dirumuskan oleh Gedung Putih untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel.

Bulan lalu, Pemerintah AS menggelar konferensi di Bahrain untuk membahasi investasi ekonomi di Palstina. Namun Pemerintah Palestina memboikot konferensi tersebut karena dinilai akan mengancam kedaulatan negara.

Surat kabar Israel, Haaretz, Minggu (07/07/2019) melaporkan bahwa pernyataan tersebut disampaikan Penasehat Presiden Amerika Serikat dalam wawancara melalui sambungan telepon bersama wartawan Arab dan Israel terkiat boikot Palestina terhadap Konferensi Ekonomi Bahrain.

Kushner juga mengkritik Pemerintah Palestina, lalu secara implisit mengakui bahwa Palestina berhasil gagalkan konferensi tersebut.

“Kami mengadakan pertemuan untuk mengumpulkan pengusaha dan delegasi perusahaan internasional. Ada banyak pihak yang ingin berpartisipasi namun kami tidak mengundang mereka. Rencana ekonomi bisa terealisasi namun hal ini tidak akan terjadi tanpa persetujuan Pemerintah Palestina, ‘’ ujarnya.

Menantu Donald Trump tersebut juga menyebutkan bahwa pihaknya berhasil mengumpulkan 28 miliar Dolar yang rencananya akan diinvestasikan di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Namun duit tersebut tidak akan cair jika Palestina masih bersikeras dan tidak mengubah cara pandang mereka.

“Investasi di Palestina belum membuahkan hasil di masa lalu. Sejumlah perwakilan negara-negara Afrika juga ikut hadir di Bahrain. Mereka mengatakan kepada kami bahwa jika Palestina tidak tertarik dengan investasi ekonomi, kami akan senang menerima program tersebut,’’ terangnya.  

Hubungan Palestina dan Amerika Serikat memanas sejak Presiden AS Donald Trump mendeklarasikan bahwa Al-Quds ibukota Israel akhir 2017 lalu, dimana keputusan tersebut ditentang keras oleh Arab dan dunia internasional.  

Sejak saat itu, Pemerintah Palestina memutuskan kontak  dengan Gedung Putih. Palestina menilai AS tidak lagi berhak menjadi mediator perjanjian damai karena hanya mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan sebelah pihak.

Gedung Putih menyikapi langkah Palestina tersebut dengan memutuskan bantuan untuk pengungsi Palestina serta bantuan ekonomi sampai Palestina tunduk dengan Kesepakatan Abad Ini. Situasi ini membuat Palestina didera krisis.  

Washington Post menyebutkan bahwa Kesepakatan Abad Ini diprediksi akan merugikan Palestina. Hal ini karena kesepakatan  AS tersebut dapat menghapus solusi dua negara dan tidak menjamin kemerdekaan Palestina, seperti dilansir Washington Post.

Perdana Menteri Dr. Mohammed Shtayyeh bahkan menegaskan bahwa Palestina menolak menjual kemerdekaan negara dengan duit. Dr. Shtayyeh menambahkan bahwa AS sengaja menciptakan krisis ekonomi di Palestina untuk kemudian menyuap mereka.

Sebelumnya, 37 Mantan Presiden dan Menteri Luar Negeri Eropa menandatangani sebuah petisi menyerukan Uni Eropa mendukung solusi dua negara serta menolak Kesepakatan Abad Ini jika tidak menghormati hukum internasional.

(T.RS/S:RtArabic)

leave a reply
Posting terakhir