WHO: Perokok Lebih Rentan terhadap Virus Corona

Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan para ilmuwan tentang klaim bahwa tembakau dapat membantu perlindungan dari COVID-19

BY Mohamed AlhirtaniEdited Thu,14 May 2020,02:23 AM

Jenewa

Jenewa, SPNA - Perokok lebih rentan tertular COVID-19 daripada mereka yang tidak merokok, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menuturkan pada hari Senin (11/05/2020).

Sebuah tinjauan studi oleh para ahli kesehatan masyarakat yang diadakan oleh WHO menemukan bahwa perokok memiliki risiko lebih tinggi tertular penyakit.

"COVID-19 adalah penyakit menular yang terutama menyerang paru-paru," kata WHO dalam sebuah pernyataan tertulis.

“Merokok merusak fungsi paru-paru sehingga membuat tubuh lebih sulit melawan virus korona dan penyakit lainnya,” tambahnya.

WHO juga memperingatkan para peneliti, ilmuwan, dan media tentang klaim bahwa tembakau atau nikotin dapat mengurangi risiko COVID-19.

Klaim itu muncul setelah beberapa penelitian menunjukkan bahwa jumlah bukan perokok lebih tinggi di antara pasien COVID-19 dibandingkan dengan perokok.

Sebuah studi oleh para ilmuwan Perancis di portal sains Qeios akhir April menyarankan bahwa merokok dapat menjadi faktor perlindungan terhadap virus corona baru.

Para peneliti mengatakan hanya 5% dari 482 pasien COVID-19 di rumah sakit Pitie-Salpetriere di Paris pada 28 Februari - 9 April adalah perokok.

Sebuah studi sebelumnya yang diterbitkan akhir Maret di New England Journal of Medicine juga menunjukkan hanya 12,6% dari 1.099 orang yang terinfeksi virus adalah perokok, sementara tingkat merokok di Cina adalah sekitar 28%.

Menurut WHO, tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang secara global setiap tahun.

Lebih dari 7 juta kematian ini berasal dari penggunaan tembakau langsung dan sekitar 1,2 juta adalah karena non-perokok yang terpapar perokok pasif.

Setelah berasal dari China Desember lalu, COVID-19 telah menyebar ke setidaknya 187 negara dan wilayah. Eropa dan AS saat ini merupakan wilayah yang paling parah terpapar.

Pandemi telah menewaskan hampir 292.000 orang di seluruh dunia, dengan total infeksi lebih dari 4,26 juta, sementara pemulihan melebihi 1,49 juta, menurut angka yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins di AS.

(T.RA/S: Anadolu Agency)

leave a reply