Persatuan Ulama Palestina di Gaza Serukan Umat Islam Bela Palestina Dari Pendudukan Israel

Persatun Ulama Palestina bersama Menteri Wakaf Palestina di Jalur Gaza menyatakan penolakan keras terhadap rencana pencaplokan wilayah Tepi Barat serta mengajak seluruh pihak  menyuarakan penolakan dan mencegah rencana Israel tersebut.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Mon,22 Jun 2020,11:36 AM

Jalur Gaza, SPNA - Persatun Ulama Palestina bersama Menteri Wakaf Palestina di Jalur Gaza menyatakan penolakan keras terhadap rencana pencaplokan wilayah Tepi Barat serta mengajak seluruh pihak  menyuarakan penolakan dan mencegah rencana Israel tersebut.

 

Hal ini disampaikan dalam konferensi pers di Jalur Gaza, Minggu (21/06)  yang dihadiri sejumlah tokoh Palestina dari Kementerian Wakaf dan sejumlah tokoh pemuka agama.

 

Dr. Marwan Abu Ras menyerukan agar seluruh warga Palestina dan gerakan perlawanan berjuang menghentikan pencaplokan terhadap Tepi Barat dengan berbagai cara.

 

Ketua Dewan Ulama Palestina tersebut juga menyerukan seluruh umat Islam membela Palestina. Hal ini karena Palestina adalah amanah bagi umat Islam di seluruh dunia.

 

"Kami terus mengikuti berbagai pelanggaran hukum  yang dilakukan Israel, dimulai dari penangkapan, penggusuran, dan yang paling berbahaya adalah pencaplokan wilayah. Seluruh wilayah Palestina adalah milik bangsa Arab.  Zionis tidak punya hak atas Palestina. Apapun yang dilakukan Israel tidak akan mengubah fakta ini", tutupnya.

 

Di saat yang sama Gerakan Fatah dan PLO juga menggelar aksi bela Palestina dan menolak pencaplokan Israel hari ini, Senin (22/01).  Aksi tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional Palestina serta perwakilan organisasi internasional dipimpin oleh delegasi PBB untuk perdamaian Timur Tengah, Nikolai Mladinov.

 

Sebelumnya gerakan Fatah menyerukan seluruh warga Palestina untuk ramai-ramai memadati Lembah Yordania demi melawan pendudukan Israel.

 

Sekretaris Lembaga Eksekutif Fatah, Jibril Ragoub dalam konferensi pers bersama Wakil Perdana Menteri Palestina,  Nabil Abi Rudeina, (21/06) mengatakan bahwa aksi yang akan digelar di Lembah Yordania hari ini untuk menegaskan bahwa pencaplokan terhadap Palestina tidak akan pernah berhasil. "Sudah saatnya kita mengangkat kartu merah didepan Israel, '' tegasnya.

 

Dia juga menegaskan bahwa Fatah siap untuk bernegosiasi dengan seluruh faksi Palestina demi melawan pendudukan Israel.  "10 hari kedepan akan menjadi hari-hari menentukan. Kami tidak yakin Israel dan Amerika Serikat akan mundur, karena itu kami akan mengambil langkah-langkah menggagalkan  pencaplokan terhadap Tepi Barat," ancamnya.

 

Di saat yang sama Abu Rudeina mengatakan bahwa  pihak AS dan Israel berupaya menekan Presiden Abbas agar kembali melakukan perundingan.

 

"Sikap Palestina jelas. Jika Trump mengatakan bahwa Al-Quds ibukota Israel tidak bisa dinegosiasikan maka solusi perdamaian Trump juga kami tolak, '' tegasnya.  

 

Netanyahu sebelumnya menyatakan berencana mencaplok 30% dari wilayah Tepi Barat pada pertengahan Juli mendatang sesuai dengan Kesepakatan Abad Ini yang diprakarsai Donald Trump.  

 

Rencana tersebut ditentang oleh Pemerintah Palestina, PBB dan Uni Eropa yang memandang bahwa hal ini  bertentangan dengan hukum.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, telah mengambil langkah tegas dengan memutuskan kerjasama dengan pihak Israel. Termasuk diantaranya kerjasama dalam bidang keamanan.

Disaat yang sama Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh juga menegaskan bahwa Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) akan menarik kembali pengakuannya atas Israel jika Tel Aviv mencoba mengusik kemerdekaan Palestina dibatas wilayah yang disepakati 4 Juni 1967.

(T.RS/S:Nuruddin El-Harazin)

leave a reply
Posting terakhir