Pakar: Mengembalikan Hagia Sophia sebagai Masjid Menunjukkan Kedaulatan Negara Muslim

Para pembicara dalam sebuah diskusi virtual membahas konsekuensi dari pemulihan Hagia Sophia sebagai masjid.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Sun,19 Jul 2020,03:54 PM

Istanbul, SPNA - Keputusan Turki untuk membuka kembali Hagia Sophia sebagai masjid menunjukkan kemampuannya "untuk menegaskan kedaulatan dan kemauannya", kata para pembicara di sebuah seminar virtual pada hari Sabtu (18/07/2020).

"Turki berpihak pada suara sah rakyat dan pemerintah di kawasan itu," kata Sami Al-Arian, seorang pakar urusan global.

Pekan lalu, pengadilan tinggi Turki membatalkan dekrit Kabinet 1934, yang menjadikan Hagia Sophia sebagai museum, lalu mengembalikan statusnya sebagai masjid.

Arsitektur memukau di jantung kota Istanbul itu adalah sebuah gereja di era Bizantium. Bangunan ini dikonversi menjadi masjid pada tahun 1453 setelah penaklukan kota tersebut oleh Ottoman.

Diskusi bertajuk "Keputusan Hagia Sofia dan Implikasi Geo-politik", dipandu oleh Lembaga Pusat Islam dan Urusan Global (CIGA) yang berbasis di Istanbul.

Al-Arian, direktur lembaga itu menuturkan bahwa ada 400 gereja dan sinagog telah dipulihkan di Turki dengan dukungan negara.

"Ketika Inkuisisi Spanyol terjadi menjelang akhir abad ke-15, ini adalah kemunafikan yang kita lihat hari ini, bahwa ratusan masjid dan bangunan keagamaan (diubah) menjadi gereja dan bangunan Katolik dan tidak ada yang membicarakannya," kata Al-Arian.

"Yunani tidak memiliki masjid tunggal meskipun dalam sejarahnya di sana terdapat penduduk Muslim. Mereka (Muslim Yunani) ditolah untuk memiliki satu rumah ibadah, sampai belum lama ini."

'Dukungan dengan suara bulat'

Yasin Aktay, penasihat senior untuk pemerintah Turki, mengatakan bahwa ada dukungan bulat atas pembukaan kembali Hagia Sophia untuk pelaksanaan shalat.

"Ini menunjukkan bagaimana Hagia Sophia (memiliki) nilai yang sama bagi orang-orang di Turki," kata Aktay.

"Kami sekarang berada di Turki yang baru ... keputusan ini tidak bertentangan dengan agama apa pun dan mengubah Hagia Sophia (pada 1934) adalah keputusan yang luar biasa," katanya.

“Tidak ada alasan untuk khawatir tentang Hagia Sophia, semua aspek historis dan budaya akan dilindungi,” kata Aktay, yang juga seorang ilmuwan politik.

Aktay mengatakan, selama penaklukan, "Utsmani tidak menghancurkan tempat ibadah... mereka bisa saja mengubah semua tempat keagamaan (non-Muslim) menjadi masjid, tetapi mereka tidak melakukannya."

'Turki membantu Palestina'

Berbicara pekan lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut keputusan terhadap Hagia Sophia sebagai "pertanda pembebasan Masjid Al-Aqsa" di Yerusalem.

Mengacu pada hal itu, Al-Arian mengatakan Erdogan telah berada "di garis depan untuk pertempuran di Yerusalem dan Palestina".

"Itu bukan hanya dukungan dalam kata tetapi semua melalui tindakannya," katanya.

Al-Arian, yang tinggal di AS selama lebih dari empat dekade sebelum pindah ke Turki pada 2015, mengatakan, “Ratusan gereja Katolik ditutup di Barat; banyak yang dijual karena tidak ada yang memelihara dan (dalam banyak situasi) umat Islam-lah yang membelinya hanya untuk mempertahankannya sebagai rumah ibadah "

Menanggapi kritik dari beberapa kalangan di komunitas Muslim di Barat, Al-Arian mengatakan, "Pasca 9/11, banyak yang disebut pemimpin Muslim telah mengabaikan minat umat Islam di Barat. Mereka menarik bagi sentimen yang paling Islamofobia dan anti-Muslim."

Mengesampingkan perbandingan dengan Masjid Babri di India, Al-Arian mengatakan "situasinya sangat berbeda."

"Kami tidak berbicara tentang sekelompok orang yang telah dianiaya, yang telah ditargetkan, ditendang dan dibakar seperti apa yang terjadi di India," katanya, merujuk pada masjid abad ke-16 di India yang dihancurkan untuk membangun sebuah kuil Hindu.

“Hagia Sophia adalah masjid pada tahun 1934 dan tidak ada pertanyaan yang diajukan ketika itu diubah menjadi museum; tidak ada (pula) pihak yang memintanya untuk menjadi gereja,” katanya.

(T.RA/S: Anadolu Agency)

leave a reply
Posting terakhir