Idul Adha dan 'Suara Kerinduan' dari Penjara Israel

Tahanan wanita berusia 28 tahun mengirimkan surat yang menyayat hati, ingin mendengar suara anak-anaknya pada hari Idul Adha.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Thu,30 Jul 2020,03:25 PM

Ramallah, SPNA - Menjelang Idul Adha, bertepatan dengan ibadah haji tahunan, sebuah keluarga Palestina di Beit Kahel, sebelah utara Hebron di Tepi Barat mengenang peristiwa tragis yang menimpa mereka di hari yang sama setahun lalu.

Kala itu, tentara Israel menyerbu rumah keluarga Aref Asafreh dan menangkap ketiga putranya sehari setelah mereka merayakan Idul Adha.

“Pasukan mengepung rumah kami dan memerintahkan semua anggota keluarga berkumpul dalam satu kamar. Lalu, mereka mulai menginterogasi putra-putra saya selama lima jam."

Setelah itu, lanjutnya, "mereka membawa (putraku) Qasem, istrinya Enas, dan dua putraku lainnya, Ahmed dan Mohammad.” Mereka juga menyita kendaraan Qasem.

Belakangan intelijen Israel menuduh mereka membunuh seorang mantan tentara Israel di permukiman Gush Etzion di utara Hebron.

Tiga bulan kemudian, pasukan Israel kembali dan menghancurkan empat rumah milik keluarga, salah satunya milik Qasem dan istrinya. Selama satu tahun terakhir, anak Qasem; Mohammad (6) dan Abdulrahman (4), terus menunggu kembalinya orang tua mereka.

Duduk di atas puing-puing rumahnya bersama dengan saudara lelakinya Saleh, Asafrh mengatakan bahwa kesedihan mereka semakin mendalam pada hari-hari khusus seperti Idul Adha, ketika anak-anak mengingat orang tua mereka.

“Mereka kehilangan kehangatan pangkuan ibu. Mereka menanyakan keberadaan orang tua mereka dan kapan mereka akan kembali. Kami tidak punya jawaban," kata Khaleel, saudara laki-laki Qasim.

Asafreh dan istrinya yang telah berusia lanjut merawat tujuh cucu mereka, yang ayahnya dipenjara. Dengan rumah-rumah yang  diledakkan oleh pasukan Israel, mereka harus pontang-panting mencari tempat berlindung.

“Setelah menangkap putra-putra saya, pasukan pendudukan menangkap tiga keponakan saya. Enam pria di keluarga kami berada di penjara," tuturnya.

Asafreh dan istrinya hanya sekali bertemu dengan putra mereka sejak penangkapan itu. Alih-alih menahan mereka di penjara yang sama, mereka malah dimasukkan ke penjara berbeda di seluruh negeri.

Kerinduan ibu akan anak-anak

Beberapa hari lalu, keluarga menerima surat dari Enas (28), yang berhasil diselundupkannya melalui tahanan wanita yang dibebaskan.

"Aku merindukan Qasem dan putra-putra kami hari ini. Saya berharap untuk bersama mereka dan mempersiapkan diri untuk Idul Adha. Saya ingin membelikan mereka pakaian baru yang bagus,” tulis sang ibu, yang ditahan di penjara Damon dekat Haifa. Sementara itu, Qasem ditahan di penjara Remon di gurun Negev di ujung selatan.

Berbicara kepada Agensi Anadolu, Mohammad Asafrh, saudara lelaki Enas mengatakan bahwa saudara perempuannya mengidap banyak penyakit kronis, kebanyakan akibat interogasi yang keras yang ia alami di Pusat Interogasi Ashkelon.

“Dia menderita sakit kepala terus menerus, iritasi usus besar, dan nyeri pada tulang akibat kurang vitamin, dan perawatan medis. Tapi dia selalu berusaha menjadi kuat dan sabar,” kata Mohammad.

Dalam suratnya, Enas meminta keluarganya untuk membiarkan dia mendengarkan suara putranya pada hari Idul Adha.

Dilarang bertemu kerabat dan pengacara mereka selama tiga bulan terakhir sejak penyebaran COVID-19, sebuah stasiun radio Palestina melalui program "Suara Tahanan" telah membantu para tahanan untuk bisa menjalin hubungan dengan keluarga mereka melalui pesan suara.

"Saya sedang menunggu transmisi radio FM malam hari, untuk mendengar suara Mohammad dan Abdulrahman," tulisnya.

Anak-anak yang pernah bertemu ibu mereka di belakang panel kaca terkejut melihat ibu mereka untuk pertama kalinya, empat bulan setelah penangkapannya.

“Sangat berbahaya melihat mereka menangis di balik panel kaca dan tidak bisa memeluk dan menenangkan mereka. Saya berharap suatu hari nanti saya bisa mencium dan memeluk putra-putra saya,” kata Enas dalam suratnya.

(T.RA/S: Anadolu Agency)

leave a reply