Penduduk Beit Dajan Keluar Melindungi Tanah Mereka Dari Cengkeraman Pemukim Yahudi

Berri menyebutkan bahwa kata sepakat antara Lebanon dan Palestina dalam penentuan batas laut dan darat kedua negara merupakan langkah yang diperlukan, tapi tidak cukup. Ia menegaskan bahwa penentuan batas negara tersebut harus disertai dengan pembentukan pemerintah negara secepat mungkin.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Mon,05 Oct 2020,03:51 PM


Nablus, SPNA – Kota Beit Dajan, timur Nablus, di Tepi Barat bagian utara dalam beberapa hari teakhir mengalami berbagai serangan pemukiman, ditandai dengan pembukaan jalur menuju tanah warga menggunakan buldoser pendudukan, dalam rangkaian agenda untuk mengendalikan ribuan hektar lahan di sana.

Aktivis anti-permukiman Muhammad Abu Thabit mengatakan: Aktivis dan faksi Beit Dajan segera mengadakan pertemuan darurat, memutuskan untuk memobilisasi orang, pemuda dan pemilik tanah untuk melindungi tanah mereka.

Abu Thabit menyebutkan bahawa pelanggaran pendudukan Israel ini harus disorot oleh semua kekuatan, pemerintah, lembaga HAM dan badan apapun yang berkepentingan untuk menghadapi permukiman, sehingga dapat memobilisasi semua kekuatan yang ada untuk menghalangi segala kejahatan yang mereka lakukan.

Sementara itu, Abd al-Rahman Hanini, Ketua dewan Sesa Beit Dajan, mengatakan: “Apa yang terjadi tidaklah terjadi secara kebetulan atau hanya dengan perintah biasa. Ada pencaplokan ribuan hektar kota yang nyata, yang digecnarkan Israel untuk kepentingan pemukiman baik sekarang maupun di masa yang akan datang.”

Hanani mencatat bahwa di masa lalu, Beit Dajan kehilangan ribuan hektar tanah pertanian di Lembah Jordan dan di pegunungan terdekat dari pemukiman Hamra yang dirampas sejak tahun 1969.

Ia menyebutkan bahwa total luas tanah Beit Dajan adalah sekitar 44.100 dunam, dan yang dirampas oleh pendudukan setara dengan setidaknya setengah dari luas kota. Kenyataan ini merupakan hal yang sangat berbahaya, dengan kemungkinan adanya usaha perampasan ratusan bahkan ribuan lainnya seiring dengan jalannya masa.

"Para pemukim mulai membuka jalan dan jalur acak 10 hari yang lalu di sisi timur kota ketika malam tiba, bekerja cepat di dalam gelapnya malam, dan seiring dengan terbitnya fajar, mereka menghilang dan berlagak seolah tidak terjadi apa-apa.”

Hanani berujar yakin bahwa kejahatan terhadap tanah mereka baru-baru ini merupakan efek alami dari normalisasi negara-negara Arab dengan Israel. Kesepakatan yang mereka lakukan dengan Israel membuat pendudukan semakin berani untuk berbuat sesukanya.

Laporan berkala yang dikeluarkan oleh kantor media Hamas di Tepi Barat menyebutkan adanya 1575 pelanggaran pasukan pendudukan terhadap hak-hak rakyat Palestina dan tanah mereka di Tepi Barat dan menduduki Yerusalem selama September lalu, bervariasi antara menyita dan meratakan tanah, membangun jalan, dan menyetujui pembangunan unit permukiman.

(T.NA/S: Palinfo)

leave a reply
Posting terakhir