Lembah Yordania, Wilayah Subur Palestina yang Hendak Direbut Israel

Sejak pendudukan tahun 1967, Lembah Yordania menjadi salah satu wilayah sengketa panas dalam konflik antara pendudukan Israel dan Palestina.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Wed,20 Jan 2021,01:05 PM

Golan, SPNA – Sejak pendudukan tahun 1967,  Lembah Yordania menjadi salah satu wilayah sengketa panas dalam konflik antara pendudukan Israel dan Palestina.

Israel sampai saat ini berupaya menguasai wilayah tersebut karena merupakan sumber pemasukan penting bagi Tel Aviv terutama di bidang pertanian. Di lain pihak, Palestina berusaha mempertahankan agar wilayah itu tak jatuh ke tangan Israel.

Hasrat Israel untuk menguasai Lembah Yordania semakin terlihat jelas dalam empat tahun terakhir, yaitu sejak Donald Trump dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat tahun 2016 lalu.

Trump terang-terangan mengeluarkan kebijakan menguntungkan Israel melalui “Kesepakatan Abad Ini” serta memberikan lampu hijau bagi Tel Aviv untuk melakukan aneksasi terhadap wilayah Palestina.

Israel secara terstruktur menerapkan langkah-langkah guna mencengkram Lembah Yordania dan menjadikannya wilayah Yahudi.

Lembah Yordania adalah wilayah yang terbentang dari kota Beit She’an hingga Safed di utara, dari Ein Gedi hingga Negev di selatan, dan dari tengah Sungai Jordan hingga lereng timur Tepi Barat di bagian barat.

Daerah ini membentang di sepanjang Tepi Barat, dan sebagian besar merupakan lahan pertanian yang subur dan mencakup banyak ruang terbuka dengan sedikit populasi.

Pentingnya wilayah ini terletak pada fakta bahwa Lembah Yordania lebih rendah dari permukaan laut, menjadikannya salah satu wilayah yang paling subur.

Lembah Yordania terbagi menjadi tiga wilayah utama,  tengah, utara dan selatan. Tercatat jumlah populasi Palestina disana mencapai 65.000 jiwa, berdasarkan laporan Pusat Penelitian Abdullah Al-Haurani.

Lembah Yordania selatan mencakup Kegubernuran Yerikho dimana populasi Palestina mencapai 52.000 jiwa .

Bagian tengah, masuk ke wilayah provinsi Nablus dan mencakup beberapa desa-desa diantaranya Beit Hassan, Ain Shibli, Nasariyah, dan lain-lain. Populasi  Palestina di wilayah ini mencapai 6.000 jiwa. Sementara itu populasi Yahudi di seluruh Lembah Yordania mencapai 11.000 jiwa.

Bagian utara masuk ke Provinsi Tubas. Seluruh wilayahnya masuk ke dalam Area C yang berada dibawah kendali Israel.

Sejak pendudukan dimulai hingga akhir 2020 silam, Israel tercatat telah membangun 36 permukiman ilegal dan 22 pangkalan militer.

Disamping itu, Israel juga mencaplok sejumlah wilayah untuk digunakan sebagai lokasi latihan militer. Bisa disimpulkan bahwa 80% wilayah Lembah Yordania saat ini berada di bawah kendali Israel.

Pendudukan terhadap Lembah Yordania lebih fokus dengan pembangunan lahan pertanian. Hal ini karena lembah tersebut adalah wilayah yang subur dan menjadi sumber penghasilan pertanian dan peternakan bagi Israel.

Laporan resmi yang dilansir sejumlah lembaga menyatakan bahwa Lembah Yordania mengalami perubahan buruk sejak pendudukan Israel.

Beberapa minggu setelah perang 1967, Israel menghancurkan 32 desa, akibatnya dari 320.000 keluarga Palestina yang pernah tinggal di sana, sebagian besar terpaksa mengungsi ke Yordania.

Khirbet Al-Hadidiyah merupakan salah satu desa yang menjadi korban penggusuran total dimana sebanyak 300 warga terpaksa mengungsi, meskipun beberapa keluarga ada yang kembali ke desa.

Menurut keterangan salah satu korban, Abdurrahim Basyarat Abu Saqr, Israel melalui kebijakan brutal berusaha menekan warga setempat untuk angkat kaki agar penduduk Yahudi dapat tinggal di sana.

Sampai tahun 1997, hanya ada 45 keluarga Palestina yang masih tinggal di Khirbet Al-Hadidiyah, namun saat ini hanya 13 keluarga yang masih bertahan.

“Warga terpaksa meninggalkan desa Al-Hadidiyah dalam satu dekade terakhir akibat penggusuran. Israel  melarang pembangunan sekolah dan pusat kesehatan serta melarang pembangunan jalan untuk warga Palestina. Lebih dari itu mereka menguasai sumber mata air. Kami terpaksa merogoh kantong hanya untuk membeli segalon air setiap hari,” terangnya kepada surat kabar resmi Palestina Wafanews.

Namun menurutnya, yang lebih membahayakan, adalah pembangunan pos permukiman secara massif, khususnya di lahan peternakan dan pertanian milik warga. Pos permukiman semakin bertambah semenjak tiga tahun terakhir.

Meskipun menghadapi ancaman dan harus hidup dalam kondisi krisis, namun Abu Saqr bersikukuh menolak pergi dari tanah kelahirannya.  Begitu pula dengan sebagian besar warga yang masih bertahan di Khirbet Al-Hadidiyah.

Berdasarkan laporan Gerakan Anti-Permukiman, sejak 2009 lalu Israel telah menggusur Khirbet Al-Hadidiyah sebanyak 19 kali, dan menghancurkan 119 bangunan.

Hal yang sama juga dialami warga Khirbet Mukhul, dimana tahun 1967 lalu didiami oleh 160 keluarga, lalu berkurang menjadi 60 keluarga saja di tahun 1968. Sayangnya sejak 2013, hanya 5 keluarga yang sanggup bertahan di sana.

Guna menghadapi ancaman pencaplokan Israel, Pemerintah Palestina mengambil langkah-langkah menghalangi penggusuran warga. Salah satunya dengan menyalurkan bantuan untuk warga Palestina serta menyediakan jaminan kesehatan gratis untuk seluruh distrik yang terancam digusur.

Pemerintah Palestina juga membangun  sekolah melalui kerjasama dengan Kementerian Pendidikan. Sebanyak Tiga unit sekolah berhasil dibangun tahun lalu. Palestina turut membangun dan merenovasi perumahan warga yang telah digusur oleh Israel melalui kerjasama dengan sejumlah perusahaan.

(T.RS/S:Wafanews)

leave a reply
Posting terakhir