Kepiluan Warga Masafer Yatta, Rela Hidup di Gua Demi Menolak Pendudukan Israel

Hidup di gua tanpa jaringan listrik, air dan limbah menjadi pilihan warga Masafer Yatta. Semua ini mereka lakukan demi menjaga tanah leluhur mereka dari pendudukan Israel.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Thu,28 Jan 2021,04:09 PM

Hebron, SPNA - Hidup segan, mati tak mau. Seperti itulah kondisi Harun Abu Aram yang terbaring lemah di ICU. Tiga pekan lalu pasukan pendudukan menembakkan peluru tepat di lehernya.

Awal tahun ini, 1 Januari, di kediamannya di kawasan Masafer Yatta, dekat Hebron, Tepi Barat yang diduduki, pria berusia 23 tahun itu berusaha menghalangi tetara yang hendak menghancurkan generator listriknya. Generator ini adalah satu-satunya sumber listrik bagi keluarganya.

Kasus Harun kemudian mencuat. Memicu kemarahan atas berbagai pelanggaran yang dilakukan pendudukan Israel. Penduduk Palestina di kawasan itu mengatakan bahwa serangan pada hari itu adalah bagian dari tindakan keras Israel terhadap warga Palestina di Masafer Yatta. Tindakan yang terus dilakukan untuk mengusir mereka dari kawasan itu.  

Penghancuran rumah, penyitaan infrastruktur dasar dan latihan militer adalah kenyataan sehari-hari yang bisa disaksikan di kawasan ini. Kondisi ini memaksa banyak penduduknya memilih hidup di gua, karena mereka telah bersumpah untuk tetap tinggal di Masafer Yatta, tak peduli apapun rintangannya.

 “Entahla, apakah saya akan melihat putraku hidup lagi. Ia masih berada di ICU, berbalut peralatan medis,” tutur ayah Harun, Fares Abu Aram, kepada Middle East Aye (MEE).

Harun akan segera menikah. Kepada Fares, dokter mengatakan, jika putranya cukup beruntung untuk bisa bertahan hidup, peluru yang telah menembus sum-sum tulang belakngnya akan membuatnya lumpuh.

“Saya hanya ingin melihat putraku hidup dan merayakan pernikahan yang selalu kami impikan,” ungkap pria 52 tahun ini.

Ini bukanlah pengalaman pertama Harun berhadapan dengan tentara Israel. Bahkan, 20 hari sebelum ia tertembak, rumahnya di al-Rakeez Masafer Yatta, bersama beberapa rumah warga lainnya, dirobohkan oleh otoritas Israel.

Masafer Yatta adalah kawasan yang terdiri atas sekelompok dusun Palestina. Sebagian besar penduduknya bekerja di bidang pertanian. Hari-hari mereka jalani tanpa jaringan air, listrik dan limbah. Sebabnya hanya satu. Ya, karena pendudukan Israel melarang mereka mambangun di kawasan itu. Di sisi berbeda, sejumlah permukiman ilegal Israel dengan mudahnya bisa berdiri

“Israel mengejar kami setiap hari. Mereka membuat hidup kami semakin sulit,” tutur Fares Abu Aram. “Semua ini agar kami tertekan dan meninggalkan kawasan warisan leluhur ini,” imbuhnya. Tapi, “Itu tidak akan terjadi. Tidak ada pilihan lain bagi kami, kecuali tetap bertahan di sini, sampai kami mati.”

Mainan di bawah Reruntuhan

Tidak jauh dari rumah Abu Aram, seorang bocah beusia delapan tahun asyik mencari blok-blok lego di antara reruntuhan rumahnya.

Adham namanya. Pada 30 September lalu, saat bocah ini berada di sekolah, pasukan dan Administrasi Sipil Israel –lembaga militer yang mengelola Tepi Barat-, mengevakuasi rumahnya di al-Rakeez.

Saat pulang, ia melihat rumah dan mainannya telah hancur.

 

“Saya punya banyak mobil-mobilan dan blok lego. Saya masih mencarinya setiap hari. Tapi tidak ketemu. Ada satu. Tapi, itu pun sudah hancur,” kisahnya pada MEE. “Saya bermimpi, tentara Israel kembali dan mengembalikan rumah kami.”

Sang Ayah, Murad Khalil al-Hamamda, duduk di antara reruntuhan rumahnya. Ia menyalakan rokok dengan gurat  kekhawatiran yang terbaca jelas di wajahnya.

“Pemerintah Isreal melakukan segalanya untuk menghadirkan para pemukim dan mengusir kami.” Sementara, “Pemerintah kami (Otoritas Palestina), mengabaikan dan meninggalkan kami sendiri dalam perjuangan ini,” ungkap pria 42 tahun itu.

Murad mengungkapkan, otoritas Israel mengkliam rumahnya, yang tia bangun tiga tahun lalu, berada di zona latihan militer.

“Tanah ini warisan nenek moyang kami. Kami pun memiliki surat-surat dan dokumen yang membuktikannya,” jelas Murad. “Mereka hanya berusaha mengusir kami dengan alasan pembangunan zona latihan militer. Sementara, mereka membiarkan para pemukim membangun dan memperluas permukiman.”

Saat ini, istri dan kelima anaknya tinggal di gua batu yang dingin dan lembab. Saat hujan turun, gua ini selalu banjir. Memaksa para orang tua bangun lebih awal agar anak-anak mereka yang sedang tidur tidak kebasahan.

“Saat ini kami hidup di gua dalam kondisi yang sulit. Semua ini agar kami tetap bisa bertahan di sini, tanah leluhur kami,” ujarnya. “Kami tidak akan pergi kemana pun, kecuali ke kuburan (mati).”

Pertarungan Hukum Berkepanjangan

Apa yang terjadi di al-Rakeez bukanlah kasus yang asing. Ada 12 komunitas Palestina di Masafer Yatta saat ini hidup dalam ancaman. Sebanyak 600 jiwa yang tersebar dalam empat komunitas menghadapi risiko penggusuran dalam waktu dekat, seperti diungkap ketua dewan masyarakat Masafer Yatta, Nidal Younis.

Kawasan Masafer Yatta memiliki luas sekitar 10.000 hektar. Lebih dari dua pertiganya diduduki oleh Israel pada 1967, yang memaksa penduduk Palestina mengungsi.

Kepada MEE Nidal menuturkan, sebanyak 3.500 hektar tempat tinggal warga Palestina saat ini diklasifikasikan sebagai zona militer tertutup atau Zona Tembak 918, sejak 1981.

Banyak komunitas Palestina di Area C Tepi Barat, yang sepenuhnya berada dalam kontrol Istael, menjadi “zona tembak” atau “zona militer tertutup. Di kawasan ini, warga Palestina dilarang tinggal tanpa izin otoritas Israel. Sesuatu yang sangat jarang, bahkan mustahil bisa diperoleh. Ini tentu saja memiliki dampak kemanusiaan yang serius terhadap warga sipil Palestina. Secara dramatis, langkah ini telah mengurangi lahan yang tersedia bagi warga Palestina, yang mereka gunakan sebagai tempat tinggal atau pun mata pencaharian.

Sejak 1980-an, kata Nidal, "secara bertahap tentara Israel meningkatkan tindakannya terhadap warga Palestina di Masafer Yatta."

Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas al-Fakhit, al-Tabaan, al-Majaz dan al-Halawa terlibat dalam pertarungan hukum. Pada Agustus tahun lalu, pengadilan Israel memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Administrasi Sipil Israel dan penduduk lokal Palestina untuk membahas masalah tersebut.

Namun, sejak itu, Administrasi Sipil justru meningkatkan pembongkaran rumah penduduk Masafer Yatta.

Haitham Abu Sabha, seorang aktivis dari al-Fakhit, mengatakan kepada MEE bahwa Israel mengklaim, warga Palestina baru datang ke Masafer Yatta pada 1980-an.

"Tapi kami memiliki dokumen yang mengkonfirmasi bahwa nenek moyang kami ada di sini sejak ratusan tahun lalu," kata Abu Sabha.

"Pada tahun 1999, empat (komunitas Palestina) diusir secara paksa. Tapi Mahkamah Agung Israel mengeluarkan perintah yang memperbolehkannya kembali. Namun tanpa menentukan cara untuk kembali, dan tanpa klausul yang mengizinkan untuk membangun infrastruktur apa pun," imbuhnya.

“Pada tahun 2012, keputusan ini dibatalkan. Warga Palestina pun kembali terancam penggusuran. Setiap bangunan sekarang terancam pembongkaran."

Pada tahun 2014, Administrasi Sipil Israel menawarkan kesepakatan yang memungkinkan komunitas Palestina untuk berkumpul hanya di area tertentu. Tujuannya tentu saja agar Masafer Yatta diubah menjadi zona militer.

"Kami menolak kesepakatan ini. Begitu pula kesepakatan penggusuran lainnya," kata Abu Sabha. "Kami tinggal di tanah yang diwariskan oleh nenek moyang kami."

“Kalaupun mereka merobohkan rumah kami, kami akan kembali tinggal di gua seperti nenek moyang kami dulu,” tambahnya.

Masafer Yatta tidak sendiri. Kata Nidal, daerah yang dikelilingi oleh "sabuk permukiman" dan tidak termasuk dalam Zona Tembak 918 pun kerap menghadapi gangguan pemukim Israel.

"Mereka mengejar para gembala Palestina, menculik dan memukulinya. Kemudian, menyerahkannya kepada tentara Israel. Di saat yang sama, mereka mencegah warga Palestina menggembala domba."

Di desa terdekat, Tuwani, para aktivis Palestina dari semua komunitas Masafer Yatta mendirikan Komite Perlindungan dan Ketahanan Rakyat pada 2018. Lembaga ini bertujuan untuk melawan kebijakan Israel yang mendorong pemindahan mereka.

“Komite ini dibentuk dengan dukungan para pemuda setempat. Tujuan utamanya untuk membentuk jaringan internal yang tidak terkait dengan badan eksternal mana pun,” Fouad al-Amor, seorang penduduk Tuwani berusia 35 tahun dan salah satu aktivis komite menuturkan kepada MEE.

"Lembaga ini berfungsi untuk memantau, mendokumentasikan dan melaporkan serangan (Israel), dan membentuk kelompok yang melawan serangan tersebut serta mendukung penduduk Palestina untuk  melakukannya."

Berlindung di Gua

Jaber al-Dababsa dan saudaranya Amer menyaksikan rumah mereka di dusun Khallet al-Dabaa dihancurkan pada tanggal 25 Oktober lalu.

Sejak itu, mereka sekeluarga pindah ke gua selebar 10 meter di dekat reruntuhan rumah mereka. Hal serupa telah dilakukan banyak warga yang rumahnya telah diratakan selama bertahun-tahun.

Dababsa, seorang ayah dari lima anak, memberi tahu MEE bahwa dia mulai membangun rumahnya seluas 90 meter persegi dari batu bata dan lembaran timah setahun lalu.

Ia tidak menerima perintah penghentian kerja atau pemberitahuan pembongkaran.

“Saya terkejut melihat kendaraan menyerbu tempat itu. Dimulai dengan menghancurkan rumah saya dan saudara saya, bahkan tanpa membiarkan kami mengeluarkan apa yang ada di dalamnya,” kenang pria berusia 35 tahun itu.

Dababsa menegaskan bahwa keluarganya memiliki dokumen yang membuktikan kepemilikan mereka atas tanah tersebut. Tapi "otoritas Israel menolak untuk mempertimbangkan dokumen-dokumen ini" karena mereka menganggap Khallet al-Dabaa berada dalam zona latihan militer.

“Saat ini anak-anak saya hidup dalam kondisi dingin dan kehilangan tempat tinggal. Kami terpaksa melakukannya, dan tidak ada tempat berlindung lain untuk kami,” tambahnya.

Kondisi kehidupan penduduk Khallet al-Dabaa menjadi lebih keras selama pelatihan militer Israel di daerah tersebut, yang berlangsung sekali atau dua kali setahun.

Saat itu, rumah-rumah warga Palestina diperiksa secara ketat. Semua pakaian hijau disita dengan dalih bahwa itu adalah warna seragam tentara.

"Meskipun berulang, ini bukanlah hal yang normal bagi kami dan anak-anak. Kami mengalami teror dan ketakutan selama pelatihan. Mendengar tembakan dan ledakan, serta suara pesawat militer yang mendarat atau terbang di daerah itu," kata Dababsa.

Saat latihan militer baru-baru ini di Khallet al-Dabaa, sebuah helikopter militer mendarat di dekat sekolah setempat, saat anak-anak sedang belajar dalam kelas.

Rayan Jaber al-Dababsa, putra Jaber Dababsa yang berusia 10 tahun, mendokumentasikan latihan militer yang ia saksikan.

“Ketika saya melihat pesawat, saya pikir mereka akan membom rumah kami dengan rudal dan membunuh keluarga saya,” tuturnya kepada MEE.

Sekolah Khallet al-Dabaa sebelumnya dihancurkan dan sekarang sekali lagi terancam pembongkaran.

Kepala sekolah Raed Hadeeb bersikeras bahwa pembongkaran sekolah yang mungkin akan kembali terjadi, tidak akan membuat ia, para guru dan 11 siswa di dua ruang kelas kecilnya itu menyerah.

“Sekolah mungkin akan dibongkar kapan saja. Kami juga bersiap menghadapi kesulitan untuk membangunnya kembali,” katanya kepada MEE. "Membongkar sekolah adalah bagian dari rencana mereka untuk mengusir warga dari wilayah ini."

 (T.RA/S: MEE/Shatha Hammad)

leave a reply
Posting terakhir

Pasukan Israel Intimidasi Acara Pengolahan Tanah di Masafer Yatta

Pasukan pendudukan dan pemukim Israel berusaha melakukan pelanggaran terus menerus terhadap penduduk Yatta dan al-Musafir. Mereka memaksa penduduk tersebut meninggalkan rumah dan tanah mereka, yang ingin dikendalikan pemerintah pendudukan Israel untuk kepentingan perluasan pemukiman ilegal Israel.