Tangkap 5 Anak Palestina yang Sedang Petik Sayuran, Israel Tuai Kemarahan

"Sebagai ayah Palestina, ini adalah salah satu mimpi terburuk Anda,” tutur ayah dari dua anak laki-laki yang ditangkap di perbukitan selatan Hebron kepada MEE.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Sun,14 Mar 2021,12:46 AM

Hebron, SPNA - Sebuah video tentara Israel bersenjata menangkap sekelompok lima anak Palestina di Tepi Barat yang diduduki telah memicu kemarahan luas dari para aktivis dan kelompok hak asasi manusia. Mereka memandang tindakan ini"sangat agresif".

Video tersebut direkam oleh peneliti lapangan bersama kelompok hak asasi manusia Israel B'Tselem di daerah Masafer Yatta di perbukitan selatan Hebron, Rabu (10/03/2021). Masafer Yatta merupakan rumah bagi puluhan kelompok desa dan daerah kantong Palestina, serta beberapa permukiman ilegal Israel dan pos-pos terdepan.

“Pada sore hari, saya menerima telepon yang mengatakan bahwa ada pemukim yang mengejar sekelompok pemuda Palestina di dekat desa at-Tuwani, dan saya harus pergi ke sana secepat mungkin,” Nasr Nawajaa, seorang aktivis lokal dan Peneliti lapangan B'Tselem mengatakan kepada Middle East Eye (MEE).

“Ketika saya tiba, ada puluhan tentara Israel bersenjata menarik anak-anak ke arah Jeep militer. Dan saya langsung mengambil kamera dan mulai memfilimkan,” kata Nawajaa.

Dalam video yang difilmkan oleh Nawajaa dan diterbitkan oleh B'Tselem, puluhan tentara Israel dengan perlengkapan tempur terlihat menarik anak-anak yang ketakutan dan mendorong mereka ke arah kendaraan militer.

Beberapa waga Palestina tampak berusaha campur tangan. Tetapi tidak berhasil. Pada satu titik, seorang anak laki-laki Palestina yang lebih tua terlihat mencoba menyelamatkan salah satu anak yang lebih belia. Saat itu dia justru ditangkap oleh tentara lain dan diseret bersama dengan kelompokanak tersebut tersebut.

“Anak-anak berteriak dan menangis. Mereka memohon kepada tentara untuk memanggil orang tua mereka dan menunggu sampai keluarga mereka tiba sebelum membawa mereka pergi,” kata Nawajaa kepada MEE.

Dia mengatakan tentara itu "sangat agresif" dengan anak-anak tersebut, yang berusia antara delapan hingga 13 tahun.

"Tentara memperlakukan anak-anak seperti penjahat yang kejam, seolah-olah mereka telah melakukan kejahatan besar," kata Nawajaa. Dia menambhakan pula menambahkan bahwa tentara "menarik anak-anak dengan paksa."

Menurut Nawajaa, anak-anak itu ditahan dan dibawa ke permukiman Israel terdekat di Kiryat Arba. Di sana mereka ditahan di dalam kendaraan militer dan diinterogasi selama beberapa jam, sebelum dibebaskan ke keluarga mereka pada malam hari.

“Ini hanya anak-anak yang tidak berbahaya, ancaman apa yang mungkin mereka berikan untuk membenarkan perlakuan ini?” Nawajaa bertanya.

Mereka hanya memetik sayuran

Penangkapan anak-anak tersebut telah menuai kemarahan luas, karena terungkap bahwa mereka sedang memetik sayuran dan tumbuhan liar ketika penangkapan itu terjadi.

Menurut Nawajaa, anak-anak itu sedang memetik sayuran liar yang disebut “akoub”, yang mekar di musim semi di Palestina.

“Banyak keluarga di Masafer Yatta hidup dalam kondisi sosial ekonomi yang buruk,” kata Nawajaa kepada MEE. "'Akoub dapat dijual dengan harga yang bagus di pasar Palestina.  Begitu banyak keluarga dan anak-anak mereka pergi memetik sayuran liar selama tahun ini untuk menghasilkan uang demi menghidupi diri mereka sendiri."

Nawajaa mencatat bahwa, sebelumnya Israel melarang pengambilan akoub. Undang-undang itu kemudian dicabut tahun lalu, menjadikannya legal dengan batasan 5kgs per orang di daerah tempat anak-anak itu berada.

“Tidak ada justifikasi hukum untuk penangkapan mereka,” kata Nawajaa.

Kelima anak-anak, yang semuanya sepupu tersebut, sedang memetik dan mengumpulkan akoub di pinggiran Havat Maon, sebuah permukiman Israel di selatan Hebron. Pemukim dari Havat Maon kemudian diduga mulai mengganggu dan mengejar anak laki-laki itu agar keluar dari daerah tersebut.

"Ini adalah sesuatu yang dilakukan para pemukim ketika mereka melihat orang-orang Palestina dekat dengan permukiman," kata Mohammad Abu Hmeid, ayah dari dua anak laki-laki kepada MEE. "Kadang-kadang mereka bahkan menembakkan peluru tajam ke arah gembala Palestina yang sedang merumput di daerah itu jika mereka terlalu dekat dengan permukiman."

"Aku lega karena anak-anak itu berhasil melarikan diri dari para pemukim. Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi pada mereka jika mereka tidak melakukannya," kata sang ayah.

Abu Hmeid mengatakan, anak-anaknya Jaber (13) dan Saqer (10) serta tiga sepupu mereka, melarikan diri dari pemukim. Mereka meninggalkan ember, tong, dan akoub mereka, berlari menuju rumah kakek mereka di dekat at-Tuwani.

Di sanalah sekelompok tentara Israel bersenjata mengejar anak laki-laki itu, dan mulai menangkap mereka.

Menurut kesaksian Abu Hmeid, yang menggemakan kesaksian Nawajaa, para pemukimlah yang diduga memanggil tentara Israel dan memerintahkan mereka untuk menangkap anak-anak itu. "Para pemukim menuduh anak laki-laki itu mencoba mencuri beberapa burung mereka, dan menghancurkan beberapa harta benda mereka," kata Abu Hmeid, menambahkan bahwa para pemukim "mengarang cerita hanya untuk menangkap dan mengintimidasi anak-anak itu."

"Yang mereka lakukan hanyalah memetik akoub, dan itu bukan kejahatan," kata Abu Hmeid, seraya menambahkan bahwa tentara menyita ember dan tong anak-anak tersebut, serta hasil panen mereka. “Mereka tidak menjadi ancaman bagi siapa pun. Mereka tidak melakukan kesalahan apa pun."

Interogasi, ancaman dan paksaan

Di Tepi Barat yang diduduki, warga Palestina hidup di bawah hukum militer Israel, dan ketika ditangkap, mereka dituntut dan diadili di pengadilan militer yang memiliki tingkat hukuman lebih dari 99 persen terhadap warga Palestina.

Sebagai perbandingan, pemukim Israel yang tinggal di Tepi Barat yang bertentangan dengan hukum internasional, justru pernah berhubungan dengan pengadilan militer.

Sementara hukum militer dan sipil Israel menetapkan usia minimum untuk bertanggung jawab pidana adalah 12 tahun, kelompok hak asasi Pertahanan untuk Anak Internasional - Palestina (DCIP) mengatakan bahwa pasukan Israel secara rutin menahan anak-anak Palestina yang lebih muda dari ini.

Menurut kelompok itu, Israel menahan sekitar 700 anak Palestina setiap tahun. Saat ini ada 168 tahanan "keamanan" anak di penjara Israel, dan pada tahun 2020, ada 27 anak yang ditahan di sel isolasi.

DCIP menggarisbawahi bahwa Israel telah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak (CRC), yang menetapkan bahwa anak-anak “hanya boleh dirampas kebebasannya sebagai upaya terakhir, tidak boleh ditahan secara tidak sah atau sewenang-wenang, dan tidak boleh menjadi sasaran penyiksaan dan perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat."

Menurut DCIP, Israel secara teratur dan sewenang-wenang menahan anak-anak Palestina, menjadikan mereka diinterogasi dalam waktu lama tanpa kehadiran orang tua, wali resmi, atau pengacara. Anak-anak sering dipaksa untuk menandatangani pengakuan palsu, dalam dokumen yang ditulis dalam bahasa Ibrani, bahasa yang kebanyakan anak Palestina tidak mengerti.

“Sejak saat penangkapan, anak-anak Palestina mengalami penganiayaan dan penyiksaan di tangan pasukan Israel. Tiga dari empat mengalami kekerasan fisik selama penangkapan atau interogasi,” kata DCIP.

Proses penangkapan dan penahanan yang dijelaskan oleh DCIP mirip dengan apa yang terjadi pada lima anak laki-laki di perbukitan Hebron, menurut kesaksian dari Nawajaa dan Abu Hmeid, yang mengklaim anak laki-laki tersebut diancam oleh tentara Israel selama interogasi mereka dalam upaya untuk memaksa mereka untuk mengakui kejahatan yang tidak mereka lakukan.

"Ketika anak laki-laki itu akhirnya dibebaskan, mereka sangat terkejut," kata Abu Hmeid. "Hanya setelah kami membawa mereka pulang dan mereka sedikit tenang barulah mereka mulai memberi tahu kami apa yang terjadi."

"Anak-anak saya memberi tahu kami bahwa para tentara itu menahan mereka berlima di dalam Jeep selama mereka ditahan, dan terus mengancam dan mengganggu mereka," kata Abu Hmeid.

Pada satu titik, tentara diduga memberi tahu anak laki-laki itu bahwa keluarga mereka telah ditangkap, dan jika mereka tidak mengaku mencoba mencuri dari para pemukim atau merusak properti mereka, tentara akan "memukuli mereka".

“Mereka melakukan segala yang mereka bisa untuk menakut-nakuti anak laki-laki dan membuat mereka mengaku,” kata Abu Hmeid, “tetapi anak laki-laki itu terus bersikeras bahwa mereka tidak bersalah dan tidak melakukan apa-apa.”

Dia menambahkan bahwa dua anak laki-laki tertua dalam kelompok itu, termasuk putranya Jaber, dipanggil untuk diinterogasi lagi dengan pasukan Israel pada hari Minggu.

Abu Hmeid memberi tahu MEE bahwa sementara tidak ada anak laki-laki yang disiksa secara fisik selama interogasi, gangguan mental yang dialami anak-anak tersebut "telah menimbulkan lebih dari cukup kerusakan."

"Mereka sangat ketakutan dan ketakutan, dan saya tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghibur mereka," kata Abu Hmeid. “Sebagai seorang ayah Palestina, ini adalah salah satu mimpi terburuk Anda. Dengan pendudukan Israel, kami bahkan tidak dapat melindungi anak-anak kami sendiri."

(T.RA/S: Palestine Online)

leave a reply
Posting terakhir