OCHA: Israel Tingkatkan Intensitas Penghancuran Rumah Warga Palestina

Dalam laporan terbarunya, OCHA merilis bahwa pada bulan Februari tahun ini otoritas pendudukan Israel menghancurkan, memaksa menghancurkan, atau menyita 153 bangunan milik warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Thu,18 Mar 2021,02:01 PM

Yerusalem, SPNA - Pada bulan Februari 2021, otoritas pendudukan Israel menghancurkan, memaksa menghancurkan, atau menyita 153 bangunan milik warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Ini adalah jumlah tertinggi keempat yang tercatat, sejak PBB mulai mendokumentasikan praktik ini secara sistematis pada tahun 2009.

Insiden yang terjadi dalam bulan ini mengakibatkan 305 orang mengungsi, termasuk 172 anak-anak, dan 435 orang terpengaruh mata pencaharian dan aksesnya ke berbagai layanan, kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di Wilayah Palestina (OCHA) dalam sebuah laporan yang dirilis pada hari Selasa (16/03/2021).

Kecuali dua bangunan di Tura al Gharbiya (Jenin), yang dihancurkan atau dirusak atas alasan hukuman, semua bangunan yang ditargetkan berlokasi di Area C atau Yerusalem Timur dihancurkan dengan dalih tidak memiliki izin mendirikan bangunan, yang hampir tidak mungkin diperoleh warga Palestina, kata OCHA.

Selama tahun 2021 ini, rata-rata bulanan bangunan yang ditargetkan meningkat 65 persen dibandingkan dengan rata-rata bulanan pada tahun 2020.

Dalam lima kesempatan terpisah di bulan Februari, komunitas penggembala Humsa - Al Bqai'a di Lembah Yordania (Tubas) utara menyaksikan penyitaan dan pembongkaran 82 bangunan oleh otoritas pendudukan Israel.

Hampir 80 persen bangunan yang ditargetkan adalah bantuan kemanusiaan, yang terdiri atas rumah, WASH (Air, Sanitasi dan kebersihan), dan bangunan yang digunakan sebagai mata pencaharian, dengan nilai setidaknya mencapai 43.000 euro.

Akibat dari lima kejadian tersebut, sekitar 60 orang, termasuk 35 anak mengungsi.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada 24 Februari setelah kunjungan ke Humsa - Al Bqai’a, Koordinator Kemanusiaan untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, Lynn Hastings, meminta otoritas pendudukan untuk "segera menghentikan semua pembongkaran rumah warga Palestina dan harta benda mereka, dan membolehkan komunitas kemanusiaan untuk menyediakan tempat berteduh, makanan dan air kepada kelompok yang paling rentan ini agar bisa tetap tinggal di rumah mereka."

Sejauh ini pada tahun 2021, lebih dari 50 persen bangunan yang ditargetkan berlokasi di komunitas Badui dan menggiring komunitas di Area C. Jumlah ini meningkat dari 31 persen pada 2020.

Badan tersebut juga mengatakan bahwa hampir 90 persen dari semua bangunan yang ditargetkan di Area C pada bulan Februari disita tanpa peringatan sebelumnya.

Ini merupakan peningkatan yang signifikan dibandingkan 30 persen pada tahun 2020, 11 persen pada 2017, dan delapan persen pada 2016.

Prosedur penyitaan tidak mewajibkan pihak berwenang untuk memberikan pemberitahuan sebelumnya, sehingga mencegah orang-orang yang terkena dampak untuk mengajukan keberatan dan Kepala Unit Pengawasan di ICA menandainya sebagai "alat strategis".

Sejauh ini pada tahun 2021, total 93 bangunan yang disediakan sebagai bantuan kemanusiaan telah dihancurkan atau disita oleh otoritas pendudukan Israel, dibandingkan dengan 157 bangunan pada tahun 2020. Selain itu, di Bruqin (Salfit), pemukim Israel menghancurkan, mencabut, atau mencuri bahan bangunan yang didanai donor yang nilainya mencapai 2.300 euro.

Sebuah keluarga beranggotakan tujuh orang terkena dampak insiden tersebut.

Sebanyak 15 bangunan dihancurkan di Yerusalem Timur: tujuh dihancurkan oleh Kotamadya Yerusalem dan tujuh oleh pemiliknya sendiri, menyusul dikeluarkannya perintah pembongkaran.

Insiden terbesar terjadi di Al 'Isawiya pada tanggal 22 Februari, di mana Kotamadya Yerusalem yang didampingi oleh Pasukan Israel menghancurkan sebuah bangunan tempat tinggal yang terdiri dari empat apartemen, dan menyebabkan 19 orang mengungsi, termasuk sepuluh anak-anak.

Keluarga yang terkena dampak telah membayar denda sejak 2017 untuk bangunan tanpa izin dan menerima perintah pembongkaran terakhir pada Juli 2020 serta peringatan lisan sehari sebelum pembongkaran. Bentrokan meletus selama insiden pembongkaran, di mana seorang pria Palestina terluka akibat terkena peluru karet.

Pada 10 Februari, otoritas pendudukan Israel dengan hukuman menghancurkan sebuah rumah di desa Tura al Gharbiya (Jenin), di Area B, milik seorang pria Palestina yang didakwa membunuh seorang wanita Israel pada 20 Desember 2020. Sebuah keluarga beranggotakan tujuh orang, termasuk empat anak, mengungsi. Selain satu, keluarga beranggotakan empat orang terlantar karena kerusakan tambahan akibat pembongkaran.

Komunitas-komunitas ini adalah beberapa yang paling rentan di Tepi Barat, yang tebatas dalam mengakses pendidikan, layanan kesehatan, serta infrastruktur air, sanitasi, dan listrik, kata lembaga tersebut.

(T.RA/S: QNN)

leave a reply